Anya Madiadipoera, pewaris napas seni keluarga Nuarta. Foto: Dok. NuArtKetika matahari pagi membasahi taman di NuArt Sculpture Park Bandung, udara terasa berbeda.
Cahaya lembut menari di atas puluhan patung yang tertata rapi di antara rerumputan dan pepohonan ketika Femina bermain-main ke sini, di tengah liburan. Atmosfernya tidak kaku atau eksklusif. Di sinilah teknologi seni rupa bertemu alam yang hidup.
Di tengah kesegaran itu, Anya Madiadipoera memegang kunci pembaharuan ini. Dia adalah pewaris napas seni keluarga Nuarta, namun dengan cara yang sangat inklusif dan manusiawi.
Cahaya lembut menari di atas puluhan patung yang tertata rapi di antara rerumputan dan pepohonan ketika Femina bermain-main ke sini, di tengah liburan. Atmosfernya tidak kaku atau eksklusif. Di sinilah teknologi seni rupa bertemu alam yang hidup.
Di tengah kesegaran itu, Anya Madiadipoera memegang kunci pembaharuan ini. Dia adalah pewaris napas seni keluarga Nuarta, namun dengan cara yang sangat inklusif dan manusiawi.
Dari lantai workshop ke tepian museum
Sejak usia lima tahun, Anya sudah menemani ayahnya, Nyoman Nuarta, saat merancang patung dan memilih bahan. Ia bahkan ikut memasang patung badak putih di Balai Kota Bandung.
Baginya, seni bukan hal asing. Ia tumbuh dengan obrolan tentang Marcel Duchamp dan Wassily Kandinsky, bahkan sebelum memahami bahwa itu bukan kurikulum sekolah.
Meski darah seni mengalir kental, Anya menempuh jalur yang berbeda. Ia memilih belajar desain di Australia dan Amerika Serikat dengan keyakinan bahwa ia bisa memberi lebih banyak manfaat melalui pemahaman bentuk dan ruang ketimbang membuat sendiri. Setelah kembali ke Indonesia pada 2003, ia mulai menata dan mengurasi koleksi seni keluarga.
Baginya, seni bukan hal asing. Ia tumbuh dengan obrolan tentang Marcel Duchamp dan Wassily Kandinsky, bahkan sebelum memahami bahwa itu bukan kurikulum sekolah.
Meski darah seni mengalir kental, Anya menempuh jalur yang berbeda. Ia memilih belajar desain di Australia dan Amerika Serikat dengan keyakinan bahwa ia bisa memberi lebih banyak manfaat melalui pemahaman bentuk dan ruang ketimbang membuat sendiri. Setelah kembali ke Indonesia pada 2003, ia mulai menata dan mengurasi koleksi seni keluarga.
Menata warisan dengan visi baru
Kini Anya bertugas sebagai Space Director NuArt Sculpture Park. Ia bertanggung jawab atas operasional taman seni seluas 3,6 hektar yang menampung sekitar 30 patung besar dan 90 karya lainnya, baik di ruang terbuka maupun di museum.
Salah satu proyek penting di luar taman adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Proyek yang dikonsepsi oleh ayahnya sejak Anya duduk di bangku SMP sampai akhirnya selesai 28 tahun kemudian itu merupakan proyek ambisius yang betul-betul menguras energi seluruh anggota keluarga.
Anya beserta suaminya, Alka, dan anak-anak mereka, menjadi bagian penting penyelesaian patung GWK.
Selain estetika dan penataan ruang, ia bertugas menentukan nilai pasar patung-patung karya ayahnya. Anya menyadari perlunya harga yang proporsional dibanding sang ayah yang dahulu tidak memikirkan aspek bisnis. Karena tanpa konservasi nilai, warisan bisa kehilangan makna dalam konteks zaman baru.
Salah satu proyek penting di luar taman adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Proyek yang dikonsepsi oleh ayahnya sejak Anya duduk di bangku SMP sampai akhirnya selesai 28 tahun kemudian itu merupakan proyek ambisius yang betul-betul menguras energi seluruh anggota keluarga.
Anya beserta suaminya, Alka, dan anak-anak mereka, menjadi bagian penting penyelesaian patung GWK.
Selain estetika dan penataan ruang, ia bertugas menentukan nilai pasar patung-patung karya ayahnya. Anya menyadari perlunya harga yang proporsional dibanding sang ayah yang dahulu tidak memikirkan aspek bisnis. Karena tanpa konservasi nilai, warisan bisa kehilangan makna dalam konteks zaman baru.
Sparring partner sang maestro
Hubungan ayah-anak antara Anya dan sang ayah kadang menghadirkan ketegangan sehat. Anya pernah mengusulkan agar staf taman yang berjumlah 14 orang dipangkas demi efisiensi.
yahnya menolak karena banyak keluarga yang bergantung pada NuArt. Ia memilih kerja berdasarkan hati, bukan efisiensi kapitalistik. Dari ketegangan itu, keduanya saling belajar dan saling mengalah.
Di lain waktu, Anya menolak sebuah proyek karena dinilai kurang prospektif. Sang ayah kemudian menimbang ulang setelah beberapa hari dan menyepakati argumentasi Anya lebih masuk akal.
Mereka sering melempar ide dan berdebat hingga menemukan solusi terbaik. Proses dialog kreatif ini justru membuat NuArt semakin kuat.
yahnya menolak karena banyak keluarga yang bergantung pada NuArt. Ia memilih kerja berdasarkan hati, bukan efisiensi kapitalistik. Dari ketegangan itu, keduanya saling belajar dan saling mengalah.
