
Foto: Adam Glen
Di kawasan Cigadung, Dago Atas, Bandung, terdapat sebuah rumah berpagar rendah, dengan aksen ribuan botol berwarna cokelat sebagai dinding. Di balik dinding ruang depan, tampak pekarangan dalam rumah yang tertata apik, dengan sebuah kolam renang kecil. Tak salah lagi, rumah yang bentuknya paling berbeda dari lingkungan di sekelilingnya --yang umumnya bangunan rumah besar berpagar tinggi-- ini adalah rumah yang didiami arsitek dan Walikota Bandung, Ridwan Kamil.
Rumah Impian
Ditemui di kediamannya, pria yang akrab disapa Emil ini bercerita tentang konsep rumah tinggalnya. “Konsep rumah saya adalah open lay out. Dari dulu, saya ingin punya rumah yang suasananya seperti resor. Untuk itu, saya membuat courtyard, taman di tengah. Cahaya datang dari 3 sisi. Udara mengalir, dan ada kolam juga yang membuat penguapannya bikin adem. Materialnya menggunakan 30 ribu botol,” tutur suami dari Atalia Praratya, dan ayah dari Emeril (13) dan Kamilia (8) ini.
Atas desainnya yang dianggap ramah lingkungan ini, ia pun beroleh penghargaan Architect of the Year dari Elle Decor Magazine tahun 2009. Rumah dengan taman di tengah memang hampir selalu menjadi ciri khas dalam tiap desain hunian karyanya. Salah satu bagian atap ia manfaatkan untuk bertanam sayur-sayuran dengan pot.
Untuk kamar tidur, ia sengaja mendesain kamar yang terhubung dengan perpustakaan tempat ia menyimpan buku-buku, koleksi memorabilia, dan walking closet sehingga kamar terkesan luas. Ada pula pintu dengan tangga kecil yang terhubung ke kamar anak-anak. Tak ada sudut favorit di rumahnya yang penuh dengan lubang-lubang angin dari kompilasi botol-botol yang ia ‘tanam’ sebagai dinding. “Saya sengaja membuat banyak tempat untuk leyeh-leyeh di rumah. Semua sudut rumah ini bagi saya menyenangkan,” ungkapnya.
Selain faktor sehat, rumah, kata Emil, juga harus punya kepribadian. “Saya senang rumah yang hangat. Berantakan sedikit tidak apa-apa, asal bukan rumah yang minimalis. Dingin,” ujarnya. Kritik Emil terhadap rumah-rumah orang Indonesia adalah masih banyaknya rumah yang boros energi. Sebagai orang yang hidup di negeri tropis, saran Emil, idealnya rumah harus banyak bukaannya, jendela besar-besar, dan ada ruang terbuka. “Tapi, sering kali rumah modern itu terlalu tertutup dengan jendela kecil. Untuk itu, masing-masing ruangan membutuhkan AC. Coba kalikan dengan berapa juta rumah. Itu salah satu yang membuat bumi makin panas,” ujarnya.
Mengenai hal ini, Emil memberi solusi membuat rumah dengan atap beton, yang di atasnya bisa dibuat taman atau rooftop garden. “Andai semua rumah punya rooftop garden, ini bisa mengurangi suhu menjadi lebih adem.”
Dalam konteks kota yang makin padat, sebaiknya rumah dibuat makin tinggi atau vertikal. Sebuah kota yang baik akan memprediksi jumlah penduduknya dan menyiapkan kapasitas huniannya dalam bentuk vertikal. Tidak harus selalu berwujud apartemen. Ia memberi contoh, bisa saja rumah setinggi 4 tingkat, lalu 2 tingkat masing-masing untuk 1 keluarga. “Jika semua orang ingin punya rumah, dari segi prinsip efisiensi tentu lebih tepat rumah vertikal, sebab tanah yang ada tidak akan mencukupi.”
