
Foto: Fotosearch
Hubungan cinta memang seharusnya membuat dua insan saling bahagia. Namun, ketika hubungan tersebut cenderung membuat stres, bisa jadi ada yang salah. Dan saat berusaha keluar dari hubungan yang tak berjalan lancer dengan memutuskan cinta, tak lantas menjadi perkara mudah. Terlebih bagi pihak yang memutuskan hubungan, harus siap menerima konsekuensi terburuk.
Menurut riset dari Brigham Young University dan University of South Alabama, sebagian besar orang memilih pendekatan langsung ketika menerima berita buruk, termasuk putus cinta. Jika disampaikan dengan terbuka dan jelas, berita buruk akan lebih mudah diterima. Seperti pengalaman Sahabat femina Lia (33, Ibu Rumah Tangga, Jakarta) yang sukses memutuskan hubungan dengan kekasih tanpa banyak ‘drama’. Berikut ceritanya:
Saya dan mantan kekasih, Bayu adalah rekan kerja. Meski begitu kami berbeda divisi. Kedekatan kami dimulai dari acara gathering kantor di Hong Kong. Saat itu, meski rombongan kami terdiri dari 30 orang, saya dan Bayu selalu duduk satu meja saat makan bersama. Yang awalnya kami hanya say hello saat berpapasan di lobi kantor, selama di Hong Kong, obrolan menjadi lebih intens. Bahkan saya didaulat untuk memilihkan oleh-oleh sebuah tas untuk ibunya.
Tak dipungkiri, Bayu memiliki wajah manis khas pria Jawa. Sikapnya pun sangat melindungi, pas dengan karakter saya yang cenderung manja sebagai anak bungsu. Sekembalinya dari Hong Kong, kedekatan kami berlanjut hingga beberapa bulan kemudian. Meski merasa nyaman berada di sisi Bayu, saya menyadari hubungan kami yang berbeda prinsip agama akan menemukan jalan yang berliku.
Tapi, cinta yang besar membuat kami akhirnya berpacaran. Setahun pertama hubungan kami, saya tidak berani memberitahukannya kepada ibu saya. Setiap kali Bayu datang ke rumah untuk menjemput, saya menyebutnya sebagai teman kantor. Lambat laun, ibu mencium juga kedekatan saya dan Bayu. Warning dari keluarga saya pun mulai berhembus kencang, meminta saya segera memutuskan hubungan.
Tapi semua itu tak saya gubris, bahkan hubungan kami berjalan hingga hampir lima tahun lamanya. Teman-teman kantor pun sudah mengenal kami sebagai pasangan ‘pacaran abadi’, karena beberapa teman yang usia pacarannya lebih muda, satu persatu naik ke pelaminan. Kondisi tersebut tidak membuat kami resah, yang menjadi kegelisahan terbesar saya lebih pada sikap keluarga yang semakin
keras menentang hubungan kami.
Menghadapi situasi penuh dilema ini, ada masa saya benar-benar merasa letih dan jenuh, ingin mengakhiri semuanya. Tapi kembali lagi, menjauh dari Bayu, atau berpikir ia akan menjadi milik wanita lain justru membuat hati saya sakit. Di lain sisi, Bayu sangat memahami kondisi saya yang tertekan dengan tuntutan keluarga. Ia memberikan kesempatan saya untuk berpikir baik-baik.
Pada titik ini saya mulai melihat kembali hubungan kami, bagi saya untuk selamanya keluarga tetap nomor satu. Satu hal yang akhirnya memantapkan tekad saya untuk segera move on dari hubungan tersebut. Berat memang, apalagi saya yang memutuskan Bayu, tapi keputusan yang sudah dibuat tidak mungkin saya tarik kembali. Bayu pun bisa memahami keputusan saya, karena sebenarnya posisi kami
sama-sama berada dalam tuntutan keluarga.
Masa tersulit justru setelah kami putus hubungan, karena sebagai rekan kerja, kami masih bertemu di beberapa kesempatan. Move on pun jadi lebih sulit. Tapi kami berdua harus profesional dengan fokus pada pekerjaan. Saya pun membatasi untuk bertemu hanya di saat-saat penting, seperti meeting. Kandasnya hubungan kami juga sempat menjadi perbincangan, tapis etiap kali ada yang bertanya saya memilih untuk tidak membicarakannya.
Seperti kata orang, patah hati merupakan saat tepat untuk mempelajari diri sendiri. Dalam kondisi ini, banyak hal yang saya renungi dan pelajari, terutama dalam menghadapi masalah.(f)
Baca juga:
Batasi Hubungan dengan Keluarga Pacar untuk Kurangi Drama Saat Putus
20 Tip Untuk Mengobati Sakit Hati
Saat Ragu dengan Masa Depan Bersama Kekasih, Lebih Baik Lanjut atau Bubar?
Faunda Liswijayanti
Topic
#putuscinta, #tipcinta


