Profile
Retno Kusumawati, 'Kartini on Cloud'

21 Apr 2021


Foto: Dok. Accenture


Persepsi publik seolah menentukan bahwa wanita dan teknologi bukanlah pasangan yang serasi. Namun, persepsi itu telah dipatahkan oleh banyak wanita yang terbukti unggul di area yang memang masih didominasi oleh pria. Salah satunya, Retno Kusumawati, yang menduduki posisi bergengsi sebagai salah satu Managing Director di Accenture, perusahaan layanan profesional global dengan kemampuan terdepan di bidang digital, cloud, dan keamanan. Bagaimana cara Retno mematahkan persepsi teknologi vs wanita ini?

Partisipasi Wanita Masih Relatif Sedikit
Pada awal tahun 2021 Accenture mengungkap hasil riset kolaborasi Accenture dan Quilt.AI, “If Not Now, When?”, bahwa 19% wanita merasa karir di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) lebih cocok bagi pria. Temuan ini sejalan dengan riset-riset yang dilakukan di luar negeri, seperti di Inggris dan Amerika Serikat, yang menemukan bahwa wanita hanya menempati porsi sekitar 20% - 30% dari seluruh populasi STEM.

Hingga sekarang, komposisi wanita pekerja di Accenture mencapai angka 40%. Makin tinggi posisi, komposisinya semakin kecil, yaitu sekitar 30%. “Kami mencoba menargetkan di angka 50:50 pada tahun 2025, karena kami menyadari pentingnya peranan wanita dalam menyeimbangkan perspektif. Misalnya, rata-rata pria terbilang goal oriented, sementara rata-rata wanita lebih process oriented. Selain itu, wanita juga punya sifat lebih perhatian ke detil” kata Retno, yang juga memegang peran sebagai Technology Lead untuk Accenture Indonesia.

Namun, Retno mengamati, tantangan terbesar wanita yang berkarier di industri mana pun adalah self-limiting beliefs. Banyak stereotip yang melekat pada wanita, terutama karena pengaruh lingkungan, misalnya bahwa wanita sebaiknya tinggal di rumah untuk memasak, mengurus keluarga, dan fokus mengasuh anak. Ada pula persepsi bahwa wanita hanya cocok untuk pekerjaan yang berkorelasi dengan bidang-bidang yang bersifat kewanitaan, seperti merancang pakaian dan catering.

“Padahal, dengan pemerataan pendidikan, wanita sebenarnya punya bekal ilmu yang cukup. Semua berpulang pada diri sendiri, apakah kita dapat mengatasi self-limiting beliefs tersebut, mau maju untuk berkarya, dan mengejar karir, tanpa melupakan tugasnya mengurus keluarga. Zaman sudah berkembang, banyak faktor yang seharusnya lebih mendukung wanita untuk mengejar karir. Antara lain, kakek-nenek, asisten rumah tangga, babysitter, dan layanan pesan antar makanan,” kata Retno.

Sebenarnya saat ini sudah semakin banyak wanita di dunia teknologi yang menduduki posisi atas, termasuk CEO Accenture, yaitu Julie Sweet. Meski begitu, Retno mencermati, wanita yang menjadi leader pada masa pandemi ini memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah cara membagi waktu, terutama saat mereka sudah terbiasa work from home. Batas antara waktu kerja dan waktu untuk diri sendiri atau keluarga menjadi tipis.

Bagi wanita yang mempunyai anak usia sekolah, situasi ini menjadi lebih menantang karena mereka harus merangkap sebagai guru saat di rumah, menemani anak sekolah, mengingat anak-anak sekarang belajar dengan sistem home based learning. Dalam kondisi seperti ini, selain perlu menguasai hard skill yang berkaitan dengan pekerjaan, wanita juga memerlukan keterampilan terkait pengelolaan waktu.

Sampai sekarang Retno masih terus belajar untuk menyeimbangkan antara kehidupan profesional dan kehidupan personal. “Work-life balance adalah tentang bagaimana kita dapat lebih bijaksana dalam menentukan prioritas. Misalnya, saat sedang bekerja untuk urusan kantor, di situlah kita harus mampu bersikap profesional. Sementara itu, ketika keluarga sedang membutuhkan kita, kita perlu fokus memperhatikan keluarga. Sebagai wanita, kita juga perlu tahu di mana menempatkan diri. Sebagai istri, apa pun kedudukan kita, kita perlu menghargai suami. Sebagai seorang anak, apa pun status sosial kita, kita harus tetap menghormati orang tua. Itulah yang saya percaya sebagai balance,” kata Retno.

Di sisi lain, dalam menjalankan perannya sebagai seorang leader, Retno selalu percaya bahwa tim atau seseorang dapat lebih berkembang jika mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, pandangan, dan berkarya.

“Sama seperti dulu, saat leader saya memberi kesempatan kepada saya untuk berkembang. Saya biasanya memberi arahan terkait tujuan yang hendak dicapai. Saya dan tim kemudian akan menjadi partner diskusi, bukan atasan dan bawahan. Saya berusaha memberikan ruang gerak untuk masing-masing tim agar mereka bisa berkarya dengan lebih baik. Hal ini akan menambah pengalaman dan rasa percaya diri mereka, sekaligus meningkatkan sense of ownership terhadap perusahaan.” 


Baca Selanjutnya: Tantangan di Dunia Sains



Topic

#wanitafemina, #accenture, #profil, #wanitaaktif

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?