Hal lain yang amat ia banggakan dari tempat tinggalnya di Bandung adalah rutenya yang pendek. Jarak rumah dengan kantornya, cukup 10 menit dengan bersepeda. Jarak rumahnya dengan rumah orang tuanya, yang juga rumah masa kecilnya, hanya 5 menit dengan berjalan kaki. Begitu juga jarak rumahnya ke rumah mertua, hanya sekitar 8 menit. “Rute saya itu-itu saja. Paling jauh ke ITB, sekitar 15 menit. Dengan begitu, saya punya banyak waktu untuk menulis, mengkhayal, dan berimajinasi.”
Meski berdomisili di Bandung, dua kali dalam seminggu ia harus berada di Jakarta. “Selasa dan Rabu adalah waktunya meeting dengan klien di Jakarta. Di Bandung untuk berimajinasi,” tutur pria yang punya hobi fotografi, traveling, bersepeda, jogging, dan berkebun ini.
.
Antara Amerika Serikat - Bandung
Emil adalah pria di balik berdirinya komunitas urban farming Indonesia Berkebun yang sekarang diikuti di 25 kota. Tak hanya itu, ia pula penggagas Bandung Creative City Forum (payung komunitas kreatif dan seni di Bandung), bike.bdg (shelter penyewaan sepeda di beberapa titik di Bandung), dan one village one playground (membangun taman-taman bermain bagi anak-anak, yang sedang dirintisnya di Bandung).
Perjalanan karier lulusan arsitektur ITB ini sudah dimulai jauh sebelum ia mendirikan kantor biro arsitektur Urbane di Bandung tahun 2004. Ia mulai merintis karier arsitek pertama kali ketika ia mendapatkan kesempatan magang di sebuah kantor arsitek di Baltimore, AS. Akan tetapi, Emil harus mendapatkan ujian berat saat krisis moneter tahun 1997 menerjang, dan ia menjadi korban PHK. “Belum pernah seumur-umur saya dipecat. Pulang ke tanah air? Rasanya malu,” kenang Emil.
Satu momen lalu hadir. Emil bertekad untuk memotivasi diri sendiri di tengah cobaan itu. “Saya tidak pulang. Saya mau cari kerja sendiri saja,” tuturnya. Ia pun melewati proses mencari kerja, keluar masuk berbagai kantor untuk melamar pekerjaan. Pada saat itu, ia kembali diuji. “Saya dilecehkan karena orang Indonesia. Selalu ada pertanyaan, ‘Memang kamu sekolah di mana? Yang kerja di sini harus lulusan Harvard atau MIT.’ Gambar karya saya juga diejek dan dikatakan jelek. Betul-betul ujian mental,” kata Emil.
Akhirnya, ia diterima bekerja di sebuah biro arsitek lain. Sempat menikmati masa-masa nyaman, lagi-lagi ia tersandung masalah, kali ini berkaitan dengan visa yang belum diperpanjang. Perusahaan itu akhirnya terpaksa melepaskannya. Padahal, saat itu, istri Emil tengah hamil 8 bulan. “Selalu siap menghadapi hal-hal yang tak terduga, itulah pelajaran berikutnya. Hidup di negeri orang memang harus kuat,” ujar Emil, yang kemudian bekerja apa saja demi bisa menyambung hidup di sana sampai kelahiran anaknya.
Beruntung, tak berapa lama kemudian, ia berhasil mendapatkan beasiswa S-2 dari University of California, Berkeley. Setelah mendapat gelar Master of Urban Design, ia kembali bekerja menjadi arsitek di sebuah perusahaan. Kerja keras Emil pun perlahan-lahan mulai mendapat apresiasi dari kantornya. Ia kerap dipercaya memegang proyek-proyek besar di beberapa negara, antara lain Hong Kong, Cina, dan negara di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, bekerja di Amerika tidaklah sekeren yang dibayangkan orang. Comfort zone berkarier di Amerika malah membuatnya gelisah. Hati kecilnya memanggil untuk pulang ke tanah air. Setelah melihat banyak tempat di dunia, ia menjadi sedih tiap kali pulang ke tanah air yang menyimpan banyak problem sosial. “Kalau saya tidak pulang, hanya energi arsitek saja yang keluar. Dan saya hanya menjadi pekerja 9 to 5. Akan tetapi, kalau pulang, saya dibutuhkan, bisa menjadi entrepreneur yang mempekerjakan banyak orang. Selain bekerja, saya juga mengajar dan bisa membuat berbagai kegiatan sosial kreatif. Di sini, ada faktor happiness di luar materi,” ungkap Emil, tentang kepulangannya ke Indonesia, 8 tahun silam.
