Nggak main-main, Laura Basuki dan Rio Dewanto mengelola bank! Namun, hal ini hanya terjadi dalam film Love & Faith. Mereka berdua sama-sama excited dengan peran mereka. Pasalnya banyak pelajaran yang mereka dapat dari film tersebut.
“Saya berperan sebagai Karmaka Surjaudaja, perintis Bank OCBC NISP. Karmaka hanya pemuda Tiongkok tamatan SMA yang berasal dari keluarga miskin dan mencoba berbagai pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Berkat kegigihannya, dia mampu menjalankan bank milik mertuanya hingga berkembang. Kisah hidupnya sangat memotivasi kita untuk selalu berusaha,” jelas Rio.
Laura pun merasakan hal yang sama. Menurutnya kisah cinta Karmaka dan istrinya, Lim Kwei Ing, dapat ditiru pasangan muda.
“Pak Karma dan istrinya ini masih mesra sampai sekarang. Setiap kali bicara, pasti ada kontak mata. Makan pun harus bersama. Kami sempat diundang sarapan di rumah mereka sekaligus ngobrol untuk dapat masukan. Jujur, saya dan Rio deg-degan karena mereka belum menonton. Kami jadi belum tahu responsnya,” ucap Laura.
Syuting yang dilakukan selama 25 hari di Bandung juga dirasakan sangat berat oleh Rio. Bukan karena adegannya sulit, tapi karena kondisi fisiknya yang lemas.
“Syutingnya pas bulan puasa! Sementara saya nahan lapar, Laura malah wisata kuliner,” tutup Rio sambil tertawa.
Mau lihat akting memukau Laura Basuki & Rio Dewanto di film terbarunya, Love and Faith? CC akan menggelar NoBar, nih, Sabtu, 7 Maret 2015, pukul 14:00 di XXI Pondok Indah Mall 1. Yuk, ikutan kuisnya di sini!“Saya berperan sebagai Karmaka Surjaudaja, perintis Bank OCBC NISP. Karmaka hanya pemuda Tiongkok tamatan SMA yang berasal dari keluarga miskin dan mencoba berbagai pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Berkat kegigihannya, dia mampu menjalankan bank milik mertuanya hingga berkembang. Kisah hidupnya sangat memotivasi kita untuk selalu berusaha,” jelas Rio.
Laura pun merasakan hal yang sama. Menurutnya kisah cinta Karmaka dan istrinya, Lim Kwei Ing, dapat ditiru pasangan muda.
“Pak Karma dan istrinya ini masih mesra sampai sekarang. Setiap kali bicara, pasti ada kontak mata. Makan pun harus bersama. Kami sempat diundang sarapan di rumah mereka sekaligus ngobrol untuk dapat masukan. Jujur, saya dan Rio deg-degan karena mereka belum menonton. Kami jadi belum tahu responsnya,” ucap Laura.
Syuting yang dilakukan selama 25 hari di Bandung juga dirasakan sangat berat oleh Rio. Bukan karena adegannya sulit, tapi karena kondisi fisiknya yang lemas.
“Syutingnya pas bulan puasa! Sementara saya nahan lapar, Laura malah wisata kuliner,” tutup Rio sambil tertawa.


