Profile
Erni Aladjai, Fiksi untuk Desa

17 May 2016


 
Foto: Mohammad Zaki 

“Jangankan membayangkan ke Amerika, dulu berpikir bisa menginjak tanah Jawa saja sudah senang,” ujar penulis Erni Aladjai (30) sambil tergelak, saat membuka perbincangan dengan femina. Sambil bercanda, ia mengatakan bahwa pulau tempat kelahirannya pun tak muncul di peta saking kecilnya.

Lahir dan tumbuh di Desa Lipulalongo, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, dengan kondisi serba terbatas di pelosok membuatnya termotivasi untuk belajar dan mengubah nasib. Ia sadar betul, kata bisa menjadi pedang tajam jika disuarakan dengan tepat. Penulis pemenang Sayembara Fiksi Femina ini konsisten mengangkat kerumitan masalah di pedesaan dan meraciknya jadi amunisi untuk memerangi ketidakadilan.
 
Semua Gara-Gara Fiksi
Keprihatinan Erni pada kondisi kampung halamannya, secara konsisten diangkatnya dalam karya fiksi. Tiap ada kesempatan pulang kampung, ia memperhatikan  perubahan yang terjadi di desa dan menuangkannya dalam esei atau fiksi. Baru-baru ini, misalnya, ia harus berurusan dengan polisi gara-gara karya di kumpulan cerpen Ning di Bawah Gerhana, yang ia sumbangkan ke perpustakaan sekolah di desanya. Cerpen yang bercerita tentang kepala desa yang korupsi saat pilkada itu membuat tersinggung seorang pejabat desa yang kebetulan membaca buku itu. Jadilah Erni dilaporkan ke polisi, bahkan dituduh antek PKI, padahal tidak ada satu pun karya di buku itu yang bertemakan tragedi 1965.

Pengalaman ini membuat Erni sadar betapa suram potret pendidikan di sana. “Di daerah saya, sesuatu yang baru, seperti gagasan dari buku, masih sering dianggap hal berbahaya, seperti PKI. Untungnya, polisi yang memeriksa saya paham kedudukan fiksi yang tidak bisa dibawa ke ranah hukum. Malah beliau mengatakan, pak kades tidak bisa melaporkan saya, dan justru seharusnya bangga karena ada anak daerah yang punya karya dan bisa menyumbang buku ke perpustakaan sekolahnya,” katanya, disambung tawa.  
           
Berkat fiksi pula, Erni mendapat kesempatan untuk terbang jauh dari desa kelahirannya. Karyanya, Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang yang menjadi Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 lalu, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Dalang Publishing, sebuah penerbit nirlaba dan akan diperkenalkan ke publik internasional melalui serangkaian diskusi di beberapa universitas di Amerika Serikat.

Ia memilih Pulau Kei sebagai latar belakang cerita karena lokasinya yang dekat dengan kampung halamannya, Banggai Laut. Kisah Kei berasal dari sepenggal ingatan Erni tentang obrolannya dengan seorang pengungsi saat terjadi kerusuhan di pulau kecil tersebut. “Ia menceritakan kondisi Maluku yang sangat mengenaskan saat kerusuhan dan bagaimana sulitnya mereka mencari tempat untuk bersembunyi. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan dan hanya ditutup dengan daun pisang,” tutur Erni.  

Tahun 2011, ia lantas mendapati fakta baru dari buku hasil penelitian aktivis kemanusiaan Ken Sa Faak di Kei, Maluku Tenggara, berjudul Benih-Benih Perdamaian di Pulau Kei. Ternyata, di satu pulau kecil di Maluku ini lebih cepat pulih dari kerusuhan dibandingkan ibu kota provinsinya, Ambon, bahkan daerah lain seperti Aceh dan Sampang. Proses rekonsiliasi kekacauan yang memanfaatkan kekuatan daerahnya sendiri ini lalu menjadi fokus cerita Kei. Setelah Kei terbit, ia menerima banyak surat dari pembaca yang mengatakan bahwa mereka baru tahu ada pulau bernama Kei di Indonesia.

Mengikuti sayembara penulisan merupakan salah satu strategi Erni untuk menembus penerbitan dan memperkenalkan karyanya kepada masyarakat luas. Kemenangannya di Sayembara Fiksi Femina diakuinya telah membukakan banyak kesempatan. Noveletnya, Sebelum Hujan di Sea-Sea dan Rumah Perahu, menyabet dua kemenangan sekaligus di Sayembara Fiksi Femina 2012, dan karya-karya cerpen lainnya kemudian menjadi ‘langganan’ dimuat di berbagai media nasional.
           
“Situasi di desa saya membuat orang sulit untuk maju,” katanya, prihatin. Di desa berpenduduk 300 jiwa itu, warga saling mengenal, namun masih banyak yang tidak bersikap baik kepada sesamanya. Penduduk harus membeli kebutuhan pokok di luar pulau dan pulang ke desa kerap disambut dengan pandangan iri warga lain.

Belum lagi, praktik tenung yang masih kerap muncul di desa. Tapi, yang paling mengganggu Erni adalah sikap buruk para pendidik. Guru di desanya masih suka memukul siswa. Jika ada yang tidak bisa menjawab pertanyaan, siswa dihukum dengan dibedaki kapur tulis yang membuat kulit gatal, disuruh masuk ke bawah meja, dan ada yang digantung terbalik!

“Guru-guru di desa saya tidak mengenal istilah kekerasan terhadap anak. Lokasi desa yang terpencil, jauh dari mata media dan pengawasan pemerintah, membuat guru dan pejabat kecil saja sering berbuat seenaknya,” ujarnya, kesal.
           
