Celebrity
Shandy Aulia: Eksis selama satu dekade

25 Dec 2013


Berantem dengan teman laki-laki, mengambil ikan-ikan kecil di kolam dekat rumah, hingga sering kabur karena tidak mau tidur siang merupakan kebiasaan Shandy Aulia semasa kecil. “Saya anak yang aktif dan sedikit tomboi, walau sangat senang berpakaian seperti putri dalam dongeng,” kenang wanita kelahiran Jakarta, 23 Juni 1987, ini.

    Di usia 14 tahun, kariernya di dunia seni peran dimulai. Itu pun secara tak sengaja. Selagi berbelanja di sebuah mal dengan kakaknya, seorang pria dan wanita menghampirinya dan menawarinya untuk menjadi model iklan. Karena merasa tidak berbakat, ia pun langsung menolak tawaran itu. Namun, kedua orang itu terus mengikuti dan merayu Shandy. “Karena kasihan, kakak saya membujuk saya untuk menerima tawaran mereka,” kisahnya.

Di hari yang sama, Shandy dibawa ke salah satu perusahaan periklanan. Dalam keadaan bingung, ia mengikuti casting. Siapa sangka, keesokan hari ibunya membawa kabar bahwa  ia lolos casting.

“Iklan pertama saya adalah sebuah produk deodoran yang dibuat empat versi. Kesan pertama saat syuting sangat menegangkan.  Perasaan saya campur aduk! Malu, gelisah, takut, dan ingin sekali kabur dari lokasi karena saya sangat tegang,” katanya, mengenang.

Hal yang lucu pun terjadi. Ibunya, kata Shandy, lalu menakut-nakuti Shandy supaya ia tidak pulang, sebab kalau pulang ia bisa dituntut hukum karena menyalahi kontrak. Sebagai remaja yang masih polos, ia pun mengurungkan niat untuk pulang. “Saya takut dipenjara,” ujarnya, tertawa.

Sukses dengan iklan pertama, tawaran main film dan sinetron lalu mengalir kepada anak bungsu dari empat bersaudara ini. Hingga pada suatu hari di bulan Juni 2002, ia mendapat telepon dari sebuah rumah produksi yang menawarinya ikut casting film Eiffel I'm in Love. Lagi-lagi, Shandy menolak tawaran itu, dan kali ini keputusannya didukung ibunya. Elsye takut, syuting  film akan mengganggu sekolah anaknya.

Namun, lagi-lagi sang kakak yang melunakkan hati Shandy dan ibunya. “Kakak berhasil meyakinkan Ibu sehingga akhirnya saya diizinkan ikut casting,” ujarnya. Melalui beberapa tahap, ia pun terpilih di antara 5.000 orang yang telah casting untuk memerankan tokoh Tita dalam film garapan sutradara (alm) Nasri Cheppy itu. Film yang rilis tahun 2003 itu mendapat sambutan hangat. Ditonton oleh 4 juta orang di Indonesia hingga ke beberapa negara tetangga.

Melihat respons positif masyarakat terhadap film perdananya, Shandy pun mulai menyukai dunia peran. “Siapa pun pasti akan makin menyenangi suatu pekerjaan bila sudah melihat hasilnya,” katanya. Baginya, dunia peran merupakan pekerjaan yang menantang karena harus memerankan karakter orang lain.

Tapi Shandy memilih hanya berakting di layar lebar. Alasannya, waktu itu ia masih duduk di bangku SMP. Ia meyakini, dengan main film tidak akan mengganggu waktu belajar dan sekolah, karena waktu pembuatan film lebih singkat daripada sinetron. Namun, seiring perjalanan waktu, ia pun mulai menjajal sinetron dan FTV (film televisi). Kini, selama 1 dekade menggeluti dunia peran, ia sudah berakting dalam 6 film dan berbagai sinetron serta FTV.(DESIYUSMAN MENDROFA)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?