Lagi doomscrolling ketemu berita yang bikin emosional? Coba jeda 10 detik agar kamu mengambil keputusan lebih bijak dalam mencerna informasi itu. Foto ilustrasi: Canva
Di tengah kesibukan kita sehari-hari, mengambil jeda 10 detik ternyata sebuah momen yang berharga, agar kita nggak mudah terpantik alias terprovokasi–baik di dunia nyata maupun digital.
Blibli pun menginisiasi sebuah eksperimen sosial yang memperkenalkan JEDA (Jangan reaktif, Evalusi, Double check, Ambil keputusan dengan tenang), sebagai pendekatan sederhana untuk merespons dengan lebih bijak di ruang offline dan online.
JEDA yang didukung Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Kementerian Perdagangan RI, Bank Indonesia, serta Indonesian E-commerce Association sebagai akselerator ini diluncurkan akhir bulan lalu, untuk mendorong kebiasaan pause culture atau berhenti sejenak sebelum bertindak dan membuat keputusan.
JEDA dihadirkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat perlindungan konsumen dan literasi digital–apalagi sesuai dengan momentum Hari Konsumen Nasional pada 20 April.
Eksperimen sosial untuk JEDA ini ada di microsite jeda10detik.com, yang berlangsung pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026–sebuah pendekatan sederhana agar kita lebih bijak dalam merespons informasi apa pun.
“Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberikan rasa percaya, baik secara online maupun offline,” ujar Nazrya Octora, Head of PR Blibli.
Diikuti lebih dari 158 ribu masyarakat Indonesia, eksperimen sosial ini memberikan 9 informasi untuk kita:
1/ Konten clickbait masih juara
Ternyata rasa penasaran bikin warga +62 tetap nge-klik, lalu masuk ke jeda10detik.com. Bayangkan kalau itu clickbait ke berita hoaks menyebarkan kebencian.
2/ Baby Boomers si paling responsif
Responden usia 65+ ternyata paling gercep nge-klik banner clickbait (7,06%), lebih tinggi dibandingkan Gen Z usia 18-24 tahun (3,43%).
3/ Siapa pun bisa terkecoh
Jebakan jadi impulsif berlaku buat siapa saja–perempuan (52%) dan laki-laki (48%).
4/ Si paling reaktif tinggal di kota-kota besar
Si paling reaktif (7,81%) banyak nge-klik dari Jakarta, tapi Depok (2,22%) dan Surakarta (2,05%) juga nggak mau kalah.
5/ Ada di jam-jam sibuk
Scroll konten nggak hanya terjadi saat santai, tapi pas jam ribet justru paling rentan: 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB.
6/ Tanggal merah juga meriah
Ternyata lonjakan trafik di microsite ini terjadi saat: awal Ramadan (17-21 Februari), long weekend (5-8 Maret) dan libur Lebaran (26-28 Maret).
7/ Simpel is da best
Gamification di jeda10detik.com yang simpel sering dimainkan berulang kali dan efektif untuk JEDA. Secara psikologis, pendekatan ini membantu mengalihkan dorongan impulsif menjadi aktivitas sederhana yang tetap terasa memuaskan.
“Dengan mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang memuaskan secara kognitif, kita sebenarnya sedang melatih kendali diri dengan cara yang menyenangkan,” ujar psikolog Irma Gustiana.
8/ Jadi lebih tenang pas nyobain aktivitas mindful
Tiga micro-pause di jeda10detik.com dengan replay rate terendah datang dari kategori mindful. Sekali sudah cukup untuk merasa tenang (atau bosan, ya).
9/ Ambil JEDA 10 detik, biar nggak gampang terpantik
Mayoritas warga memulai JEDA dengan mood biasa aja, bahkan bete. Namun, setelah JEDA 10 detik, tercatat 7 dari 10 responden mengaku lebih tenang dan santai. Artinya, jeda singkat dapat membantu menurunkan respons impulsif dan menghadirkan kejernihan sebelum mengambil keputusan.
Peluncuran inisiatif JEDA 10 Detik (kiri ke kanan): Andreas Ardian Pramaditya, VP Corporate & Strategic Affair Blibli, Boni Pudjianto, Immanuel Tarigan Sibero, Arshi Adini, Executive Director Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Nazrya Octora. Foto: Dok. Blibli
Apalagi data Indonesia Anti Scam Center mencatat 432.637 aduan penipuan dengan total kerugian Rp9,1 triliun dalam periode 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026. Sementara Survei APJII 2025 menunjukkan, 22,12% pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.
Melihat kondisi tersebut, memang perlu adanya upaya berkelanjutan dan kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat literasi digital serta mendorong terciptanya konsumen yang lebih berdaya, kritis, dan tangguh dalam menghadapi dinamika yang semakin cepat.
Boni Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital Kemenkomdigi RI, menyoroti relevansi temuan ini dalam konteks literasi digital.
“Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital. Pendekatan seperti JEDA menjadi contoh konkret bagaimana edukasi bisa dikemas secara sederhana, relevan, dan mudah diterapkan dalam keseharian,” ungkap Boni Pudjianto.
Boni juga mengingatkan kita bahwa sebelum memutuskan sesuatu–baik bertransaksi online, membalas chat maupun forward berita–kita harus bisa mencerna informasinya dulu. “Jeda 10 detik itu penting, agar pikiran lebih jernih dan kita melakukan verifikasi apa pun tidak dengan emosi.”
Menurut Immanuel Sibero Tarigan, Direktur Pemberdayaan Konsumen, Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag RI, Konsumen Berdaya, Bijak Bertransaksi yang digaungkan Kemendag menjadi sangat relevan dalam konteks ini.
Konsep BIJAK dari Kemendag adalah Baca ketentuan, Ingat hak dan kewajiban, Jauhi produk ilegal, Adukan apabila terjadi masalah, dan Kritis sebelum membeli. Poin “Kritis sebelum membeli” menjadi titik temu utama antara BIJAK dan JEDA.
JEDA mendorong konsumen untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, melainkan meluangkan waktu untuk berpikir, mengevaluasi informasi, serta memastikan keamanan dan keabsahan produk sebelum bertransaksi.
“Keduanya saling melengkapi dalam membentuk konsumen Indonesia yang tidak hanya aktif bertransaksi, tetapi juga sadar, waspada, dan berdaya dalam setiap keputusan pembelian,” kata Imanuel Tarigan.
Pesan Nazrya Octora boleh dipegang jika kamu merasa terlalu sibuk untuk ambil jeda, yang penting untuk kesehatan mental kamu dan jejak digital pun lebbih aman.
“Jangan pernah merasa nggak punya Waktu untuk jeda, karena kamu pasti bisa,” kata Nazrya. Cukup 10 detik! (f)
Baca juga:
Inspirasi Gaya Raya di Blibli, Kurasi Jenama Modest Fashion untuk Ramadan hingga Lebaran
Ekosistem Blibli Tiket Menjawab Tantangan Konsumen dalam Pengalaman Digital
Selama Oktober di BlibliFresh, Kamu Bisa Dapat Gratis 10 Butir Telur
Zornia Harisantoso


