
Sebagai karya cipta yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai intangible heritage Indonesia, saat ini mungkin ada jutaan pembatik dan pengusaha batik di tanah air. Namun, tidak banyak seniman batik yang memiliki ‘identitas’, sebuah ciri khas yang bisa membuat desainnya bisa dikenali tanpa harus melihat labelnya. Dari yang sedikit itu, ada nama Go Tik Swan Hardjonagoro, seorang legenda batik asal Solo yang menciptakan batik Indonesia, yang merupakan perpaduan motif dan teknik pewarnaan gaya klasik dengan gaya pesisir.
PENARI GAMBIR ANOM
Sawunggaling, rengga puspita, kembang bangah, kuntul nglayang adalah beberapa motif ciptaan Go Tik Swan (GTS) yang memperkaya khazanah batik Indonesia. Bahkan, motif sawunggaling yang berupa pertarungan sepasang ayam jantan dianggap sebagai masterpiece sang legenda yang juga menjadi must have item para pencinta batik. Batik GTS hingga kini dikenal sebagai batik premium, yang membuat tak banyak orang bisa memilikinya. Karena itulah, tak terhindarkan bahwa label ini sering membuat gentar para calon peminatnya, serasa bahwa hanya para kolektor dan orang beradalah yang sanggup memilikinya.
Batik rancangan GTS mulai diproduksi tahun 1960, di sebuah rumah berarsitektur art deco yang kini dikenal sebagai Dalem Hardjonegaran, di Jl Yos Sudarso, Solo. Rumah yang menempati bidang tanah seluas 2.000 meter persegi (yang kini menjadi cagar budaya) ini terdiri dari rumah utama dengan teras belakang berbentuk setengah lingkaran yang desainnya dibuat oleh Presiden Soekarno.
Di belakang rumah utama ada beberapa bangunan pendopo berlantai semen. Di sinilah batik-batik GTS terus dibuat sejak awal kelahirannya hingga kini. Ibu-ibu pembatiknya sebagian telah berusia lanjut. Salah satunya adalah Mbok Jinah, yang kini telah berusia 82 tahun. Ia dengan telaten menggerakkan canting sejak pagi hingga sore hari, menelusuri pola corak batik peninggalan sang legenda.
Titik balik GTS sebagai pembatik dimulai dari perjumpaannya dengan Presiden Soekarno pada acara dies natalis Universitas Indonesia ke-5 tahun 1955. GTS yang merupakan mahasiswa UI terpilih menarikan tarian Jawa, Gambir Anom, di Istana Negara. Terkesan oleh kehalusan gerak tubuh GTS, Presiden Soekarno menyempatkan diri menyalaminya. Rupanya, tak hanya tarian itu yang memesona Presiden, tetapi juga karena penarinya adalah pemuda beretnis Tionghoa. Sesuatu yang langka saat itu, seorang Tionghoa bisa menari Jawa klasik.
Saat itulah, Soekarno mendapatkan inspirasi baru tentang idealisme persatuan. Ia lalu meminta GTS mewujudkannya dalam satu desain batik. “Djo, (dari Hardjono-pen), kamu kan dari keluarga pengusaha batik, mbok coba membuat untuk bangsa ini ‘batik Indonesia’. Bukan batik Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan lain-lainnya, tapi batik Indonesia,” demikian permintaan Sang Presiden.
Permintaan ini menjelma sebagai perintah bagi Go Tik Swan muda. Padahal, tak pernah terpikir dalam diri GTS untuk menjadi pembatik. Lahir di Solo, 11 Mei 1931, ia berasal dari keluarga pengusaha dan pejabat daerah. Ibunya, Tjan Ging Nio, putri pengusaha batik, yang menjadikan GTS muda beranggapan bahwa batik lebih sebagai urusan bisnis. Ayahnya, Go Dhiam Ik, adalah pengusaha beragam bidang yang juga menjadi orang kepercayaan Belanda dengan jabatan Luitenant der Chinezen van Boyolali, yang memiliki hak monopoli perdagangan garam.
Sebagai putra sulung, GTS diharapkan menjadi ahli waris utama yang akan meneruskan perusahaan keluarga. Berusaha memenuhi harapan tersebut, tahun 1953 GTS mendaftar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tapi rupanya, dia tak sanggup mengingkari kata hati yang lebih berminat pada kesenian ketimbang bisnis. Maka, dia pun beralih ke Fakultas Sastra, Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia, tanpa konsultasi kepada keluarga yang membuatnya menanggung konsekuensi dengan tidak lagi mendapatkan uang dari orang tuanya.
