
Foto: Fotosearch
Seperti kebanyakan wanita, memiliki pasangan yang usianya lebih tua atau seumur jadi bayangan ideal saya, Sissy (38, ibu rumah tangga) tentang pasangan. Tapi, seperti kata orang, cinta itu tak bisa diketahui kapan dan dari siapa ia akan datang.
Inilah yang saya rasakan ketika menerima cinta Ronny (35), pria yang kini menjadi suami saya. Saya dulu adalah klien suami. Saya bekerja di biro iklan, sedangkan suami bekerja di bagian post production sebagai editor online. Pertemuan kami terjadi karena urusan pekerjaan, kami sama-sama terlibat di satu proyek. Dari situ, hubungan terus berlanjut. Setelah berkenalan selama empat bulan dan bekerja sama di lebih dari dua proyek, hubungan kami makin dekat.
Saya pun lupa bagaimana ceritanya hingga akhirnya ia meminta saya menjadi kekasihnya. Tapi, saya menyetujuinya, karena di mata saya, ia sosok pria yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Saat pacaran, tidak tebersit dalam pikiran bahwa perbedaan usia akan membuat hubungan kami berjalan singkat. Bisa dibilang, saat pacaran, kami termasuk pasangan yang santai. Tidak ada target untuk segera menikah.
Saat itu usia saya memang baru 25 tahun dan kekasih 22 tahun. Masa pacaran kami bisa dibilang lama, 4,5 tahun, sebelum akhirnya menikah. Tahun 2005, tiba-tiba saya sadar bahwa umur saya sudah 28 tahun. Saat itu saya tanya langsung ke dia, ke mana arah hubungan kami, akan menikah atau
tidak. Saya katakan pula, kalau memang belum ingin menikah, sebaiknya hubungan diakhiri saja, karena saya ingin hubungan yang serius. Tapi, kalau mau menikah, berarti kami sudah harus siap-siap dengan target tahun depan.
Seperti tembak langsung, tapi saat itu saya memilih melakukannya karena hubungan kami juga sudah berjalan 4,5 tahun. Di usia yang terbilang muda, tentu pernikahan belum ada dalam target hidupnya. Saya sangat menyadarinya. Jika ingin meneruskan hubungan ini, memulai terlebih dahulu bukan masalah.
Terbukti, ia menyambut serius ajakan saya itu, hingga akhirnya kami menikah tahun 2006. Selama pacaran, perbedaan usia bukanlah jurang. Tidak ada masalah yang timbul karena hal ini. Apalagi saat itu kami sama-sama masih senang kumpul dengan teman-temannya. Kalau wanita lain mungkin akan enggan ikut berkumpul karena faktor usia, saya sebaliknya.
Seiring waktu, setelah menikah dan makin mengenal pribadi masing-masing, saya menyadari bagaimana pasangan berjuang dengan fase pendewasaan dirinya. Saat inilah kita harus bisa mengerti dan memakluminya. Apakah kemudian hal tersebut membuat saya merasa letih secara emosi? Rasanya tidak, karena saya selalu berusaha untuk siap berada di sampingnya, mendukung keputusannya dan menghadapinya bersama.
Menjalani rumah tangga ini, prinsipnya kami sama-sama belajar. Tidak ada yang lebih matang dibandingkan yang lain. Dengan cara ini, apa pun yang terjadi, kami berusaha menerimanya dengan baik. Selain itu, untuk membangun kepercayaan, kita harus yakin satu sama lain. Kalau mau percaya, ya, percaya saja. Jika kemudian kepercayaan itu dilanggar, ini menjadi sebuah proses belajar pasangan. Pastinya masing-masing harus siap untuk memaafkan. Memiliki pasangan atau suami yang usianya lebih muda memang dinamika hidupnya lebih beragam. Tantangannya, saya seperti memiliki anak sulung laki-laki, ha… ha… ha….
Dalam hal ini kami bisa membantu dengan memberikan pandangan. Justru dari sini kami saling mengenal lebih dalam karakter masing-masing. Misalnya, kalau suami sedang punya hobi baru, dia seperti punya dunia sendiri. Kalau sudah begini, saya sabar saja, lama-kelamaan juga bosan sendiri. Tapi jujur saja, menjalani rumah tangga selama 10 tahun, saya justru merasa hobi suami sebagai hiburan. Jeda bagi kami berdua dari rutinitas pernikahan.(f)
Baca juga:
Lebih Matang dari Suami, Ini Cara Saya Mengatasi Konflik
Ini Kiat Saya Menjaga Hubungan Awet dalam Pernikahan Beda Usia
Faunda Liswijayanti
Topic
#hubunganbedausia


