Bangsa Na'vi yang cinta damai dan menghormati alam ternyata memiliki klan lain yang menyukai kekerasan dan memuja bermain api, dalam arti sebenarnya.
Kehidupan keluarga Sully yang masih menetap bersama klan Metkayina–Jake Sully, Neytiri, Lo'ak, Kiri, Tuk, juga Spider–kini berubah setelah kematian si sulung Neteyam dalam The Way of Water.
Neytiri dan Jake berusaha melindungi keluarga mereka dan Pandora dari kehancuran. Foto: 20th Century Studios
Jake Sully (Sam Worthington) menyibukkan diri dengan mengumpulkan senjata-senjata dari bangkai kapal (setelah pertempuran melawan militer dalam The Way of Water) untuk melupakan kematian Neteyam.
Neytiri (Zoe Saldaña) mengurung diri dalam kesedihan dengan melakukan berbagai ritual untuk mendiang putranya, sementara Lo'ak (Britain Dalton) yang merasa bersalah atas kematian abangnya mencoba move on.
Kebutuhan oksigen khusus untuk masker Spider (Jack Champion) selama di udara terbuka Pandora jadi ketergantungan, dan membuat Jake memutuskan untuk mengirim Spider pulang ke basis manusia. Apalagi Spider seakan jadi simbol kehadiran manusia, yang mengusik kebencian Neytiri.
Kehidupan keluarga Sully tak lagi sama setelah kepergian Neteyam. Foto: 20th Century Studios
Ketika keluarga Sully mengantar Spider bersama-sama dengan rombongan klan Windtrader, mereka diserang perompak dari klan Mangkwan yang sadis. Sementara itu, Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang) juga berusaha menangkap mereka.
Pertempuran di udara membuat keluarga Sully terpisah–Neytiri terluka, dan anak-anak menyelamatkan diri ke hutan, yang berujung peristiwa mengejutkan dari kekuatan Kiri (Sigourney Weaver), dan ditangkap oleh klan Mangkwan yang dipimpin Varang (Oona Chaplin).
Bisa dibilang kalau Varang adalah cegil super versi Pandora. Ia hidup dari api, bersama kelompoknya tinggal di kawasan gunung berapi, dan tak lagi percaya pada Eywa, Bunda Agung yang disembah Na'vi.
Di sisi lain, pembangunan kehidupan manusia di Pandora terus berkembang, dengan militer mencoba memburu tulkun lebih banyak lagi sebagai sumber daya bernilai miliaran dolar.
Varang, cegil pencinta api yang makin menggila begitu bisa memakai senjata modern. Foto: 20th Century Studios
Dari sinilah cerita Fire and Ash bergulir, yang memadukan kepentingan pribadi, ambisi akan kekuasaan, dan pertarungan antara alam dan teknologi. Terselip juga kebimbangan seorang ayah, kemarahan seorang ibu, dan kerelaan untuk berkorban demi hal lebih besar.
Plot holes memang ada di sana-sini, tapi tak terlalu mengganggu karena kita teralihkan dengan tampilan efek visual terkini.
Puncaknya adalah pertempuran antara manusia alias militer dengan peralatan canggih, Na'vi, dan Mangkwan, dalam sebuah perang yang menyedihkan namun memiliki visual kontras antara keindahan dan kehancuran.
James Cameron menampilkan saga yang tak henti menyuarakan pesan pribadinya, yaitu alam vs teknologi, penduduk asli vs penjajah, hingga keluarga vs orang luar. Tiga film Avatar juga punya mempertanyakan siapa sebenarnya yang berhak menjadikan Pandora kampung halaman–makna yang relatable dengan dunia saat ini.
Avatar: Fire and Ash bakal lebih mengena jika kamu sudah menonton The Way of Water, sehingga kamu bisa masuk ke dalam emosi keluarga Sully dan kenapa si Kolonel kekeuh banget mengejar Jake. Film ini pastinya juga paling pol dinikmati di layar lebar–apalagi IMAX 3D–lengkap dengan segala efek spektanya.
Film ini juga mempertanyakan, apakah kita menang karena doa atau karena usaha kita? Foto: 20th Century Studios
Siapkan diri kamu–dan bokong, khususnya–untuk menonton film sepanjang 3 jam 17 menit ini (seperti Titanic, karya ikonik James Cameron lainnya). Bukan spoiler, tapi tak ada end-credit. Ending terbuka tentunya karena bakal ada film ke-4 (2029) dan film ke-5 (2031).
Biar pengalaman kamu makin lengkap akan dunia Pandora, saksikan The Avatar: Fire and Ash Experience yang immersive di The Space, Senayan City, Jakarta, hingga 11 Januari 2026.
Film Avatar: Fire and Ash tayang di bioskop Tanah Air hari ini, 17 Desember 2025.
Zornia Harisantoso
Topic
#reviews