Di lain waktu, Anya menolak sebuah proyek karena dinilai kurang prospektif. Sang ayah kemudian menimbang ulang setelah beberapa hari dan menyepakati argumentasi Anya lebih masuk akal.
Mereka sering melempar ide dan berdebat hingga menemukan solusi terbaik. Proses dialog kreatif ini justru membuat NuArt semakin kuat.
Lawan debat sehat sang maestro Nyoman Nuarta. Foto: Dok. NuArt. Pengalaman masa kecil sebagai pelajaran
Anya dan adiknya, Tasya, merasakan langsung ketidakpastian kehidupan seniman Indonesia. Kadang berkecukupan, kadang pula berkekurangan.Masa kecil itu menyisakan cerita dan pelajaran penting: Seni tanpa ketahanan finansial tidak bisa menjadi sumber kehidupan.
Itu sebabnya Anya memilih tidak menjadi seniman. Ia tidak punya keberanian tampil di panggung seni sebagai pencipta. Ia memilih menjadi penjaga warisan dan membangun ekosistem yang bisa hidup mandiri.
Saat pandemi menerpa, ia mengambil alih penuh tanggung jawab di NuArt dan membuktikan bahwa taman seni bisa menggaji lebih dari 300 pekerja dari hasil seni itu sendiri.
Ruang inklusif untuk setiap langkah apresiasi
Visi Anya terhadap NuArt tidak sebatas ruang pamer. Ia ingin menjadikan NuArt sebagai ruang rasa dan ruang belajar. Anya membuka program lokakarya seni untuk anak-anak TK hingga mahasiswa.Miniatur patung Garuda Wisnu Kencana ditempatkan di lobi utama, lengkap dengan penjelasan proses pembuatan dan filosofi di baliknya.
Anya juga membujuk guru-guru di sekolah anaknya untuk membawa murid-murid mereka ke NuArt.
Saat anak-anak sibuk mendengarkan dongeng atau membuat karya, orang tua mereka juga mengikuti dan tanpa sadar menikmati estetika taman atau selfie di antara patung tembaga kontemporer. Ruang terbuka pun cenderung menjadi joglo Jawa sederhana—hangat, dekat, dan penuh cerita.
Kedai kopi dan ruang sehat (wellness center) bagi mereka yang sedang menunggu anak bercengkerama dengan seni pun dibangun. Ia ingin menciptakan lingkungan yang benar-benar manusiawi—tempat setelah karya seni pula ada aroma kopi dan ruang untuk berbagi cerita.
Menghargai perbedaan, menjaga integritas
Anya lahir dalam keluarga yang menghargai pluralitas. Ia belajar bahwa perbedaan agama, budaya, dan suku bukan penghalang seseorang dalam kehidupan sosial.Pesan neneknya di Bali bahwa pasangan apa pun baik asal ia baik ia tanamkan dalam dirinya. Hubungan keluarga besar yang multikultural membentuk cara berpikirnya bahwa seni dan manusia adalah cerminan toleransi.
Nilai-nilai ini ia sebar ke dalam setiap sudut NuArt. Stafnya berasal dari latar belakang berbeda. Program edukatifnya mengundang keragaman. Ruang yang dibangunnya adalah ruang yang menegaskan bahwa siapa pun bisa menikmati, mencipta, bahkan berdialog walau memiliki perbedaan.
Anya juga melihat pentingnya kedisiplinan dalam proses berkarya. Ia mencontoh sang ayah yang selalu mulai bekerja dari pukul tiga pagi.
Disiplin itu ia terapkan dalam timnya. Tidak hanya membangun kualitas karya, tapi membentuk karakter tim. Budaya integritas dan kerja keras menjadi nilai dasar di balik estetika taman.
Bagi Anya, kesuksesan bukan soal seberapa spektakuler karya, tetapi seberapa damai ruang itu mampu membuat orang lain merasa mereka diterima.
Ia menekankan pentingnya sopan santun dan menghargai orang lain. Seniman tidak boleh arogan; seni adalah cerminan manusia.
Karena itu, sikap seorang seniman terhadap ciptaannya mencerminkan nilainya sebagai manusia.
Masa depan seni Indonesia
Pengaruh Anya sudah terasa. NuArt Park bukan hanya tujuan wisata seni, tapi juga ruang dialog antara seni, masyarakat, dan komunitas. Di bawah kepemimpinannya, NuArt mulai menjadi laboratorium sosial di mana generasi muda belajar artistik sekaligus menjadi lebih sensitif dan apresiatif terhadap budaya.Peran Anya kini lebih besar lagi dari sekadar mengelola ruang seni rupa. Ia merancang masa depan apresiasi seni di Indonesia dengan nilai-nilai kemanusiaan, inklusivitas, dan keberlanjutan. (f)
Baca juga:
Di Bastian, Chef Jonathan Tjandra Hadirkan Hidangan Eropa dengan Kejutan Rasa
Tampilkan Reinterpretasi Songket, Kuala Lumpur Fashion Week 2025 Dibuka Sofia Iman
Piknik Urban Seru di Taman Brightspot 2025, Gaya Anak Skena Nikmati Akhir Pekan
Trifitria Nuragustina
Topic
#nuartBandung, #nyomanNuarta, #feminaSeniBudaya