Menurut Erni, kehadiran televisi juga menjadi pendorong konsumerisme utama di desanya. Keterbatasan listrik dan ketiadaan sinyal telepon di desa tidak membuat mereka batal mengisi rumah dengan alat elektronik dan membeli ponsel yang akhirnya hanya berfungsi untuk memutar musik saat berkebun. Kini, orang-orang desa tak lagi selugu yang digambarkan di dalam fiksi.

“Mereka justru lebih berbahaya karena melahap mentah-mentah apa yang ‘diajarkan’ sinetron dan iklan pada mereka,” kata Erni, yang dengan tajam mengamati  tiap perubahan yang terjadi di daerahnya. Konsep ‘putih itu cantik’ membuat gadis-gadis belia berbondong-bondong memakai krim pemutih murahan, padahal pemutih justru merusak wajah mereka di tengah panasnya udara laut. Para istri nelayan, dengan pendapatan Rp10.000 tiap hari dari suaminya, berusaha membeli krim pemutih yang harganya ratusan ribu.

Selain itu, luapan informasi dari media visual tidak ditunjang dengan pendidikan yang memadai. Akses pada bacaan bermutu juga sangat sulit. Meski demikian, ia telah mengenal femina dan rubrik fiksi sejak SMP. “Di kota kabupaten ada kios majalah bekas yang didatangkan dari provinsi. Majalah yang dijual edisi lama, 3 bulan lalu, bahkan ada terbitan 1-2 tahun lalu. Tapi, hebatnya, tetap laku! Yang beli biasanya wanita-wanita guru, saya meminjam femina dari mereka,” ujar penulis Dari Kirara untuk Seekor Gagak (2013) ini.
 
Melayari Indonesia
Ia memutuskan merantau sejak usia 15 tahun ke kota kabupaten bertepatan dengan masuknya sebuah harian lokal. Barulah ia mendapatkan wadah untuk menulis. Kehadiran pelajaran bahasa Prancis di SMA menjadi daya tarik tersendiri bagi Erni dan makin yakin untuk memilih Sastra Prancis di Universitas Hasanuddin, Makassar. Memasuki dunia sastra lebih dalam dan mempelajari budaya dan karya-karya penulis dunia, seperti Victor Hugo, Emile Zola dan sastrawan Eropa lainnya, membuatnya lebih yakin, sastra adalah jalur yang tepat untuk dirinya.

“Sejak kecil saya sudah suka membaca. Sehari-hari, nenek saya suka berpantun dan mendongengi Babad Banggai kepada saya. Ibu saya pemain drama dan ayah saya selalu menyediakan buku-buku bacaan yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah tempatnya bekerja,” kisahnya, bernostalgia. Sebelum pensiun dan menjadi petani cengkih, ayahnya mengabdi sebagai penjaga sekolah di SDN I Lipulalongo.
           
Di sela kesibukannya menulis, Erni tak lupa pada impian memperbaiki wajah pendidikan di pulau-pulau kecil di tanah air dengan cara bergabung menjadi relawan di proyek Perahu Pustaka. Proyek literasi ini dirintis oleh Muhammad Ridwan Alimuddin atas gagasan sastrawan Nirwan Ahmad Arsuka.
           
Perahu Pustaka berbentuk perpustakaan perahu yang akan mendatangi pulau-pulau kecil yang sulit akses bacaan, terutama di Indonesia Timur. Untuk melengkapi perpustakaan keliling ini, ada juga Becak Pustaka, Motor Pustaka, Bendi Pustaka, dan Rumah Baca Perahu Pustaka.

Dengan perahu baqgo, perahu tradisional Mandar, tim Perahu Pustaka berlayar dari Teluk Mandar ke Makassar selama dua hari semalam dengan nakhoda Muhammad Ridwan Alimuddin, pelaut dan sejarawan Mandar. Rencananya, Perahu Pustaka akan berlayar sebulan dua kali di perairan Sulawesi. Koleksi bukunya diperoleh dari sumbangan masyarakat. Mereka sengaja memilih membawa buku-buku dongeng dengan gambar menarik untuk memancing rasa keingintahuan anak-anak.

“Saat Perahu Pustaka menggelar bacaan di Desa Lapeo, Sulawesi Barat, anak-anak bukan main senangnya. Lalu, ketika perahu kami berlayar, anak-anak yang rata-rata berusia 7-9 tahun itu dengan antusias turut membantu kami mengangkut kargo yang berisi sekitar 400 buku ke dalam perahu. Bahkan, ada yang sampai menangis karena tidak kebagian membantu kami,” papar Erni, yang juga sedang merintis Rumah Baca Perahu Pustaka di desanya, di sebuah pondok kecil yang ia beli dari hadiah kemenangan di Sayembara Fiksi Femina 2012 lalu.

Meski desa menjadi ladang inspirasi yang tiada habisnya untuk dipanen, sulung dari tiga bersaudara ini merasa ketenangan desa justru membuatnya tidak bisa menulis. Ia lebih merasa nyaman menulis saat melebur dalam keramaian kota. “Saya akan tetap menulis tentang Indonesia Timur dan laut. Indonesia ini negeri maritim, tapi sedikit sekali karya sastra tentang laut,” tegas Erni, yang ingin mengisi ruang kosong tersebut dengan karya-karya selanjutnya. (f)

Baca juga:
Jenny Jusuf, Kisah Hidup Penulis Naskah Film Ini Sedramatis Tokoh Novel
Kim Eun-Sook, Wanita di Balik Kesuksesan Goblin dan Descendants of The Sun
Gina S. Noer, Proses Panjang untuk Menulis Naskah Film yang Ditonton Jutaan Orang
Laila Nurazizah, Penulis Naskah yang ‘Dipilih’ oleh Cerita


Artikel ini telah diperbaharui pada 5 Oktober 2017.


 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?