
Foto: 123RF
Saya sedang dekat dengan pria yang mengaku sedang mencari calon istri. Setelah mendengar reputasinya sebagai playboy, saya mencoba tak dibutakan kekaguman yang saya rasakan sejak kami berkenalan. Tapi, tiap kali kami bertemu, hati saya luluh kembali.
Viona – Jakarta
Saran Irma Makarim
Tiap orang bisa mempunyai pandangan berbeda mengenai cinta pada pandangan pertama. Pada kenyataannya, seseorang baru bisa merasakannya setelah mengalaminya.
Sementara itu, apa yang Anda alami saat ini tak lepas dari cara kerja otak. Bagian amygdala di otak mengeluarkan zat kimia yang memengaruhi perasaan dan perilaku emosional seseorang, sedangkan area otak di bagian belakang korteks berperan dalam pengambilan keputusan. Semua ini akan berpengaruh pada sikap seseorang dalam bereaksi terhadap suatu situasi, baik dalam hal mengelola emosi maupun menentukan pilihan yang rasional.
Perlu dipahami pula bahwa selain rasa cinta, perilaku, kebiasaan pasangan, dan kecocokan di antara Anda berdua akan ikut berperan untuk membangun hubungan yang serius. Untuk itu, Anda berdua perlu mengenal lebih dalam dan melihat bagaimana hubungan ini berkembang. Masukan dari kerabat bisa menjadi pertimbangan, dan dapat dijajaki dalam masa pendekatan. Tetapi, akhirnya keputusan ada di tangan Anda berdua, karena Anda berdualah yang akan menjalaninya.
Saran Monty Satiadarma
Anda mudah terbuai perasaan dan mengabaikan rasionalitas. Cinta memang tak rasional dan lebih banyak emosionalnya, tetapi kehidupan harus berjalan seimbang antara faktor emosional dan rasional. Anda mendengar reputasinya sebagai pria penakluk hati wanita, tetapi Anda membiarkan diri dimabuk kepayang. Anda tidak memiliki kewaspadaan terhadap gejolak emosional, tapi sebaliknya, terpukau oleh buaian keindahan emosi cinta. Meski sudah mendapat peringatan, diri Anda tetap luluh di hadapan sang penakluk. Bukan olehnya, melainkan oleh diri Anda sendiri. Anda menolak rasionalitas, dan menyerah pada emosi.
Akan lebih baik jika Anda mengenalnya dengan lebih baik sebelum terbuai perangkap asmara. Ketika Anda terbuai perangkap asmara, Anda sendiri pula yang menjalin buaian tersebut, karena semuanya adalah hasil karya angan-angan Anda. Tidak ada salahnya jika ingin membuai diri, sejauh Anda siaga dengan ragam konsekuensinya. Tidak ada salahnya pula bersikap lebih rasional, waspada dengan gejolak perasaan sesaat, sekaligus belajar mengendalikan diri dari fantasi yang melenakan. (f)
Baca juga:
- Komitmen Butuh Waktu, Perhatikan 4 Hal Berikut Saat Baru Jadian
- 3 Cara Menghindari Jebakan di Masa Lalu dalam Hubungan
- Tak Yakin Pasangan Berkomitmen untuk Hidup Bersama
Topic
#Sex&Relationship