Demi memenuhi permintaan Presiden Soekarno, GTS memulai perjalanan nglakoni demi menemukan ‘batik Indonesia’. Ia melakukan ziarah, meditasi, dan tinggal berpindah-pindah pada sentra batik di berbagai kota di Jawa. Ia memilih bermalam di masjid atau rumah penduduk. Perjalanan spiritual selama lebih dari setahun yang panjang dan melelahkan lahir batin itu justru membuat inspirasinya buntu. Saat itulah seorang teman mengajaknya untuk beristirahat di Bali.
Di Campuhan, Ubud, inilah GTS merasa menerima ‘wahyu’ yang membuat pikirannya terang benderang dan menemukan tafsir sebuah desain batik. Dia segera kembali ke Solo dan mulai memproduksi motif batik tersebut di rumah kakeknya. Terciptalah wastra yang diberi nama ‘Parang Bima Kurda’, sebuah persembahan untuk Soekarno. Kurda bermakna tindakan berani, sedangkan Bima adalah karakter wayang, idola Sang Proklamator.
Kemudian terciptalah motif-motif batik lainnya. Usaha batik kakeknya yang sempat terhenti, kembali berproduksi. Motif-motif batik itu di antaranya adalah motif sawunggaling, yang terinpsirasi saat ia melihat tradisi sabung ayam di Bali. Sabung ayam merupakan ritual awal masa tanam yang dipercaya bahwa tetesan darah ayam yang bertarung akan memberikan kesuburan pada bumi. Ia juga menciptakan motif parang mega kusuma, untuk Megawati Soekarno Putri saat menjadi wakil presiden. Batik ini kini berada di museum batik Danar Hadi, Solo.
GTS memadukan corak klasik keraton (Solo dan Yogya) yang introver dengan gaya pesisir (Pekalongan, Tuban, Lasem) yang ekstrover. Perpaduan itu juga diterapkan dalam teknik pewarnaan. Warna sogan yang monokrom berpadu multiwarna khas pesisir yang cerah. Motif dari daerah lain seperti Cirebon, Madura, dan tenun Bali melengkapi metamorfosis motif batiknya.
Perpaduan ini merupakan cara GTS menafsirkan batik Indonesia sebagai lambang persatuan. Ia menghapus batas-batas kedaerahan, namun tetap mempertahankan nilai falsafah pada tiap corak dan teknik lokal yang menjadi akar masing-masing batik tersebut.

ORANG DESA
Meskipun keturunan orang kaya dan memiliki banyak relasi pejabat, GTS lebih merasa sebagai orang desa. “Saya tumbuh sebagai anak desa, bergaul dengan ratusan tukang batik yang berasal dari desa,” demikian ia mengetik sendiri pernyataannya pada selembar daftar riwayat hidup yang kini menjadi informasi bagi tiap pengunjung Dalem Hardjonegaran.
Ia juga memiliki tradisi menandai hari lahirnya (weton), Selasa Kliwon, pada tiap bulan dengan membagikan nasi bungkus berlauk telur dan sambal kepada masyarakat sekitar. Lauk telur adalah kemewahan pada masa itu dan tradisi berbagi ini berlangsung bertahun-tahun. Sayangnya, tradisi ini terpaksa dihentikan pada tahun 1980. Waktu itu terjadi kerusuhan besar anti Tionghoa di Solo, sehingga para kerabat dan teman-temannya dari kalangan pers khawatir bahwa tradisi berbagi ini akan disalahtafsirkan oleh pihak-pihak tertentu karena situasi yang sensitif pada masa itu.
Memilih tidak berkeluarga, beliau mengabdikan hidupnya kepada masyarakat yang lebih luas. Dirintisnya pendirian Yayasan Pendidikan Saraswati, yang menjadi cikal bakal Universitas Negeri Sebelas Maret. GTS juga mendapat kepercayaan dari almarhum Paku Buwono XII untuk memimpin pemugaran Museum Keraton Kasunan Surakarta. Tahun 1964, GTS juga menjadi pengelola paviliun Indonesia pada ajang New York World’s Fair di New York selama 6 bulan. Di sinilah motif modern ‘batik Indonesia’ menarik perhatian publik Amerika.
Sekian banyak penghargaan telah diterima GTS semasa hidupnya. Dia adalah orang Tionghoa pertama yang menerima anugerah derajat tertinggi dari Keraton Kasunanan, yaitu sebagai Panembahan Hardjonagoro. Penghargaan lainnya di antaranya, Bintang Bhakti Budaya tahun 1993 bersama para seniman lain, yaitu Gesang (pencipta lagu Bengawan Solo) dan Waljinah (penyanyi keroncong legendaris), Anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2001, dan Putra Terbaik Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma tahun 2011 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Hal ini seolah membuktikan bahwa pilihan GTS untuk mencintai seni tidaklah keliru. Kesetiaan pada seni inilah yang menjadikan harapan orang tuanya terpenuhi, bahkan melebihi ekspektasi. GTS tidak sekadar menjadikan perusahaan batik warisan kakeknya terus hidup hingga kini, namun juga menjadikan nama keluarganya harum.
