Peluncuran buku Can I Talk to You? karya Kania Annissa Anggiani di Dia.Lo.Gue Kemang, menyoroti refleksi pengasuhan melalui percakapan jujur ibu dan anak. Foto: Dok. Studio Geometry“Apakah kita benar-benar membentuk anak, atau mereka yang sedang membentuk kita?”
Pertanyaan reflektif itu bukan kutipan dari teori parenting terbaru, melainkan kalimat pembuka yang menjadi jantung dari buku perdana karya Kania Annisa Anggiani, Can I Talk to You? Conversations with My Children: A Mother’s Reflection.
Baru saja diluncurkan oleh Studio Geometry di Dia.Lo.Gue Kemang, buku ini hadir bukan sebagai manual panduan, melainkan sebagai kumpulan percakapan polos, jujur, dan tak terduga antara seorang ibu dan kedua anaknya, yang ternyata menyimpan kebijaksanaan yang dalam.
Suasana peluncuran buku yang hangat. Foto: Dok. Studio GeometryDiambil dari dialog sehari-hari mereka, mulai dari menghadapi kebiasaan buruk, memupuk empati, hingga menyikapi perbedaan, buku setebal 288 halaman ini menghadirkan narasi ringan yang justru menusuk langsung ke relung kesadaran. Setiap percakapan disertai refleksi penulis, mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dan melihat anak bukan hanya sebagai objek didik, tetapi sebagai cermin yang paling jujur dari diri kita sendiri.
Pesan penting (takeaway message) yang Femina sarikan dari buku ini:
1/ Anak adalah guru kehidupan yang tak terduga
Buku ini menggeser paradigma bahwa pengasuhan bukan jalan satu arah. Dari celoteh dan pertanyaan polos anak-anak, justru pelajaran terbesar tentang kesabaran, cinta tanpa syarat, dan arti menjadi manusia sering kali muncul. Seperti disampaikan Kania, “Buku ini lahir dari percakapan kecil yang ternyata berdampak besar bagi saya sebagai ibu.”
2/ Kejujuran dalam komunikasi adalah fondasi
Kania tidak menggurui. Ia menunjukkan kekuatan dari mendengar dengan rendah hati dan berbicara dengan jujur, bahkan saat topiknya sulit. Buku ini membuktikan bahwa ruang aman untuk berdialog terbangun dari keseharian yang autentik.
3/ Refleksi diri adalah inti dari pengasuhan
Buku ini mengajak setiap orang tua untuk mundur selangkah dan bertanya kepada diri sendiri. Setiap respons kita terhadap anak sering kali lebih banyak bercerita tentang luka, harapan, dan ketakutan kita sendiri daripada tentang sang anak.
4/ Karya ini bukan hanya tentang parenting
Seperti ditegaskan oleh Nurul Idzni dari Studio Geometry, “Kami melihat buku ini bukan hanya sebagai bacaan parenting, tetapi juga sebagai karya reflektif yang relevan bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan manusia dengan lebih lembut dan jujur.”
Pesan universal tentang koneksi dan kemanusiaan membuatnya menyentuh pembaca dari berbagai latar. (f)
BORN dari Chef Zor Tan Menghidupkan Kenangan di Atas Piring
Pengalaman Kuliner Kontemporer Inggris Kelas Michelin di The Crown by Kirk Westaway
Trifitria Nuragustina
Topic
#ParentingReflektif , #BukuIndonesia , #IbuDanAnak




