
Foto: Dok. Pribadi
Komunitas bisnis digital mengenal Danny Oei Wirianto (42) sebagai otak brilian di balik kesuksesan KASKUS. Dengan kreativitasnya, ia berhasil membangun ulang citra KASKUS menjadi marketplace gratis dan komunitas maya terbesar yang fenomenal di Indonesia. Namun, perjalanan suksesnya dibangun oleh serangkaian kegagalan dan kesulitan hidup. Passion terbesarnya kini adalah memastikan tiap orang berhasil meraih mimpinya.
Bisa dibilang, Danny adalah tokoh perintis berkembangnya bisnis digital di tanah air. Hingga saat ini, telah belasan perusahan startup digital dan advertising ia besarkan. Sebut saja, seperti Semut Api Colony, KASKUS, MindTalk, Klix Digital, MediaXasia, MerahPutih Inc., DailySocial.id, Infokost.id, Bolabob.com, dan Kincir.com.
“Saya masuk ke industri ini sebagai technopreneur di saat yang tepat,” ujar pria yang pernah dua kali gagal naik kelas saat di bangku SMP ini, bersyukur. Agar bisa menelurkan perusahaan bintang, Danny selalu fokus pada detail, mengerahkan totalitasnya, dan sabar menunggu proses memetik hasilnya.
“Dosen saya selalu berkata, kalau kamu berkarya, buatlah masterpiece. Hanya dengan cara itu seniman akan dikenal. Bukan karya yang biasa-biasa saja,” kenang pria yang berlatar belakang pendidikan seni ini. Menurutnya, membesarkan bisnis memiliki kesamaan dengan membuat karya seni. Saat melukis, cat minyak harus ditunggu kering dahulu sebelum menggoreskan warna lainnya. “Demikian juga membesarkan bisnis, ada prosesnya dan butuh kesabaran,” jelas Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia ini.
Danny merintis bisnis pertamanya, Semut Api Colony, pada tahun 2001, dengan jatuh bangun. Bersama tiga rekannya, Danny mencoba menjalankan usaha di bidang branding & advertising di Amerika. Namun, baru 10 hari ‘buka kantor’, tragedi 9/11 terjadi. Perekonomian Amerika pun terguncang. “Bisnis saya tak bisa jalan saat itu. Akhirnya, saya putuskan untuk kembali ke Indonesia dan mengubah rencana saya untuk settle down di Indonesia saja,” ujar Danny, yang menghabiskan waktu sembilan tahun di Amerika.
Tahun 2003, Semut Api Colony pun resmi didirikan di Indonesia. Tahun-tahun pertama adalah masa penuh perjuangan bagi perusahaan startup ini. “Saat itu belum banyak klien yang kami dapatkan. Kami benar-benar memulai semuanya dari nol. Namun, lewat kerja keras, totalitas, dan profesional kerja, lambat laun mulai banyak klien yang percaya kredibilitas agency ini,” kisah The CMO (Chief Marketing Officer) Asia of The Year dan Top 100 Young Influencers in Indonesia dari MarkPlus, Inc ini.
Tak hanya menghadapi tantangan memperoleh klien, problem klasik mempertahankan talent juga jadi risiko yang harus dihadapi pebisnis. “Talent yang saya ajari dan sudah jadi pintar, satu per satu meninggalkan perusahaan dan buka perusahaan sendiri,” ujar CMO GDP Venture, perusahaan yang fokus pada bisnis internet ini. Meski demikian, ia mengaku senang dan bangga jika ada karyawannya yang bisa sukses mengikuti jejaknya menjadi pebisnis.
Butuh waktu tujuh tahun hingga akhirnya agency yang dibangun Danny ini mendapat pengakuan dengan meraih penghargaan sebagai The Best Rising Star Agency. Danny tak puas sampai di situ dengan pencapaiannya. Insting bisnisnya langsung menyala ketika ia melihat potensi besar KASKUS. Tahun 2008, ia masuk ke Kaskus dan bertindak sebagai CMO (kini Shareholder). Danny sukses menjadikan Kaskus sebagai marketplace gratis dan komunitas maya terbesar di Indonesia.
Dalam waktu kurang dari 2 tahun, jumlah Kaskuser pun berlipat dari 350 orang menjadi 1 juta orang lebih. Tiap tahunnya, KASKUS juga mencetak penghasilan puluhan miliar rupiah. Rahasianya sederhana, ia menggunakan kekuatan loyalitas anggota KASKUS (atau biasa disebut dengan Kaskuser) untuk menjaga kultur di KASKUS sehingga menjadikan forum ini begitu spesial dan dekat di hati para Kaskuser.
Sukses dengan KASKUS, tahun 2010 ia membentuk holding company MCM yang menjadi payung dari belasan perusahaan start up digital dan advertising. Salah satu sukses besar lainnya setelah Semut Api dan KASKUS, adalah MindTalk. Jejaring sosial berbasis minat ini lahir dari pemikiran Danny yang melihat bahwa manusia butuh wadah berinteraksi di dunia digital.
Tahun pertama diluncurkan, MindTalk berhasil menarik 180.000 pengguna. Kini per tahun sedikitnya dua ribu orang baru bergabung. Tak heran jika kemudian sebuah brand akan berani membayar mahal untuk mendapatkan data perilaku konsumen dari grup komunitas yang telah terbentuk di MindTalk. (f)
Artikel ini telah diperbarui pada 10 Januari 2017, pukul 15.43.
Baca Juga:
- Abdullah Azwar Anas, Mengubah Wajah Banyuwangi
- Firliana Purwanti, Menyuarakan Kesetaraan Gender Lewat Orgasme
- Melissa Sunjaya, Berani Membisniskan Seni
Topic
#priahebat


