
Foto: Dok. Femina/Ricko Sandy
Keterlibatan Renatta Moeloek (25) sebagai juri dalam acara televisi MasterChef Indonesia Musim Kelima yang ditayangkan oleh RCTI, awal Maret 2019, bersama chef Juna Rorimpandey dan chef Arnold Poernomo membuat namanya dikenal hingga pelosok negeri.
Bagaimana tidak? Sikapnya yang tegas, tampilannya yang ‘galak’ dengan tato yang menghiasi seluruh tubuh serta menjadi satu-satunya juri wanita, berhasil mencuri perhatian para penikmat setia acara MasterChef Indonesia. Terlepas dari usianya yang muda dan wajahnya yang baru dikenal, nyatanya Renatta punya resume karier yang cemerlang di dunia kuliner. Kepada femina, ia menceritakannya.
Tampil di acara MasterChef Indonesia, wanita bernama lengkap Puti Renatta R. Moeloek ini dikenal dengan sikapnya yang tegas dan to the point dalam mengomentari hasil masakan para peserta. Tak heran, banyak peserta yang merasa ‘takut’ atau segan dengan sosok Renatta.
“Selama menjadi juri, saya akui saya memang tegas, tapi bukan berarti galak. Sebab, saya ingin membangun progres peserta sebagus dan secepat mungkin. MasterChef Indonesia sudah memiliki standar. Itulah yang harus dikejar untuk memenuhi Gallery MasterChef Indonesia,” ucapnya.
Bukan tanpa sebab Renatta menjadi sosok juri yang tegas. Pasalnya, ia percaya bahwa di industri mana pun, termasuk kuliner, ketegasan sangatlah diperlukan. Apalagi bila itu berkaitan dengan hospitality, memberikan kepuasan dan menyenangkan orang lain. Ia pun pernah merasakan ketegasan dari atasannya ketika bekerja di Prancis dulu.
Ketangguhan Renatta memang telah terasah selama di Paris. Ia mengawali karier dari level paling dasar. Ia bekerja rata-rata 16 jam per hari kala itu. “Saya kadang-kadang bertanya dalam hati, inikah kehidupan saya yang sesungguhnya?” tuturnya.
Pengalaman inilah yang ia coba transfer kepada para kontestan MasterChef Indonesia. Termasuk mengajarkan mereka menjadi koki yang percaya diri, pantang menyerah, sekaligus membantu mengasah kemampuannya.
Hal ini ia buktikan sendiri. Ketika ia harus bersanding di antara dua koki pria yang jauh lebih senior, baik dari segi usia maupun pengalaman, misalnya, tak membuat Renatta minder. Dengan percaya diri ia tetap menjalankan peran yang dipercayakan kepadanya secara profesional.
“Kami bertiga ada kelebihan dan kekurangan masing-masing, tentu hal ini jadi nilai tambah. Menjadi kombinasi yang baik. Sebab, walau sama-sama sebagai chef, kami memiliki latar belakang yang berbeda,” ujarnya.
Selama menjadi juri MasterChef Indonesia, banyak hal menarik dan seru dialami oleh Renatta. Salah satunya, ia harus mencicipi makanan yang sangat tidak enak. Padahal, melihat fisik makanan dan melihat proses kontestan memasak saja, ia sudah tahu makanan itu pasti tidak enak.
“Banyak kejadian yang memberikan kesan lucu. Saya antara ingin nangis atau tertawa,” ujar Renatta, yang mengaku bahwa menjadi juri MasterChef Indonesia adalah pengalaman yang tak terlupakan.
Padahal, diakui Renatta, sebelumnya ia tak pernah ingin bergabung menjadi juri ketika mendapatkan tawaran tersebut. “Saya tidak enjoy bila disorot kamera. Saya bahkan tidak pernah mau demo masak dengan sorotan kamera,” katanya, tertawa.
Keraguan pun sempat menyelimuti Renatta, banyak sekali pertimbangan yang melintas di pikirannya. Ia khawatir akan mengganggu pekerjaan utamanya. Apalagi ia belum memiliki pengalaman memasak di depan kamera sebelumnya.
Maklum saja, saat itu ia tengah sibuk dengan profesinya sebagai freelancer chef dan food consultant. Ia juga kerap memberikan layanan private dining untuk kalangan VIP maupun kedutaan besar negara lain di Indonesia. Tak hanya itu, Renatta juga menjadi konsultan untuk restoran yang ia bangun bersama kakaknya, Kareyca Moeloek, bernama Fedwell, di Senopati, Jakarta, sejak September 2018, yang membuatnya sangat sibuk.
Pada akhirnya, Renatta mau menerima tawaran itu karena tidak diwajibkan untuk memasak. Tugasnya hanya menilai masakan para peserta. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena, lewat acara ini ia bisa berbagi ilmu, baik untuk peserta maupun para pemirsa.
“Mumpung usia saya masih muda, tak ada salahnya untuk mencoba hal-hal baru,” tuturnya, serius.
Wanita kelahiran Jakarta, 17 Maret 1994, ini mengatakan, menjadi juri dalam ajang MasterChef memang belum membawa dampak yang sangat berarti baginya. Namun, ia berharap, tayangan-tayangan seperti itu bisa membangun kepedulian masyarakat Indonesia tentang makanan. Tidak hanya memperhatikan tingkah para jurinya. (f)
Baca Juga:
Jacinda Ardern : Perdana Menteri Termuda dari Selandia Baru yang Gamblang Mendukung Minoritas
Namira Zania : Penari & Model Down Syndrome yang Buktikan Pengidap Disabilitas Intelektual Juga Bisa Berkarya
Topic
#chef, #profil


