Profile
Jenny Jusuf, Kisah Hidup Penulis Naskah Film Ini Sedramatis Tokoh Novel

19 Mar 2017


Foto: Alex Lalisang
 
Berdamai dengan Masa Lalu
Melihat Jenny, sering kali orang langsung menangkap sosok wanita yang ramah dan ceria, apalagi jika pernah membaca bukunya yang berjudul Eat Play Leave: Kisah Bule-Bule Bali, yang nyeleneh. Namun, di balik senyum wanita bertinggi 165 cm dan berat 48 kg itu, ada luka yang perlu waktu bertahun-tahun untuk ia sembuhkan.

Lahir dari keluarga yang bercerai, anak tertua dari dua bersaudara ini  mengaku memiliki masa kecil yang jauh dari bahagia. Meski pikirannya memblokir pengalaman buruknya itu, batinnya tak akan lupa. “Banyak sekali yang saya alami selain pelecehan seksual. I was severely abused during my childhood and teenage years. Tidak hanya itu, saya pun sakit-sakitan sejak kecil. Lebih dari sekali saya berpikir untuk mengakhiri hidup dan merasa depresi adalah ‘makanan’ sehari-hari,” ungkapnya.

Saat remaja, ia berusaha mencari kedamaian dengan aktif di gereja. Namun, tak dipungkiri, ia tumbuh menjadi wanita yang sering menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, kekasih tepatnya, hingga kerap mengalami kekecewaan. Ini yang mendorongnya untuk mencari ‘pengobatan’.
“Saya mulai menerapkan self-healing techniques yang saya pelajari dari guru meditasi saya, Reza Gunawan, pada tahun 2008. Sejak itu, saya mengikuti beberapa retreat meditasi, menjalankan terapi akupunktur, bach flower remedies, homeopati, dan lainnya. Sejak tahun 2012 saya tidak lagi mengonsumsi obat-obatan dan hanya menggunakan produk-produk alami untuk menjaga kesehatan,” kisahnya.

Meski getir, ia tak ragu membuka pengalaman hidupnya. Pengalaman itu  justru membentuk dirinya menjadi wanita yang menurutnya kuat, sehat, bahagia, sejahtera, damai, dan lebih bijaksana. “Saya memiliki komitmen pada diri sendiri: apa pun yang saya alami membuat saya lebih baik, bukan lebih pahit. Termasuk patah hati. Saat Anda pegang mindset ini, Anda tak akan menjadi ‘rusak’ karena segala sesuatunya akan membentuk Anda menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.

Ia tak memungkiri, ada orang-orang yang berjasa atas kebangkitan dirinya. Setidaknya, ada tiga orang yang ia sebut paling besar jasanya: Reza Gunawan, Vito Mucci (USA), dan Shantam Nityama (USA). Bagi Jenny, ketiga terapis itu adalah penyembuh dan guru yang luar biasa.
Bahagia versinya kini adalah menikmati kebebasan dan merasa cukup. Kebebasan untuk melakukan apa yang ia cintai dengan caranya sendiri. Ia memang masih menggenggam impian untuk bisa menjejakkan kaki, traveling ke negeri-negeri impiannya, yaitu Inggris, Bhutan, Islandia, dan Jepang. Namun, bukan berarti ia tidak bahagia. Filosofinya kini adalah merasa cukup dengan apa yang ia miliki dan tidak merasa kurang ketika apa yang ia inginkan belum bisa diraih. Puas dengan sedikit, bukan banyak.

Ia mengaku sudah berdamai dengan masa lalu dan masa kini. Ya, kini ia berusaha berdamai dengan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Ia mengaku lebih senang hidup tanpa rencana. “Jangankan 5 tahun ke depan, minggu depan mau ngapain saja saya belum tahu. Hidup yang terbaik adalah hidup yang tidak direncanakan, setidaknya menurut saya. Sekarang saya jauh lebih relaks. Kalau memang sudah jatahnya, enggak akan ke mana,” katanya. Padahal, lima tahun lalu wanita penyuka warna hijau ini mengaku begitu terpacu untuk mengejar mimpi sampai sering stres dan frustrasi.  

Kalaupun ada yang betul-betul ingin ia usahakan adalah berbagi pengalaman hidup dari apa yang ia petik selama ini kepada sesama wanita. “Many women are struggling,” katanya. Menurutnya, wanita sangat membutuhkan dukungan dan kasih sayang tulus dari sesama wanita. Jenny pun ingin menciptakan karakter wanita kuat dalam naskah film. “Ketangguhan dan energi seorang wanita itu luar biasa. Tapi sayangnya, yang banyak disajikan adalah  tangguh seperti pria,” katanya. (f)

Baca Juga:


Topic

#wanitahebat

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?