
Bangunan baru PAUD Karya Ilahi yang dibangun 2017, menggantikan bangunan sebelumnya yang terbuat dari bilik bambu.
Setulus Hati
Meski memiliki bangunan PAUD fisik, yang bangunannya baru direnovasi pada September lalu - sebelumnya bangunan kelas terbuat dari bilik-, Ursula tidak ingin misinya terkukung dalam satu tempat. Ia sadar, di luar lingkungan PAUD-nya masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat datang ke tempatnya karena berbagai keterbatasan.
Untuk menyentuh lebih banyak anak, Ursula dan suami, menggalakan program ‘guru kunjung’. Awalnya, hanya ia dan suami yang bertugas keliling, menjadi guru kunjung dari satu kampung ke kampung lainnya. Kedatangan mereka bukan hanya untuk mengajar, tapi juga membuat kelompok ‘guru sebaya’ dari anak-anak kampung di sekitar rumah anak berkebutuhan khusus.
Tidak hanya itu, keterbatasan tenaga pengajar, membuat Ursula juga menggerakkan anak muda lulusan SMA, di sekitar tempat tinggalnya untuk belajar menjadi guru. Jadi, setiap Hari Sabtu, Ursula juga menjadi guru untuk guru-guru di PAUD-nya. Ia menggiring teman-teman guru untuk selalu menjalankan misi mengabdi dalam keterbatasan.
“Pasti ada Hellen Keller lain yang lahir dari Maumere. Kami rela memberi dari kekurangan. Kurang dari faktor kemampuan secara ilmu pengetahuan hingga ekonomi. Untungnya kami tak kurang cinta,” katanya, bangga.
Meski begitu, tak dipungkiri Ursula, tantangan terbesar memang datang dari biaya operasional. Selama ini, PAUD Karya Ilahi hanya mengandalkan sumbangan ala kadarnya dari orang tua murid yang mampu yang jumlahnya hanye segelintir saja.
Dana yang terkumpul inilah yang kemudian dipakai untuk uang saku guru, membeli ATK, hingga membantu perlengkapan pembelajaran anak yang berasal dari keluarga tidak.mampu. Baru tahun ini PAUD-nya mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar Rp3,5 juta. “Mudah-mudahan kami bisa dapat meubeler berupa 13 unit meja kursi,” harapnya.
Hingga saat ini PAUD Karya Ilahi memiliki kurang lebih 40 murid. Terdiri dari berbagai jenis kekhususan seperti autis, down syndrome, tuna rungu, rungu wicara, speech delay, dan lainnya. “Ada yang dini secara kalender (2-6 tahun). Ada pula yang dini secara mental (usia kalender sudah 14 tahun tapi usia mental 5 tahun),” ceritanya.
Menurut Ursula, tantangan lain yang ia rasakan justru datang diri orangtua anak berkebutuhan khusus dan lingkungannya. Tak sedikit orang yang pesimis terhadap masa depan anak berkebutuhan khusus. “Kondisi ini membuat kami tertantang untuk membangun rasa optimis orangtua, sehingga mereka memiliki harapan untuk anaknya,” kata Ursula.
Sampai saat ini biaya operasional yang hanya bergantung dari segelintir ortu yang mampu, menjadi kekhawatiran tersendiri. “Bagaimana biaya operasional bisa berlanjut jika sudah tidak ada lagi ortu yang mampu menyumbang?. Kami tidak punya donasi dari manapun,” ungkapnya.
Itu sebabnya, ketika Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan rombongan istri Menteri kabinet kerja yang tergabung dalam OASE KK berkunjung ke PAUD Karya Ilahi pada awal April lalu, ia sangat berharap kunjungan tersebut bukan sekadar penjauan belaka.
“Kami berharap ini adalah bentuk perhatian. Karena ini berarti melihat dengan hati sehingga mampu melihat, mendengar, dan memahami yang tak sempat kami ungkapkan,” kata Ursula, yang mengaku masih sangat berharap dan merindukan kehadiran Ibu negara Iriana Joko Widodo, ke sekolahnya.
Ia pun berharap para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tidak berputus asa. “Tak sedikit orang tua yang menganggap kondisi tersebut sebagai vonis mati, tak ada jalan, tak ada kehidupan, dan tak ada harapan. Saya yakin jika ditangani lebih dini dengan baik, maka ada HARAPAN untuk ‘membanggakan’ banyak orang,” katanya, penuh keyakinan. (f)
Baca Juga
Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
6 Wanita Inspiratif Bicara Soal Perjuangan Mereka dalam Semangat Kartini
Heni Sri Sundani, Penggagas Gerakan Anak Petani Cerdas
Faunda Liswijayanti
Topic
#wanitainspiratif


