Sex & Relationship
Benarkah Lajang Lebih Bahagia?

23 Nov 2017


Foto: 123RF


Agustus lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan Indeks Kebahagiaan Indonesia 2017. Hasil penelitian terhadap 72.317 responden di 487 kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi menunjukkan beberapa hasil yang cukup mengejutkan. Salah satunya dan sempat ramai dibicarakan adalah soal tingkat kebahagiaan para single (mereka yang belum/tidak menikah) yang menurut data lebih tinggi dari mereka yang telah menikah.

Hasil penelitian ini pun mengundang perdebatan. Pasalnya, mereka yang setuju dengan fakta tersebut menganggap kebebasan dan kehidupan antidrama sebagai bumbu kebahagiaan. Sementara mereka yang tidak setuju menilai survei tersebut tak lantas bisa menjelaskan pernikahan tidak membuat seseorang bahagia.
 
Melajang Lebih Nyaman
“Saya nyaman dengan status lajang. Saya merasa lebih bisa mengatur diri sendiri, mengejar apa yang menjadi passion saya, dan juga bisa berbuat lebih banyak untuk ibu dan ketiga adik saya,” kata Irene (38), yang bekerja di Divisi Riset sebuah BUMN.

Bagi Irene, melajang adalah soal pilihan. Ia memilih tidak menikah karena terlanjur nyaman dengan apa yang ia miliki dan rasakan sekarang. Menikah, katanya, tidak masuk dalam daftar prioritasnya. Ia merasa lebih bahagia ketika bekerja, dan merasa lebih senang ketika melakukan hobi traveling-nya.

 “Mungkin karena jiwa saya yang bebas dan tak mau diatur,” katanya seraya tertawa. Segudang kesibukan, mulai dari bekerja, menekuni hobi lari dan yoga, mengurus ibunda tercinta, sekaligus membiayai sekolah adik-adiknya, menjadi alasan ia tidak ingin menikah.

Selain itu, menurut Irene, ia tidak suka terlalu banyak ‘drama’ dalam hidup. “Saya fokus dan menikmati apa yang saya kerjakan dan lakukan, dan sepertinya, hal ini agak sulit dilakukan jika saya menikah,” katanya lagi. Mandiri, menurutnya, adalah pilihan, karena dengan hidup mandiri ia justru merasa bisa berbuat lebih banyak pada orang-orang yang ia kasihi.

Apa yang dikatakan Irene mungkin mewakili pilihan melajang kebanyakan wanita. Apalagi menurut psikolog dari University of California, Bella DePaulo, Ph.D., dalam Psychology Today, 71% wanita lebih berbahagia dengan kehidupan pertemanannya saat mereka menjadi lajang.

Sementara itu, dr. Laeli Andita, Sp.KJ, M.Kes., dokter ahli jiwa di RSUD Cibinong dan RSU Hasanah Graha Afiah, mengatakan ada beberapa alasan mengapa wanita memilih tidak menikah. Pertama, karena sifat individualnya semakin tinggi, apalagi ketika usianya sudah melewati angka 30 tahun. Ia terbiasa mandiri, lebih nyaman melajang sehingga tidak merasa bahwa menikah itu perlu. “Jadi menikah atau tidak, hanyalah sebuah pilihan. Sehingga banyak wanita kemudian justru merasa bahagia karena melajang,” kata dr. Laeli.

Kedua adalah tingginya tingkat pendidikan dan karier. Para wanita ini asyik saat kuliah S1, disusul S2, bahkan S3. Belum lagi asyik dengan kariernya, sehingga ketika semua itu tercapai, biasanya usia mereka sudah melewati angka 30 tahun. Pada akhirnya mereka kemudian memilih tenggelam kembali pada pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan hasil PEW Research tahun 2014 yang menyebutkan, para lajang yang saat ini berusia 35 tahun akan menjadi lajang selamanya.(f)

Konsultan: dr. Laeli Andita, Sp.KJ, M.Kes., dokter ahli jiwa di RSUD Cibinong dan RSU Hasanah Graha Afiah

Baca juga:
Rindu Masa Lajang Setelah Menikah
Tak Perlu Malu Melajang, Wanita Berhak Menentukan Hidupnya Sendiri
5 Tipe Wanita Single


Topic

#single, #lajang

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?