Foto: Dok. Teater Koma
Masih ingat dengan pertunjukan Semar Gugat pada bulan Maret lalu? Setelah sukses dengan pertunjukan tersebut, kini Teater Koma kembali hadir untuk menghibur para pencinta seni. Kali ini lakon berjudul Opera Kecoa siap ditampilkan.
Berdasarkan rilis yang femina terima, Opera Kecoa berkisah tentang orang-orang kecil yang menghadapi kenyataan keras. Perjuangan seorang bandit kelas teri, Roima, yang sedang berada di persimpangan jalan. Dia tertarik kepada Tuminah, seorang pekerja seks komersial, meski sudah punya pacar, Julini si waria. Ketiga orang ini dan tokoh-tokoh lainnya melakoni perjuangan hidup yang hanya punya dua risiko: jadi ada atau tersingkir.
Nasib baik jarang memihak mereka. Tempat mereka seperti sudah digariskan: gorong-gorong, di dalam got, di kolong jembatan, di kawasan kumuh yang jorok, yang gelap dan berbau busuk. Uniknya, ketika ada kawasan tempat tinggal orang-orang kecil dimakan api, selalu timbul dua pertanyaan, terbakar? atau dibakar? tak ada yang bisa menjawab. Semua gelap. Seperti masa depan mereka.
Lakon karya N. Riantiarno ini pertama kali dipentaskan Teater Koma pada tahun 1985 di Graha Bhakti Budaya, Jakarta. Pada tahun 1990, lakon ini dilarang pentas di Gedung Kesenian Jakarta dan tidak diberi ijin pentas keliling ke Jepang. Kemudian di tahun 1992, dipentaskan dengan judul Cockroach Opera oleh Belvoir Theatre di Sydney, Australia. Akhirnya, lakon ini dipentaskan lagi di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 2003. Kini, di tahun 2016, Teater Koma memanggungkan lagi lakon ini di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, tempat lakon ini pertama kali dipentaskan.
"Lakon Opera Kecoa kembali kami hadirkan di Graha Bhakti Budaya. Berkisah tentang perjuangan kaum minoritas yang hidup menderita, berhimpit-himpit dalam lorong gelap di balik kemegahan gedung tinggi, mencari keadilan dari para pemimpin. Pertunjukan sarat makna ini, kami tampilkan dalam bentuk nyanyian dan gerak khas Teater Koma. Setelah 31 tahun semenjak pentas pertama, ternyata lakon ini masih bisa menjadi potret keadaan masa kini. Semoga penonton dapat mengambil pesan moral yang berusaha kami sampaikan dalam lakon ini," tutur Nano Riantiarno, penulis naskah dan sutradara Teater Koma.
Pementasan Opera Kecoa tahun 2016 ini didukung oleh Ratna Riantiarno, Budi Ros, Rita Matu Mona, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Daisy Lantang, Sri Yatun, Ratna Ully, Raheli Dharmawan, Julius Buyung, Ina Kaka, Ledi Yoga, Dodi Gustaman, Sir Ilham Jambak, Bangkit Sanjaya, Rangga Riantiarno, Adri Prasetyo, Tuti Hartati, Bayu Dharmawan Saleh, Didi Hasyim dan Joind Bayuwinanda.
Produksi ke-146 ini akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta mulai dari tanggal 10 - 20 November 2016 dengan harga tiket masuk sebagai berikut:
- Weekend (Jumat – Sabtu – Minggu): Rp 400,000 | Rp 325,000 | Rp 250,000 | Rp 150,000
- Weekday (Selasa – Rabu – Kamis): Rp 300,000 | Rp 225,000 | Rp 150,000 | Rp 100,000
- Senin Nomat: Discount 20%
Info pembelian tiket: 021-7359540 / 021 – 7350460, 082122777709, dan www.teaterkoma.org (f)
Baca Juga:
Baca Juga:
- Semar Gugat, Awal Kehancuran Amarta
- Pertunjukan Teater The Musketeers, Kisah Paris di Ambang Kehancuran
- Pementasan Bunga Penutup Abad, Mengenang 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya Ananta Toer
Topic
#teater