Pria Sejuta Gagasan
Kekuatan orang Indonesia, menurut Emil, adalah kekompakannya. “Kalau kita sudah kompak, kita itu juara dunia. Saya diundang ke beberapa negara di Eropa hanya untuk mendengar bagaimana eksperimen sosial ini dibuat. Jika di negara lain, semua fasilitas publik menjadi tugas pemerintah, di kita sebaliknya. Pemerintah masih banyak kekurangannya, namun masyarakatnya kuat,” jelas Emil. Sehingga, tak sedikit dari kita yang punya gagasan menyatukan kekompakan itu sebagai jawaban dari problem sosial.
Kekompakan sosial menjadi aset orang Indonesia. Lebih lanjut, Emil mengatakan, masih banyak kebaikan yang belum tersalurkan secara optimal karena minimnya gagasan baru, seperti sedekah, zakat, CSR, dan sebagainya. Di sini, Emil merasa dituntut untuk bergerak lebih dari kapasitasnya. “Saya kira, itu relevansi Sumpah Pemuda dengan kehidupan sekarang: menciptakan gagasan baru dan mendorong perubahan. Kalau dulu masalahnya besar dan hanya satu: penjajahan, sekarang masalahnya banyak,” ujar Emil.
Pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971, ini yakin, masa depan bangsa terletak pada gagasan. “Saya berkesimpulan, menyempurnakan Indonesia dalam praktik saja tidak cukup. Harus lewat edukasi dan melakukan banyak gerakan di masyarakat. Menurut pengamatan saya, banyak orang Indonesia yang tipenya menunggu. Kalau mereka diberi gagasan, banyak yang sebenarnya mau bergabung. Contohnya, ketika saya lemparkan gagasan urban farming, awalnya hanya Bandung dan Jakarta, sekarang sudah diadopsi di 25 kota,” ujar pria yang bermimpi dalam 5 tahun ke depan, urban farming menjadi budaya dan keseharian banyak warga kota.
Urbane yang didirikannya juga menjadi salah satu kendaraan sosialnya. Urbane yang sekarang memiliki 40 staf, berasal dari kata urban evolution. Menurut Emil, masalah jangka panjang Indonesia adalah kota yang sakit, jalanan makin macet, akibatnya warga pun stres. Ia pun mencoba banyak berinovasi. Arsitektur, kata Emil, adalah tentang memperbaiki kota secara perlahan-lahan. Dan itu yang kini sedang ia lakukan.
Di kantornya, ia pun membuka departemen urbane community. Ini adalah bagian dari subsidi silang untuk proyek sosial. Ia misalnya, mengadopsi kampung untuk ditata, menyelesaikan masalah banjir, membangun rumah antigempa, mendirikan masjid dari batako yang berasal dari abu Gunung Merapi, membuat taman bermain, dan lainnya.
Ada juga divisi urbane traveling fellowship, yakni memberi beasiswa kepada mahasiswa arsitektur terbaik untuk jalan-jalan ke luar negeri. Emil percaya, traveling akan bisa membuka mata dan bisa menginspirasi para mahasiswa.
Emil masih menyimpan jutaan gagasan dan mimpi-mimpi yang lain. Ia bermimpi, akan makin banyak komunitas baru yang lahir. Sebab, ia percaya, komunitas adalah agen perubahan. Proyek impiannya yang lain, membuat sebuah lembaga untuk menyalurkan CSR perusahaan-perusahaan dalam program kreatif yang memiliki visi humanitas. “CSR itu dananya banyak, tapi idenya masih minim. Saya ingin fokus membantu menyelesaikan masalah Indonesia oleh masyarakat itu sendiri. Misalnya, bank sampah, supermarket sampah, playground, dan banyak lagi gagasan lainnya. Kalau itu terwujud, maka sudah terjadi satu sistem baru. Ada uang yang tersalurkan untuk perubahan-perubahan,” tuturnya. (f)



