Puspa ditulis Dere saat berani kembali membuka diri dan hati untuk jatuh cinta lagi. Foto: Dok. Tiga Dua Satu
“Indahnya dimabuk cinta/Bagaikan seribu puspa bermekaran/Ramai hatiku bagai berpesta pora/Indahnya dimabuk cinta/Bagaikan seribu puspa bermekaran....”
Lirik lagu indah yang imajinatif dari chorus Puspa, lagu ciptaan Dere dari album Berbunga (April 2025), mengilhami projek kolaboratif Dere dan seniman visual Popomangun.
Bertajuk Puspa Oh Puspa!, projek ini memadukan kekuatan musik dan visual sebagai medium ekspresi sekaligus perayaan cinta. Urban Forest di Cipete, Jakarta, menjadi lokasi pembuka rangkaian projek kolaborasi Puspa Oh Puspa!.
Persiapan projek ini berlangsung sekitar satu tahun, sejak diskusi Dere dan Popomangun dalam menginterpretasikan lagu ini dengan pendekatan artistik yang berani dan ekspresif.
“Aku tulis lagu ini saat sedang memberanikan diri untuk jatuh cinta lagi. Senang sekali lihat karya ini dilanjutkan dalam bentuk visual yang sangat hidup oleh Kak Popo. Persis seperti rasa jatuh cinta yang kubayangkan!” cerita Dere antusias, di acara pembukaan (17 Juli 2025).
Popomangun, seniman visual multidisiplin, turut menambahkan, “Saya menanggapi lagu dan cerita Dere secara intuitif, menyerap nadanya, menangkap auranya, dan menerjemahkan keberaniannya dalam warna serta bentuk yang mewakili lapisan perasaan manusia.”
Dere membawakan lagu Puspa secara akustik, mengiringi live mural Popomangun pada bus. Foto: Dok. Tiga Dua Satu
Puspa atau bunga, salah satunya diterjemahkan Popomangun menjadi bunga peony. Lirik lain dari lagu ini juga didesain Popomangun sebagai beberapa simbol menarik, termasuk yang memiliki makna personal untuk kedua seniman ini.
Puspa Oh Puspa! juga dikembangkan menjadi rangkaian aktivitas yang mengajak publik turut merayakan cinta dan mengeksplorasi emosi melalui berbagai medium.
Kolaborasi ini diwujudkan dalam beragam bentuk kegiatan, mulai dari penampilan musik oleh Dere, live mural dari Popomangun, pameran visual interaktif hingga lokakarya yang terbuka untuk semua.
Selain itu, pengunjung diajak mengikuti sesi bincang seputar seni bertema Seni sebagai Terapi dan menikmati peluncuran cendera mata edisi kolaborasi, bagian dari perjalanan Puspa Oh Puspa!.
“Kami ingin karya ini hidup bersama para pendengarnya, tidak berhenti di satu bentuk saja karena cinta juga tumbuh dan berkembang, seperti puspa yang mekar di waktu dan tempat yang tepat,” ujar Nasrul Akbar, Ketua Projek Kolaborasi Puspa Oh Puspa! dan perwakilan Tiga Dua Satu, label musik dan manajemen talenta yang menaungi Dere.
Rangkaian Puspa Oh Puspa! akan berlangsung di beberapa kota besar, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung dengan berbagai format unik yang mendorong interaksi lebih personal antara karya kolaborasi ini dan semua audiens.
Suasana pembukaan rangkaian Puspa Oh Puspa! di Urban Forest, Jakarta. Foto: Dok. Tiga Dua Satu
“Kami ingin projek ini menginspirasi teman-teman untuk memberanikan diri belajar hal baru dan terus mengejar mimpi,” ujar Dere tentang Puspa Oh Puspa!.
Selain itu Popomangun juga berkata, “Semoga karya ini memberi impact dan menginspirasi, serta bermanfaat bersama.”
Baca juga:
Lomma Jadi Ruang Kreatif Baru untuk Berkumpul di Jakarta Selatan
Ada Ardhito Pramono dalam All That Jazz by ABar, Bawakan Hits Klasik Frank Sinatra
Babak Baru ArtMoments Jakarta 2025 di Destinasi Gaya Hidup Terkini Jakarta
Zornia Harisantoso


