Sempat Krisis Kepercayaan Diri
Di balik tangan dingin dan ide brilian lahirnya karakter wanita superhero di Marvel, Sana adalah seorang wanita berdarah Pakistan yang lahir dari sepasang imigran. Di awal tahun 1960-an, sang ibunda pergi dari Pakistan ke New York. “Bayangkan, pada tahun 1964 ibu saya sudah hidup sebagai minoritas,” katanya.
Bahkan, saat Presiden AS Donald Trump melarang wisatawan dari 7 negara muslim masuk ke AS, ibu Sana ikut demonstrasi. Tak heran, jika dalam kariernya Sana begitu bersemangat melawan ketidakadilan dengan cara berbeda, yaitu melalui cerita bergambar. Sebagai anak pasangan imigran dan tinggal di kota yang didominasi warga kulit putih, masa kecil Sana dijalani dengan sulit. Ia sempat krisis percaya diri.
Ketika ia mengalami diskriminasi di lingkungan rumah maupun sekolah, komiklah yang menjadi teman setia. Sejak saat itulah kecintaannya pada komik mulai tumbuh.
Beranjak dewasa, wanita yang sempat bercita-cita menjadi pengacara ini berkuliah di Barnard College of Columbia University, mengambil jurusan ilmu politik. Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah majalah.
Kemudian ia bekerja di Virgin Comics, perusahaan komik indie. Di perusahaan inilah ia banyak belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan karakter. Sayangnya, dua tahun kemudian kariernya di perusahaan itu harus berakhir karena bangkrut. Lalu, pada tahun 2009, ia bekerja di Marvel Comics.
Sana berujar bahwa ia terjun di industri komik karena ia suka bercerita. Baginya, cerita itu seperti sebuah jendela. Lewat cerita, ia bisa membuat segala hal menjadi mungkin, termasuk melawan ketidakadilan atau membantu memberdayakan wanita.
Perjalanan Sana yang memulai karier di Marvel sebagai asisten editor tidak mudah. Begitu banyak tantangan yang ia hadapi, termasuk saat ia menciptakan tokoh Kamala Khan. “Saya harus meyakinkan atasan bahwa tokoh Kamala Khan akan memberikan manfaat kepada Marvel,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, hal tersulit yang harus dilakukan adalah menciptakan karakter baru dengan serialnya sendiri. Menentukan tokoh utama, dan apa kekuatan superhero tersebut.
Dengan kerja sama yang baik bersama tim, termasuk dengan ilustrator Adrian Alphona, ia pun berhasil membuktikan bahwa ia mampu dan idenya diterima. “Untuk membangun karakter menjadi tokoh yang kuat, saya belajar tentang studi karakter,” ungkapnya.
Kini, dengan mendapat perlakuan yang baik dari manajemen dan dari rekan-rekannya di Marvel, ia jauh lebih percaya diri. Ia pun bangga dengan identitasnya sebagai wanita muslim.
Sebagai salah satu orang paling penting di industri komik, Sana mensyukuri apa yang ia miliki. “Hidup sebagai muslim terasa sulit karena banyak orang yang berasumsi tidak baik terhadap muslim. Walau terasa sulit, banyak hal lain yang bisa saya syukuri,” katanya, bijak.
Impian besarnya adalah membawa Kamala Khan dari tampilan tidak bergerak menjadi tampilan bergerak di layar televisi. “Saya ingin karakter Kamala diadaptasi menjadi film, sehingga bisa menjangkau lebih banyak orang,” harapnya. Ia pun bercita-cita menciptakan karakter yang lebih beragam. (f)
Baca juga:
Sosok Charles Santoso, Concept Artist Film The Lego Movie Kelahiran Indonesia
Laila Nurazizah, Penulis Naskah yang ‘Dipilih’ oleh Cerita
Gina S. Noer, Proses Panjang untuk Menulis Naskah Film yang Ditonton Jutaan Orang
Kim Eun-Sook, Wanita di Balik Kesuksesan Goblin dan Descendants of The Sun
Desiyusman Mendrofa dan Citra Narada Putri
Topic
#wanitahebat, #profil


