
Foto: Paul Hilton
Sejak kecil Rudi Putra, 39, sangat akrab dengan lingkungan. Hal ini membuatnya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu demi mencegah kerusakan lingkungan. Salah satunya dengan cara memerangi kegiatan ilegal yang merusak ekosistem, seperti membongkar pembalakan liar di Aceh. Berkat aksinya tersebut, Rudi pun menerima penghargaan Goldman Prize 2014 bidang environmental justice yang membuatnya semakin termotivasi menjaga hutan. Salut!
Gara-gara Banjir
“Banyak hal yang memengaruhi keinginan saya menggeluti bidang pelestarian lingkungan. Saya mulai terpikirkan soal lingkungan ketika kampung kami, Tamiang, selalu terendam banjir sementara pohon di hutan ditebang dan kayunya diekspor. Kemudian hutan alam pun diganti menjadi perkebunan kelapa sawit, sungai tercemar oleh limbah kelapa sawit sehingga ikan-ikan mati. Saat itu hampir seluruh anak-anak di kampung kami mengalami sakit kulit massal, berupa gatal di tangan dan kaki.
“Kami menduga sakit kulit ini disebabkan oleh air yang tercemar dari pabrik pengolahan kelapa sawit yang mulai tumbuh di sekitar aliran Sungai Tamiang. Setiap hari kapal pengangkut kayu atau rakit-rakit kayu hilir-mudik dari hulu sungai hingga ke laut. Hutan saat itu benar-benar porak-poranda oleh logging dan perkebunan kelapa sawit.
“Keinginan bekerja di lingkungan ini semakin kuat ketika saya mengambil kuliah di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Pada tahun 1998, ada kejadian yang membuat saya sangat marah dan sedih. Ketika itu saya bertemu dengan Prof. Carel van Schaik di Stasiun penelitian Soraya yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang difasilitasi oleh Unit Manajemen Leuser (UML). Beliau saat itu sebagai pengajar di Duke University, USA yang memiliki program penelitian di Leuser.
“Saat memperkenalkan diri, Prof. Carel van Schaik bertanya asal saya dari mana dan saya jawab, ‘Dari Tamiang’. Spontan dia mengucapkan ‘Selamat’ sambil menjabat erat tangan saya. Saya heran dan bertanya ‘Kenapa?’ Dengan lugas dia menjawab, ‘Selamat karena kalian di Tamiang telah menghancurkan hutan kalian’. Kata-kata itu membuat saya sangat malu, sedih, dan marah. Namun, kata-kata itu pula yang menjadi dorongan kuat bagi saya untuk memperbaiki keadaan.”
Berteman dengan Hutan
“Cukup banyak pengalaman yang berkesan bagi saya ketika bekerja di hutan. Salah satunya tentu saja saat pertama kali kami merobohkan pohon kelapa sawit ilegal di Hutan Tamiang pada bulan Mei 2009 lalu. Saat itu saya teringat kepada ucapan selamat dari Prof. Carel van Schaik dulu. Dalam hati saya berjanji, ‘Mulai hari ini, kami yang akan mengembalikan hutan ini menjadi sedia kala’ dan memang kegiatan tersebut terus kami lakukan hingga saat ini.
“Pengalaman lain yang selalu saya ingat adalah saat-saat berpatroli bersama 3-4 orang ranger. Kami berjalan berkilo-kilo meter setiap harinya jauh ke dalam hutan selama 15 hari untuk mencegah perburuan satwa. Kami membawa bekal dan perlengkapan yang beratnya masing-masing bisa mencapai 25-30 kg/orang sambil berjalan melintasi punggung gunung, menyeberang sungai, atau mengarungi rawa. Pekerjaan ini berat, tetapi hidup rasanya begitu indah. Kami tidak perlu memikirkan uang selama di hutan karena uang pasti tidak ada gunanya (di hutan—red).
“Saat yang paling saya nantikan adalah tepat sebelum senja datang. Berteman dengan sebuah buku, biasanya saya duduk di tepi sungai dan mulai membaca sambil mendengarkan suara alam. Mulai dari suara air di sungai hingga suara binatang-binatang sebelum senja datang. Hati terasa sangat tenang. Dalam kesendirian membaca terkadang muncul ide-ide untuk memecahkan masalah atau hambatan yang kami hadapi. Saya merindukan suasana seperti ini setiap hari hingga saat ini.”
Nggak Cepat Puas
“Saya belum menemukan kepuasan selama bekerja untuk konservasi KEL. Pasalnya, kerusakan di sana sungguh sangat parah. Kekecewaan yang paling besar tentu karena ketidakmampuan saya untuk melindungi KEL dari kehancuran. Bayangkan saja, setiap hari kami menemukan kegiatan ilegal di KEL. Tahun lalu kami memusnahkan lebih dari 1.200 perangkap satwa, ada lebih dari 2.000 kasus perambahan dan illegal logging, lebih dari 10.000 hektare Leuser diubah fungsinya menjadi non-hutan, bahkan tiap tahun gajah, orangutan dan harimau mati dibantai.
“Sebagai sebuah LSM kecil, kami tidak bisa melakukan kegiatan secara maksimal. Jumlah staf kami terbatas dan anggaran juga kecil. Pemerintah belum berperan maksimal, sementara sebagian malah mengabaikan perannya untuk melindungi kawasan yang sangat penting ini. Sangat sedih rasanya melihat kerusakan KEL setiap harinya. Bila tidak dihentikan, nih, dalam lima tahun ke depan seluruh hutan dataran rendah di KEL mungkin akan musnah. Yang berarti pula punahnya harimau, gajah, orangutan, dan sumber air bagi masyarakat, serta lahan pertanian dan pembangunan di Aceh.
“Kami menyadari untuk mengembalikan kesadaran masyarakat harus dimulai dari yang paling mendasar. Meningkatkan taraf pendidikan masyarakat merupakan pendekatan paling efisien—walaupun membutuhkan waktu yang relatif lama. Saat ini kami membina beberapa kelompok masyarakat dan berusaha meyakinkan mereka bahwa dengan merestorasi dan merawat hutan, mereka akan merasakan kesejahteraan. Memang perlu waktu untuk membuktikannya. Apalagi masyarakat tidak mudah percaya bila tidak mereka rasakan sendiri dampaknya.
“Kami tidak punya target lain selain melindungi KEL. Kami akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan bentang alam yang penting untuk kehidupan rakyat kami ini. Kalau hutan kami hilang, air pun tidak ada. Kalau tidak ada air, bagaimana kami hidup? Banyak orang yang bisa hidup tanpa harta, tapi pasti tidak akan bisa hidup tanpa air. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan KEL.” (f)
Topic
#aktivislingkungan


