Di balik kesibukannya Christian Sugiono selalu menyempatkan diri melakukan hobinya yang ‘nggak biasa’, yaitu memantau langit. Sejak usia 20-an Tian mengaku mulai menyukai astronomi. Rasa penasarannya terhadap galaksi memotivasi Tian untuk mendalami hobi ini.
“Pada dasarnya saya suka ilmu pengetahuan. Astronomi menarik karena membahas hal-hal yang mungkin tidak akan pernah kita lihat ataupun rasakan secara langsung, karena skala kosmos yang sangat besar, hanya bisa diterka dan dihitung melalui ilmu pengetahuan dan digambarkan dengan ilustrasi,” ujar Tian.
“Waktu kecil saya hanya mengetahui hal-hal itu dari gambar, foto, atau film dan video tentang universe. Saya selalu penasaran apa benar matahari kita bentuknya seperti itu? Apa benar planet Saturnus ada cincinnya? Apa benar permukaan Bulan nggak rata? Saya ingin melihat hal itu secara langsung dengan mata kepala saya sendiri. Ketika saya bisa melihat secara langsung, saya jadi percaya dan bisa merasakan skala universe dan merasa bahwa kita sebagai manusia itu hanya makhluk kecil saja,” ujar Tian excited.
Untuk mendukung hobinya, Tian harus memantau kalender astronomi setiap tahun. Nggak tanggung-tanggung, Tian juga rela merogoh kantongnya untuk membeli peralatan ‘pemantau’ langit, seperti teleskop dan kamera khusus.
“Saya beli teleskop empat tahun lalu, Celestron Nexstar 130SLT untuk amatir. Sengaja saya beli karena sejak dulu pengin punya. Tapi nanti saya ingin punya teleskop yang lebih besar. Tentunya saya harus banyak berlatih menggunakan teleskop yang lebih kecil dulu.
Selain teleskop Tian juga membeli mount kamera untuk mengabadikan gambar melalui smartphone-nya sehingga bisa langsung dibagikan ke media sosial. Namun Tian mengaku untuk mendapatkan hasil maksimal dalam memotret benda langit diperlukan keahlian khusus, baik dari teknik fotografi dan jenis kamera yang digunakan. Karena itu, Tian nggak pernah berhenti belajar mengeksplor teknik fotografi yang disebut astrophotography.
Untungnya, hobi ‘mahal’ Tian ini selalu didukung sang istri. Bahkan Tian mengaku sering mengajak Titi untuk mengamati bulan dan bintang. “Dia cukup excited bisa melihat benda langit terasa melihat dari dekat,” ujar Tian.
Duh, romantisnya…
“Pada dasarnya saya suka ilmu pengetahuan. Astronomi menarik karena membahas hal-hal yang mungkin tidak akan pernah kita lihat ataupun rasakan secara langsung, karena skala kosmos yang sangat besar, hanya bisa diterka dan dihitung melalui ilmu pengetahuan dan digambarkan dengan ilustrasi,” ujar Tian.
“Waktu kecil saya hanya mengetahui hal-hal itu dari gambar, foto, atau film dan video tentang universe. Saya selalu penasaran apa benar matahari kita bentuknya seperti itu? Apa benar planet Saturnus ada cincinnya? Apa benar permukaan Bulan nggak rata? Saya ingin melihat hal itu secara langsung dengan mata kepala saya sendiri. Ketika saya bisa melihat secara langsung, saya jadi percaya dan bisa merasakan skala universe dan merasa bahwa kita sebagai manusia itu hanya makhluk kecil saja,” ujar Tian excited.
Untuk mendukung hobinya, Tian harus memantau kalender astronomi setiap tahun. Nggak tanggung-tanggung, Tian juga rela merogoh kantongnya untuk membeli peralatan ‘pemantau’ langit, seperti teleskop dan kamera khusus.
“Saya beli teleskop empat tahun lalu, Celestron Nexstar 130SLT untuk amatir. Sengaja saya beli karena sejak dulu pengin punya. Tapi nanti saya ingin punya teleskop yang lebih besar. Tentunya saya harus banyak berlatih menggunakan teleskop yang lebih kecil dulu.
Selain teleskop Tian juga membeli mount kamera untuk mengabadikan gambar melalui smartphone-nya sehingga bisa langsung dibagikan ke media sosial. Namun Tian mengaku untuk mendapatkan hasil maksimal dalam memotret benda langit diperlukan keahlian khusus, baik dari teknik fotografi dan jenis kamera yang digunakan. Karena itu, Tian nggak pernah berhenti belajar mengeksplor teknik fotografi yang disebut astrophotography.
Untungnya, hobi ‘mahal’ Tian ini selalu didukung sang istri. Bahkan Tian mengaku sering mengajak Titi untuk mengamati bulan dan bintang. “Dia cukup excited bisa melihat benda langit terasa melihat dari dekat,” ujar Tian.
Duh, romantisnya…


