Profile
Derry Wijaya: Memberdayakan Perempuan Lewat Teknologi AI

30 Apr 2025

Foto: Dok. Monash University - Indonenesia


Di tengah inovasi teknologi yang kian pesat, muncul sosok perempuan tangguh yang membawa obor semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini ke era digital.

Dr. Derry Wijaya, seorang Associate Professor danCourse Coordinator Data Science di Monash University, Indonesia ini lebih dari sekadar akademisi. Dr. Derry memperjuangkan pemberdayaan perempuan di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), dengan fokus utama pada Kecerdasan Buatan (AI) dan Pemrosesan Bahasa Alami (NLP). 

Di dunia teknologi yang masih didominasi pria, kehadiran Derry bagaikan oase. Dengan latar belakang pendidikan doktoral di bidang ilmu komputer dari Amerika Serikat, ia tidak hanya menjadi representasi dari 22% profesional AI perempuan, tetapi juga motor penggerak bagi lahirnya lebih banyak talenta perempuan di ranah ini. 

Melalui jalur akademis di Monash University, Indonesia, Derry aktif menginspirasi dan membimbing para perempuan muda untuk meniti karier di dunia AI dan sains data. Semangat Kartini yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan di masa lalu kini diterjemahkan oleh Derry dalam bentuk yang lebih kontemporer: Kesetaraan partisipasi dalam dunia teknologi. 

"Salah satu misi saya sebagai peneliti dan pendidik adalah memastikan lebih banyak perempuan terlibat di bidang AI dan merasakan bahwa teknologi ini hadir untuk memberdayakan mereka," ungkap Derry penuh semangat. 

Setelah 10 tahun sekolah dan berkarier di AS, Derry memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia lalu menerima tawaran untuk bergabung sebagai dosen di Monash University, Indonesia.  

Perempuan peraih penghargaan Peneliti Data Terbaik 2021 dari Data Science Indonesia ini meyakini bahwa suara dan perspektif perempuan sangat krusial dalam membentuk masa depan AI yang inklusif dan berpihak pada kemanusiaan. 

"Beberapa kasus telah membuktikan, bagaimana AI menjadi tidak ramah gender karena kurangnya interaksi atau keterlibatan perempuan dalam prosesnya," ungkap Derry. 

Foto: Dok. Monash University - Indonesia                

Mendedikasikan dirinya pada dunia pendidikan dan penelitian, Derry menaruh perhatian besar pada bagaimana narasi media membentuk opini publik.

Ia mengembangkan sistem NLP canggih yang mampu mendeteksi dan mengurangi bias dalam wacana publik, dengan harapan terciptanya ruang informasi yang lebih adil dan akurat. Karyanya ini bukan hanya meningkatkan literasi media, tetapi juga menjadi perisai dalam memerangi misinformasi yang kerap kali merugikan kelompok rentan.

Lebih lanjut, Derry mewujudkan visinya tentang AI yang memberdayakan perempuan melalui pengembangan perangkat NLP berbasis AI untuk meningkatkan akses informasi kesehatan reproduksi. Dengan dukungan dana hibah prestisius dari Google Academic Research Award (GARA), inisiatif ini bertujuan menjangkau komunitas-komunitas yang kurang terlayani dengan informasi kesehatan yang tepercaya, mudah diakses, dan sensitif terhadap budaya. 

Langkah ini adalah bukti nyata komitmennya untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama perempuan.

"Fokus utama dari seluruh riset yang saya lakukan adalah pengembangan teknologi yang mencerminkan kebutuhan pengguna, terutama perempuan—dengan menekankan transparansi, keadilan, dan inklusi dalam sistem AI," jelas Derry. 

Ia percaya bahwa AI, dengan segala potensinya, harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk menciptakan dampak positif yang seluas-luasnya. AI harus dikembangkan oleh perempuan sekaligus untuk perempuan, menciptakan ruang di mana mereka merasa dihargai, didengar, dan didukung, baik sebagai inovator maupun pengguna yang merasakan manfaat nyata dari AI.

"Tujuannya adalah memastikan inovasi menjadi alat pemberdayaan bagi semua," Derry menegaskan. 

Kiprah Dr. Derry Wijaya adalah cerminan dari semangat Kartini di era modern, dan bukti bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam membentuk masa depan teknologi.

Dedikasinya untuk memberdayakan perempuan melalui AI bukan hanya menciptakan inovasi, tetapi juga membangun jembatan menuju masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan berpengetahuan. Jejaknya menginspirasi dan membuka jalan bagi lebih banyak perempuan untuk berani berkarya dan memimpin di garda depan teknologi. (f

Baca juga: 
Dewi Makes Berkarya dengan Hati
Thresia Mareta Menerima Penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres
5 Fakta Seru dan Terbaru Anggun, Nomor 5 So Sweet!


Faunda Liswijayanti


Topic

#profil, #ai, #teknologi, #stem, #womenintech

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?