Pameran
Tintin Wulia Hadirkan Wajah Indonesia di Venice Art Biennale 2017

6 Jul 2017



Foto: FLW
 
Sedangkan instalasi ketiga Under The Sun, menampilkan tangga menuju ruang tersembunyi di lantai atas dengan pintu terkunci. Hanya ada satu lubang intip. Di baliknya, terdapat sebuah ruang kerja kecil acak-acakan dengan aneka sketsa. Gambar mata pengunjung di Jakarta dan Venezia yang terekam dari lubang intip di pintu, ditayangkan kembali di lingkaran-lingkaran anek ukuran yang terdapat di sepanjang dinding tangga.
 
Tintin menghidupkan karyanya lewat konsep partisipan yang melibatkan pengunjung di Venezia dan Jakarta untuk menjalin sepasang karya tersebut dalam satu kesatuan utuh.
 
Konsep yang ‘rumit’ dari sebuah karya seni kontemporer ini rupanya cukup menarik minat pengunjung yang datang ke paviliun Indonesia di Venice Art Biennale ke-57. Tak sedikit pengunjung yang berhenti sesaat, memahami setiap bagian dalam pavilun seluas 70 meter persegi ini.


Foto: FLW

Tanggapan positif juga terlihat ketika Tintin menggelar Tavola Aperta (The Open Table) pada 22 Juni 2017 lalu. Sekitar 20 penyuka seni kontemporer hadir untuk mendengarkan langsung penuturan Tintin tentang instalasi seninya sekaligus diskusi terbuka.
 
Bagi Indonesia, kehadiran pavilun Indonesia di Venice Biennale Art 2017 ini menjadi ajang yang signifikan untuk mempertunjukkan industri kreatif di Indonesia, termasuk seni kontemporer. Meski begitu, keikutsertaan Indonesia di ajang Art Biennale pertama kali terjadi pada tahun 1954 dengan keikutsertaan perupa legendaris Affandi.
 
Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), menyebutkan bahwa lewat 1001 Martian Homes karya Tintin Wulia ini, Indonesia menyampaikan pesan penting sebagai bagian dari seni kontemporer dunia.
 
“Indonesia tidak harus selalu menampilkan wajah tradisionalnya, tapi kita juga perlu menunjukkan pada dunia luar tentang karya-karya seni yang moderen dan inspiratif, ini pesan presiden, Joko Widodo,” ungkap Ricky.
 
Sejak tahun lalu, Bekraf menjadi badan resmi yang mengelola paviliun Indonesia di La Biennale, Venezia. Kehadiran dua paviliun di Venezia dan Jakarta menjadi langkah nyata untuk mendekatkan karya seni terbaik Indonesia kepada masyarakat.
 
“Masyarakat dapat merasakan suasana Paviliun Indonesia di Venice Art Biennale 2017 dan instalasi seni Tintin Wulia, melalui paviliun Indonesia  yang juga hadir di Mal Senayan City, Jakarta,” jelas Ricky. (f)
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#Pameran

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?