Reviews
Clayface: Menguak Sisi Kelam nan Tragis dari Musuh Batman

21 Oct 2026

Matt Hagen mengalami mimpi buruk yang tak ada habisnya. Foto: Warner Bros. 


Kalau kamu akrab dengan karakter-karakter DC Comics, seperti Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman atau Batman, kamu tidak asing dengan karakter Clayface. 

Karakter Clayface pertama kali diperkenalkan melalui komik Detective Comics #40 pada Juni 1940, dengan Basil Karlo sebagai identitas aslinya. 

Sama seperti karakter Bane, Clayface ada di dunia Batman di Gotham City, dan bukan dari semesta superhero utama seperti cerita Justice League. 

DC menghadirkan beberapa karakter yang menggunakan nama Clayface, termasuk tokoh Matt Hagen yang pertama kali muncul dalam Detective Comics #298 pada 1961. Dikenal memiliki kemampuan mengubah bentuk tubuh, Matt Hagen menjadi salah satu versi Clayface yang paling menarik untuk dieksplorasi, dan kali ini tampil di layar lebar. 

Bukannya menghadirkan aksi villain dalam genre superhero, film Clayface justru menyajikan kisah gelap dan emosional tentang kehilangan jati diri, ambisi, trauma masa lalu, dan kegilaan yang perlahan menguasai pikiran. 
 
Dr. Caitlyn membantu Hagen memulihkan kondisi wajahnya, namun malah jadi awal bagi Hagen sebagai Clayface. Foto: Warner Bros.

Filmnya disutradarai James Watkins yang terkenal dengan film horor dan teror psikologis (Eden Lake - 2008, The Woman in Black - 2012, Speak No Evil - 2024), serta ditulis oleh Mike Flanagan dan Hossein Amini, tentang Matt Hagen (Tom Rhys Harries), seorang aktor dengan tampilan paripurna yang tengah di puncak karier. 

Namun kehidupan Hagen berubah 180 derajat ketika tertangkap basah sedang bersama Mia Torez (Joana Ribeiro), kekasih Markos Szabo (David Dencik), seorang bos mafia. Merasa cemburu, Szabo dan anak buahnya lalu merusak wajah Hagen. 

Hagen merasa hidupnya hancur, dan saat putus asa secara tidak sengaja ia menemukan artikel tentang Dr. Caitlyn Corr (Naomi Ackie), seorang ilmuwan yang melakukan eksperimen terhadap kulit manusia. 

Caitlyn bersedia membantu. Setelah melalui beberapa percobaan eksperimental, Hagen mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan wajahnya seperti semula. 

Ternyata masalah justru baru dimulai. Hagen mengalami perubahan tubuh yang tidak dapat ia kendalikan. Kulit dan bentuk fisiknya perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing, sementara batas antara manusia dan sosok monster di dalam dirinya semakin kabur. 
 
Hagen menjadi Clayface, proses yang menegangkan. Foto: Warner Bros.

Di tengah perubahan tersebut, kondisi psikologisnya ikut memburuk. Keinginannya untuk mendapatkan kembali kehidupan lama perlahan berubah menjadi obsesi, hingga dorongan untuk membalas dendam mulai mengubahnya jadi monster. 

Salah satu hal yang membuat film Clayface menarik adalah keberanian James Watkins membawa kisah ini ke wilayah yang lebih gelap dengan menonjolkan perubahan fisik Hagen, rasa kehilangan, dan kemerosotan kondisi mentalnya, dengan memanfaatkan konsep body horror untuk menciptakan ketegangan.

Sungguh pengalaman menonton yang berbeda untuk film dalam semesta DC kali ini—apalagi kisahnya memang berdiri solo, tanpa jalinan kisah dengan karakter semesta DC lainnya. 

Clayface dengan rating 17+ tayang di bioskop mulai hari ini, 21 Oktober 2026. (f)

Baca juga:
Whalefall: Bertahan dalam Perut Ikan Paus Karena Kenangan Akan Ayah
5 Hal Ini Bikin Dracin Irreplaceable Relate Banget
The Social Reckoning: Alarm Keras di Era Manipulasi Digital

 

Bennita Luisa


Topic

#feminaindonesia, #reviews

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?