“Ayo Sjahrir, kita foto dulu,” kata Lukman Sardi kepada Tanta Ginting sambil menunjuk ke poster Negeri Tanpa Telinga, saat CC ingin mengabadikan keduanya usai press screening film Negeri Tanpa Telinga, beberapa waktu lalu di Djakarta Theatre.
Dengan akrab keduanya berangkulan dan berpose. Ini adalah pertemuan ketiga mereka, setelah drama musikal Laskar Pelangi dan Soekarno: Indonesia Merdeka. Kepada CC, Tanta mengaku sangat ngefans dengan Lukman Sardi. Ketika keduanya bisa bermain bersama kembali, Tanta mengaku senang dan bersemangat sekali.
Bahkan Lukman Sardi diakui Tanta memberikan saran-saran personal untuk karakternya di Negeri Tanpa Telinga. Pengen tahu, seberapa dekat Lukman dan Tanta dan pengalaman pemeran Sjahrir ini di film terbarunya? Simak percakapan CC dengannya!
Cita Cinta (CC): Bagaimana kesannya bermain di film Negeri Tanpa Telinga?
Tanta Ginting (TT): Sebenarnya saya aslinya lebih cocok ke film komedi ketimbang serius hehehe…
CC: Bisa cerita karakter yang dimainkan di film ini?
TT: Saya berperan sebagai Mr. Marmood, bendahara Partai Martobat. Uniknya di sini si Mr. Marmood ini berasal dari Medan, jadi dialeknya Batak, saya harus menghafal kapan turun dan naik vokal biar konsisten hehehe…
CC: Anda diminta berperan sebagai Mr. Marmood karena Anda Batak?
TT: Hehehe…nggak juga lagipula saya juga Batak Karo. Justru malah ketika saja diajak main, saya belum tahu bakal bermain sebagai apa. Ketika akhirnya saya diminta memerankan Mr. Marmood, nggak ada dalam cerita awal kalau Mr. Marmood ini orang Batak.
CC: Wah! Jadi?
TT: Iya, jadinya saya improvisasi sendiri. Gimana supaya Mr. Marmood ini unik dan jadilah seperti itu hehehe…. Saya juga cerita ke Lukman Sardi, gimana kalau Mr. Marmood dibikin kayak gini, dia setuju banget, hehehe….
CC: Ketika nonton Negeri Tanpa Telinga dan melihat karakter Mr. Marmood, CC jadi teringat pada anggota sebuah partai yang punya dialek sama dan karakternya juga mirip banget hehehe…
TT: Wah, siapa tuh…hehehe…nggak sengaja dimirip-miripin kok, hehehe
CC: Nggak takut nih kalau ‘beliau’ melihat dan protes?
TT: Wah, kalau merasa tersindir berarti benar dong, hehehe. Nggaklah, ngapain juga takut, ini hanya film. Apa yang kami sampaikan di film ini belum ada apa-apanya. Fakta sebenarnya lebih parah lagi.
CC: Film ini mengangkat tema politik, apakah Anda mengamati dan mengikuti politik Indonesia?
TT: Kalau dibilang ngikutin nggak juga sih, hidup saya udah ribet hehehe…mengamati aja sih….
CC:Bagaimana tanggapan Anda mengenai pilpres kemarin?
TT: Sejujurnya saya bangga dengan pilpres kemarin. Sudah banyak orang Indonesia yang sadar akan kewajibannya mencoblos. Terbukti dari minat masyarakat untuk ikut pemilu. 14 tahun saya tinggal di Amerika, saya belum pernah melihat antusias orang-orang Indonesia di sana untuk nyoblos. Teman-teman saya di Amerika sampai heboh, bersemangat ikutan pemilu sampai-sampai kekurangan kertas suara juga di sana.
CC: Negeri Tanpa Telinga juga menyinggung isu politik yang terjadi saat ini di Indonesia…
TT: Iya, seperti yang saya bilang tadi, apa yang disampaikan di Negeri Tanpa Telinga hanya sebagian kecil dari apa yang terjadi di negara kita. Harapan saya, kita semua jangan bersikap nggak mau tahu dengan apa yang terjadi di sekitar. Jangan cuma ngomel dan marah-marah, kita juga harus mengambil peran.
CC: Bermain kembali dengan Lukman Sardi, bagaimana perasaannya?
TT: Wah, senang banget! Dia itu inspirasi saya. Sebelum saya terjun di dunia akting, saya sudah menonton film-filmnya. Saat dia main di Gie kemudian Quickie Express, hebat dia bisa juga main komedi. Ketika saya pertama kali kami bertemu di drama musikal Laskar Pelangi, saya langsung peluk dia dan bilang, “Gue ngefans banget sama Lo!”
CC: Bagaimana dengan Ray Sahetapy?
TT: Om Ray juga baik dan bersikap sangat wajar. Walaupun dia senior, ketika diskusi dan ngobrol, dia menempatkan posisi kita sejajar dengan dia.
CC: Sudah ada tawaran-tawaran film yang lain?
TT: Ada sih, beberapa tapi belum ada yang benar-benar pasti, masih tahap obrolan. Yang sudah pasti itu The Night Comes for Us. Saya deg-degan nih, soalnya ini film action pertama saya, belum tahu juga main action-nya bakal bagaimana. Mulai produksinya Oktober.
CC: Ke depannya peran-peran seperti apa yang ingin Anda mainkan?
TT: Saya mau mencoba semua peran, action iya, komedi apalagi, seperti Lukman Sardilah, menjajal semua peran hehehe…
CC: Kalau romantis?
TT: Wah ini….agak susah kayaknya soalnya saya nggak ada tampang romantis sama sekali hahaha…
Ester Pandiangan
Psst, mau tau curhat Tanta soal cinta? Baca di Cita Cinta No.18 yang edar 5 September nanti, ya!
