Profile
Sukses Elidawati Berbisnis Hijab Selama Tiga Dekade

17 Sep 2018



Kedua anak Elidawati, dipersiapkan untuk meneruskan bisnisnya/
Foto: Dok. Pribadi
 

Berinovasi Mengikuti Zaman
 
Menurut Elidawati, dulu orang mencari busana muslim yang penting ada barangnya, karena memang tidak banyak yang jual. Sekarang sudah sangat berbeda, barangnya sangat banyak di pasaran. Orang pun mencari busana muslim karena brand, model dan warna, kualitas, hingga kenyamanan. “Inilah yang membedakan dekade sekarang dengan tiga dekade lalu,” kata wanita yang menjadi wakil Indonesia di ajang Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women Asia Pacific & Japan 2018 di Tokyo, Jepang, bersaing dengan 23 negara lain.
 
Di sinilah ia merasakan pentingnya berinovasi sesuai zaman. “Mengeluarkan sesuatu itu kan harus ada yang baru. Bentuknya sisa produk baru atau teknik berjualan yang baru,” jelasnya. Dalam hal produk, setelah scarf dan bergo yang sukses, elzatta telah memunculkan baju abaya, pashmina, dan mukena. Tidak hanya itu, di bawah elcorps, kini telah ada brand lainnya, seperti Dauky (untuk wanita yang aktif), ZATTA MEN, Aira Wedding Hijab, dan lainnya.
 
Elidawati juga menjalin kerja sama dengan beberapa start-up milik para generasi milenial. Salah satunya adalah Noore, fashion sport muslimat, dan Le Farra, sabun dari kefir. “Kita membuat bisnis tentu yang sesuai perubahan perilaku konsumen. Kalau kita tidak mau berubah, ya, siap-siap saja ditinggalkan.
 
Munculnya Le Farra dan Noore adalah bagian dari menyiasati perubahan,” katanya. Perubahan juga disiasati elzatta dengan membuat formula bisnis masa depan. Ia sadar sepenuhnya, e-commerce akan menjadi masa depan penjualan, walaupun untuk saat ini budaya belanja offline masih sangat disukai, terutama oleh konsumen Indonesia.
 
Pengalaman berharga ia dapatkan dua tahun lalu, ketika memutuskan untuk mematikan semua channel penjualan di media sosial dan hanya memusatkan penjualan lewat e-commerce elzatta. “Faktanya, penjualan langsung drop. Padahal, sebelumnya penjualan kami dari berbagai online channel itu sudah sangat baik,” katanya. Menurut Elidawati, ketika berpusat di e-commerce, mereka tidak memiliki fitur yang memungkinkan konsumen bisa bertanya.
 
“Padahal, ketika lewat media sosial dan WhatsApp, konsumen bisa bertanya langsung. Ternyata, hal ini yang dibutuhkan konsumen dan hilang saat kami pindah ke e-commerce,” katanya.
 
Pengalaman ini akhirnya melahirkan ide untuk mengembangkan e-commerce ala elzatta dengan membuka call center untuk konsumen. “Saat ini kami juga sedang mengembangkan elzatta.com, dimana pelanggan bisa memilih outlet elzatta terdekat dengan lokasi mereka. Lalu, masuk ke laman outlet-nya dan bisa langsung memilih koleksi yang ada,” katanya.
 
Tahun lalu, elzatta memasuki usia kelima sekaligus mengeluarkan konsep re-born dengan berganti bahan lain dan menambahkan karakter baru dengan jargon ‘muda ceria’. “Kami ingin lebih dekat dengan wanita muda aktif, masa depan pelanggan elzatta,” katanya.
 
Ia pun sadar, tiap perubahan pasti membutuhkan proses penyesuaian. “Dalam kondisi seperti ini, untuk bisa bersaing brand harus maju dengan diferensiasi. Hal ini yang membuat pentingnya memberi value pada brand karena value ini yang pada akhirnya membuat produk kita dihargai dan berbeda dari produk lainnya,” kata wanita yang sejak awal menjalankan value ‘bisnis rahmatan lil alamin’.
 
Value ini ia wujudkan dalam berbagai kegiatan, seperti membangun masjid, membantu korban bencana, Duta Dauky (bantuan biaya untuk mahasiswa yang akan kursus atau belajar ke luar negeri), hingga Keluarga Cerdas Elzatta. (f)

Baca Juga:
 


 

 

Faunda Liswijayanti


Topic

#profil, #hijab, #bisnis, #womenentrepreneur, #entrepreneur

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?