Seni Pertunjukan
6.000 Penari Akan Tampil Dalam Hari Tari Sedunia 2019 di Solo

26 Apr 2019


Foto: DES

Mengingat minimnya pelestarian budaya menari, maka pada tahun 1982 lalu, muncullah Hari Tari Sedunia (World Dance Day) yang dicanangkan oleh Lembaga Tari Internasional (Counseil International de la Danse). Tujuannya yakni untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi dalam menampilkan beragam tarian negara mereka masing-masing.

Di Indonesia sendiri, Hari Tari Sedunia pertama kali dirayakan di Solo, Jawa Tengah pada tahun 2006 lalu. Acara ini dirayakan dengan mengadakan pagelaran menari selama 24 jam penuh yang menampilkan beragam tari dari berbagai daerah.

Tahun ini, ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta kembali menunjukan eksistensinya melalui penyelenggaraan kegiatan World Dance Day 24 Jam Menari yang ke-13. Acara ini digelar pada 29-30 April 2019 pukul 06.00 - 06.00 WIB.

Pengunjung dapat menikmati 600 jenis tari yang ditampilkan oleh sekitar 175 grup tari secara gratis. Ada pula penampilan khusus yang dilakukan oleh 6 orang penari yang berasal dari Bali, Kalimantan, dan Jawa. Dimana mereka menari nonstop selama 24 jam.

Penyelenggaraan World Dance Day ini diharapkan dapat menjadi ruang apresiasi berbagai macam seni tari yang ada di Indonesia. Menampilkan kesenian rakyat, kesenian modern sampai kesenian ritual. 

Beberapa negara juga ikut berpartisipasi yaitu Perancis, Philipina, dan Australia. Pengunjung juga dapat menikmati Gelar Karya Tari Keraton, Gelar Karya Tari Empu yang dimeriahkan oleh penampilan Empu seperti Wied Senjayani yang dikenal sebagai tokoh penari balet, dan Wahyu Santoso Prabowo dengan tari Jawa khas gaya tari halus Surakarta.

Sanggar Jawa Jawi Java yang berpusat di Jakarta ikut terlibat dalam acara ini, menampilkan tari Bedhaya Pangkur yang merupakan tarian asli dari Kraton Solo oleh sembilan orang penari. Keseluruhan penari yang berjumlah 9 orang dipercaya merupakan angka sakral yang melambangkan sembilan arah mata angin. 

Untuk tampil pada World Dance Day 2019 ini, sanggar Jawa Jawi Java telah berlatih sejak bulan Agustus 2018 lalu, sekali dalam seminggu di bawah arahan pelatih tari, Nuk Sri Lestari.   

“Menyatukan rasa antara penari yang satu dengan penari lainnya merupakan salah satu tantangan selama berlatih. Karena untuk merasakan makna tari yang sebenarnya, seorang penari harus menari dengan sungguh-sungguh dan menghayatinya,” kata Nuk.

Nuk mengungkapkan, sanggar yang terbentuk sejak 2008 ini sudah mulai berpartisipasi World Dance Day yang selalu digelar Solo, Jawa Tengah sejak tahun 2014 lalu dengan menampilkan tarian yang berbeda-beda.

Tentunya, World Dance Day ini bisa menjadi ajang apresiasi seni tari dan pengembangan kreativitas sekaligus sebagai aset wisata budaya, menguatkan spirit berbangsa, serta menjalin rasa kesetaraan, kebersamaan dan toleransi melalui dunia tari, serta mengokohkan jati diri budaya bangsa, khususnya dunia tari, sebagai acuan dalam pengembangan budaya menuju dunia global. (f)

Baca Juga: 
Cerita Empat Wanita Di Perayaan Hari Perempuan Internasional

Trend Warna Rambut 2019, Rainbow Melting

 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?