Namun, berbagai penghargaan yang seolah makin meninggikan derajat tersebut tidak menjauhkan hatinya yang tetap merasa sebagai rakyat biasa. Jauh hari sebelum berpulang pada 6 November 2008, ia telah memilih sebidang tanah di Danyung, pemakaman desa tepi Kota Solo, sebagai peristirahatan terakhirnya. Sebuah pilihan yang sangat sederhana karena sesungguhnya beliau mendapatkan hak untuk dimakamkan di Imogiri, pemakaman kerabat keraton.

NUNGGAK SEMI
Terhitung sudah 7 tahun lebih GTS berpulang. Namun, corak batik kreasinya yang dilegitimasi Presiden Soekarno sebagai batik Indonesia hingga kini terus diproduksi. Karena memilih melajang, kini batik Go Tik Swan berada dalam pengelolaan pasutri Hardjosoewarno dan Supiyah Anggriyani yang sudah mengabdi kepada GTS sejak masih usia muda.
Sejak semula wastra ini bukanlah produk pasaran karena GTS memegang teguh proses pembatikan sebagai sebuah seni, yang tak teralihkan pada mesin. Keterampilan tangan pembatik dan pengolah warna menjadi unsur utama. Keahlian yang tidak mudah diwariskan dan melibatkan banyak hal pribadi. GTS telah berpikir panjang tentang hal ini dan menerapkan konsep ‘nunggak semi’, yakni konsep pengembangan berdasarkan tonggak lama yang tetap bersemi, namun tidak memunculkan pertumbuhan yang liar menyimpang dari akarnya.
Supiyah memegang teguh konsep ini dengan mempertahankan keaslian desain motif ciptaan GTS. Ragam pola dan teknik pembatikan terjaga keautentikannya, tidak ada yang diubah sedikit pun (kecuali pewarnaan, karena ketersediaan warna di pasaran dan cuaca yang sangat berpengaruh sehingga tidak selalu sama saat reproduksi).
Dengan rentang harga per lembar Rp700.000 hingga lebih dari Rp7 juta, pesanan terus berdatangan dari berbagai pihak dan semua diwujudkan dengan dukungan pembatik dan para staf sekitar 50 orang. “Kami menyadari bahwa proses regenerasi seakan berjalan lambat, karena lebih banyak mendapatkan calon pembatik baru dari kalangan dekat para pembatik sebelumnya,” tutur Supiyah, mengenai situasi yang mereka hadapi kini.
Maklum, proses belajar yang dijalankan di batik Go Tik Swan memang menggunakan proses kekeluargaan, tanpa ‘kurikulum’ sehingga tidak ada jangka waktu yang standar bagi sebuah “kelulusan”. Proses produksi yang panjang dan rumit, yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk mempertahankannya. Namun, pada akhirnya, justru elemen-elemen inilah yang menjadikan batik Indonesia Go Tik Swan menjadi tak ternilai.
Konsep kekeluargaan ini terlihat di Dalem Hardjonegaran. Sore hari, saat pembatik beranjak pulang dan melewati teras tempat kami berbincang, Hardjosoewarno dengan santun menyapa para pembatik, “Sampun rampung (sudah selesai)?”
Harjosoewarno yang adalah pimpinan, justru menyapa lebih dulu kepada tiap karyawan. Lalu para karyawan melaporkan beberapa hal, yang lebih sebagai perbincangan akrab sebelum mereka pamit. Demikian terjadi pada satu per satu karyawan. Beberapa pembatik adalah juga petani yang tinggal di desa. Untuk mereka, Supiyah mengizinkan kain dibawa serta untuk ‘dicanting’ di desa. Dengan pola kerja harmonis seperti inilah, wastra batik ini lahir.
“Ora nyugihi, nanging nguripi (tidak membuat kaya, namun menghidupi),” kata Supiyah. Berdampingan dengan Hardjosoewarno, Supiyah dengan ikhlas memegang teguh amanah almarhum Go Tik Swan untuk terus melestarikan kebudayaan Jawa yang seolah telah rapuh, seumpama pohon tua yang harus dijaga demi menumbuhkan cabang baru yang segar.(f)
Sanie B. Kuncoro (Kontributor – Solo)



