Karakter Pejuang
Di atas panggung, Asri selalu tampil yang gahar dan ganas. Bersama bandnya, Gugat, tubuh langsingnya melompat dan berlari, secepat raungan lead guitar dan ketukan dinamis double bass drum. Sementara suaranya yang melengking dan serak mengaplikasikan teknik scream tipe yelling falsetto. Tak tersisa lagi kelembutan di sana.
“Ini pilihan saya,” kata Achie, panggilannya. Selain alasan bahwa ia memang tidak menyukai musik dan lagu mainstream, Achie merasa bahwa hardcore adalah sesuatu yang membuatnya hidup.
Lewat YouTube, mari kita lihat bagaimana aksi Achie dalam lagu berjudul Bapakku Seorang Demonstran. Menurutnya, lagu ini adalah salah satu bentuk pengejawantahan dirinya. Lagu itu terinspirasi dari kisah nyata yang ia dan keluarganya alami, rasakan, dan harus dihadapi secara tabah. Achie memilih untuk menjadi seorang pemberontak, sebagaimana ayahnya yang berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan haknya setelah diberhentikan sepihak oleh PT Dirgantara Indonesia.
“Saya terinspirasi pada perjuangan Papi. Ia berangkat ke Jakarta untuk berdemo bersama ribuan karyawan PT DI lainnya. Begitu terus dilakukan selama bertahun-tahun,” kata wanita kelahiran 19 Januari 1982 ini. ”Meski Papi dipanggil untuk bekerja lagi di PT DI, ia menolak. Papi memilih konsisten berjuang bersama teman-temannya, menyuarakan idealismenya, bersikap dan bertindak sesuai dengan hati nuraninya.”
Achie muda belajar bahwa ia boleh melawan ketika diperlakukan sewenang-wenang. Perjuangan sang papi, juga bagaimana sang mami berupaya keras memenuhi kebutuhan keluarga, menempa karakternya. Ia adalah wanita yang dibesarkan dalam ‘perjuangan’.
Genre hardcore yang menawarkan idealisme terhadap isu sosial, politik, ekonomi, bahkan anti kemapanan, seolah memberinya peluang untuk meneriakkan apa yang menggelegak dalam jiwa mudanya. Cintanya pada musik hardcore memang tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Ia memulai kariernya sebagai vokalis band beraliran musik keras pada tahun 1997, melalui band Capability dan selanjutnya band Dining Out. Namanya makin berkibar tatkala bergabung dengan band Gugat, tahun 2003.
Sejak saat itu, Achie yang pemalu dalam kesehariannya, menjadi orang yang energik, tak kenal kata takut, meski ada 40.000 pasang mata yang menatapnya dari bawah panggung. Ya, itu adalah jumlah penonton musik hardcore di Bandung dalam satu konser besar. Melalui suaranya, Achie melempar pesan tentang perjuangan dan perlawanan. Pesan yang disuarakan secara ingar-bingar kemudian direspons secara agresif oleh fans fanatiknya.
Topic
#profil


