Gillian dan Sally Owens yang kembali bersatu untuk membantu generasi penyihir muda keluarga mereka. Foto: Warner Bros. Pictures
Apa, sih, alasan lahirnya sebuah sekuel dari film yang pertama kali dirilis puluhan tahun lalu?
Untuk Practical Magic (1998), kehadiran sekuel Practical Magic: The Book of Magic tahun ini pastinya bukan karena faktor box office—perolehan totalnya di box office global tak sampai 100 juta dolar AS.
Tapi, Practical Magic berhasil masuk ke dalam deretan film cult classic, berkat penggemar setia yang memahami keunggulan—dan keunikan—film ini, serta film ini dianggap memiliki cerita dan legasi melampaui eranya.
Hampir tiga dekade kemudian, cerita yang diangkat dari novel The Book of Magic karya Alice Hoffman itu hadir lagi dalam film yang disutradai Susanne Bier (After the Wedding - 2006, In a Better World - 2010).
Berdurasi 130 menit, Practical Magic: The Book of Magic kembali menampilkan penyihir Owens bersaudara yang eksentrik, Sally (Sandra Bullock) dan Gillian (Nicole Kidman). Bertahun-tahun menjalani hidup masing-masing, keduanya harus bersatu ketika kutukan lama keluarga Owens mulai mengancam generasi berikutnya.
Kylie Owens (Joey King) dan Antonia Owens (Maisie Williams), sebagai generasi muda dan anak dari Sally, mulai berhadapan dengan rahasia yang selama ini diwariskan dalam keluarga mereka. Salah satunya adalah kutukan tentang konsekuensi para perempuan Owens ketika jatuh cinta.
Kutukan itu semakin nyata ketika Kylie menyatakan cintanya kepada sang kekasih, Gideon (Xolo Maridueña). Tak lama kemudian, Gideon mengalami kecelakaan dan koma. Kylie pun terdorong untuk mengetahui lebih jauh mengenai kutukan turun-temurun tersebut.
Berusaha menemukan cara untuk menyelamatkan Gideon, Kylie menemukan petunjuk mengenai sebuah buku sihir yang dipercaya menyimpan jawaban untuk mematahkan kutukan tersebut. Pencarian ini akhirnya membawa ulang Sally dan Gillian ke dalam sebuah petualangan yang lebih besar, sekaligus membuka berbagai rahasia masa lalu keluarga Owens.
Ketika kekuatan sihir tak lebih powerful dari kekuatan sisterhood. Foto: Warner Bros. Pictures
Salah satu daya tarik terbesar Practical Magic: The Book of Magic, alasan kenapa film aslinya jadi cult classic, tentu saja adalah duet Sandra Bullock dan Nicole Kidman.
Bagi pencinta film pertamanya—bukan hanya Boomers, Gen X, dan Millenials tapi juga Gen Z—melihat Sally dan Gillian kembali dalam satu layar menghadirkan nostalgia tersendiri.
Menariknya, nostalgia bukan satu-satunya senjata yang digunakan film ini. Chemistry antara Sandra Bullock dan Nicole Kidman masih menjadi salah satu kekuatan yang membuat hubungan Sally dan Gillian terasa hidup.
Dari pengalaman menonton, bagian yang paling menarik justru ketika film mulai menghubungkan kisah Sally dan Gillian dengan generasi baru, karena ada perasaan seperti menyaksikan sebuah tongkat estafet yang perlahan berpindah tangan.
Jika dahulu penonton mengikuti perjalanan dua saudari Owens, kini muncul pertanyaan baru: Seperti apa masa depan keluarga ini ketika generasi berikutnya mulai memahami kekuatan yang mereka miliki?
Secara keseluruhan, Practical Magic: The Book of Magic tetap menjadikan sihir sebagai daya tarik visual, tetapi inti ceritanya sebenarnya adalah keluarga. Film ini berbicara tentang bagaimana seseorang berusaha melepaskan diri dari masa lalu sekaligus menentukan sendiri masa depannya.
Lantas, mampukah Sally dan Gillian memutus kutukan turun-temurun keluarga Owens? Ataukah usaha tersebut justru membawa keluarga mereka ke dalam konflik lebih besar? Lalu, apakah kemampuan sihir keluarga Owens akan diteruskan kepada generasi berikutnya?
Temukan jawabannya mulai 9 September 2026 di bioskop Indonesia. Practical Magic: The Book of Magic hadir dengan rating untuk usia 13+ ya! (f)
Baca juga:
By Any Means: Kisah Nyata Agen FBI dan Pembunuh Bayaran Ungkap Misteri Pembunuhan
The Early Spring Tepat Jadi First Entry untuk Dracin
Bennita Luisa
Topic
#feminaindonesia, #reviews


