Profile
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo

3 Feb 2020


Dok. Dodi Risdianto




Melihat ke belakang, Dina mengaku ia tak pernah memimpikan dirinya akan menjadi bridge engineer. Memang, setelah mengenyam pendidikan teknik sipil di Institut Teknik Bandung, ia sempat bekerja sebagai konsultan perencanaan gedung selama 4 tahun. Namun, setelahnya Dina bersama suami memutuskan pindah ke Bandung. 

Kala itu, yang tebersit dalam pikirannya setelah berhenti dari pekerjaannya hanya ingin menjadi ibu rumah tangga sambil menjadi guru senam atau membuka
day care di rumah. Tapi, dorongan sang ibunda, Siti Rukiah Lubis, untuk meneruskan sekolah dan bekerja agar menjadi wanita yang mandiri, sangatlah kuat.

“Ibu menyarankan untuk meneruskan S-2 atau bekerja, supaya setidaknya saya punya pegangan sendiri tanpa harus bergantung terus kepada orang lain,” cerita Dina. Ia mengaku sangat tergerak, karena sebenarnya sang ibunda hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan lulusan SMA, tapi justru begitu kuat mendorongnya untuk tetap berkarya sambil tetap mengurus anak.

Berbekal dukungan sang ibu dan restu suami,
Dikky Achmad Sidik, Dina akhirnya meneruskan pendidikannya di ITB. Semasa kuliah, ia bertemu dengan Jodi Firmansyah, seorang teknokrat yang dulu kerap membantu almarhum  B.J. Habibie dalam membuat jembatan panjang di Batam. Jodi yang juga menjadi pengajar di ITB, mengajak Dina untuk membantunya mengerjakan proyek-proyek jembatan.

Dengan kondisi saya yang sudah memiliki anak, Dina mengaku Jodi memberikan keleluasaan padanya untuk tetap bisa mengurus kedua putranya,
Aufar Lazawardi Sidik dan Auzan Lakaswara Sidik, sambil bekerja. Ia diperbolehkan membawa anaknya ke kantor dan mendapatkan jam kerja yang fleksibel apabila di pagi hari harus mengurus anak terlebih dahulu. “Yang penting target kerja terpenuhi. Dengan itu, akhirnya saya setuju bekerja dengan Pak Jodi tahun 2001,” cerita Dina.

Kendati bergelut di dunia pekerjaan yang cenderung dikenal sangat maskulin, Dina merasa beruntung lingkungan sekitarnya sangat mendukung. Sebagai contoh, pada saat anaknya masih dalam masa menyusui, pemimpin rapat sempat menghentikan rapatnya. “Kita
break dulu, ya, rapatnya, ini Ibu mau menyusui,” kenangnya, ketika sang putra menangis saat ikut rapat.

Begitu juga dengan suaminya yang tak putus untuk terus mendukungnya. Sama-sama lulusan jurusan teknik dari ITB, sang suami tahu betul dunia karier yang digeluti Dina. Tak jarang, momen makan malam bersama jadi ajang berdiskusi soal pekerjaan yang menurut Dina sangat membantunya dalam mengatasi masalah di kantor.

Namun memang, diakui   Dina, membagi waktu antara pekerjaannya yang terkadang mengharuskannya pergi ke pelosok daerah dengan keluarga menjadi tantangan yang cukup berat. “Sebagai
bargaining position agar bisa bekerja sambil mengurus anak, saya harus memberikan hasil kerja yang dua kali lebih baik dari pria. Kalau saya bekerja lebih baik dari pria, tidak ada alasan orang lain menolak pekerjaan saya, walaupun sambil mengurus anak,” ceritanya.

Nyaris dua dekade menjadi
bridge engineer, Dina tahu betul sepak terjang dan tantangan dalam kariernya yang telah menempanya menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Bukan mustahil baginya untuk membangun jembatan terbesar di negeri ini. Misal saja, keinginannya untuk membuat jembatan yang menghubungkan Balikpapan dengan Penajem Paser Utara yang kelak akan menjadi ibu kota Indonesia, dengan panjang kira-kira 7 kilometer. Namun ternyata, bukan hanya itu mimpi terbesarnya.

“Saya ingin membangun jembatan-jembatan kecil di pelosok yang belum terjamah orang. Saya ingin orang-orang yang tak diperhatikan ini dimudahkan hidupnya dengan keberadaan jembatan. Ini akan membantu mereka dari berbagai sisi kehidupan,” katanya. (f)



BACA JUGA :

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, Jadi Orang Paling Berpengaruh di Dunia
Namira Zania : Penari & Model Down Syndrome yang Buktikan Pengidap Disabilitas Intelektual Juga Bisa Berkarya
Silvia Halim Mengurai Kekusutan Jakarta

 
 


Topic

#ArvillaDelitriana

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?