Hiasan ondel-ondel dan miniatur andong di Monas hadir di lobi Le Meridien Jakarta. Foto: Dok. Le Meridien Jakarta
Dua tahun lagi Jakarta berusia separuh milenium atau 500 tahun. Tak heran jika selebrasi HUT Jakarta tanggal 22 Juni berjalan meriah, termasuk yang dilakukan Le Meridien Jakarta.
Area pedestrian di depan hotel ini, yang menghadap Jalan Jenderal Sudirman, semarak dengan hiasan lampion, sangkar burung lengkap dengan latar suara buatan, serta hiasan ondel-ondel di antara pepohonan.
Sejak Natal 2024, Le Meridien Jakarta mulai membuat instalasi outdoor tematik menyambut momen-momen istimewa, agar pedestrian Jalan Jenderal Sudirman tampil semarak.
Area pedestrian depan Le Meridien Jakarta dihias cantik hingga pertengahan Juli nanti. Foto: Dok. Femina
Tema dekorasi khas Jakarta jugalangsung terasa di Le Meridien Jakarta sejak kita memasuki hotel; terlihat miniatur andong yang biasa kita temui di sekitar Monas, lengkap dengan kuda dan sepasang patung Abang-None di depan lobi.
Di dalam lobi, ada Rumah Kebaya, rumah tradisional masyarakat Betawi, di samping bemo khas Jakarta tempo dulu.
Rumah Kebaya dan miniatur bemo ada di lobi Le Meridien Jakarta. Foto: Dok. Femina
Ketika tamu menjelajahi area restoran hingga kolam renang, mereka akan bertemu berbagai hiasan mulai dari miniatur Monas, ondel-ondel sampai andong.
Selain dekorasi, Le Meridien Jakarta mempersembahkan berbagai hidangan khas Betawi di restoran La Brasserie.
Femina disambut welcome drink berupa minuman khas Betawi, Bir Pletok, rebusan rempah-rempah dengan pemanis, namun dalam versi lebih ringan.
Beragam hidangan khas Betawi, termasuk Gabus Pucung dengan narasi penuh sejarah (paling depan). Foto: Dok. Le Meridien Jakarta
Setelah itu, para tamu bisa menikmati beragam hidangan khas Betawi, salah satunya Gabus Pucung, sebuah kuliner tradisional yang mulai sulit ditemukan. Gabus Pucung terbuat dari ikan gabus yang dimasak dalam saus hitam dari pucung (kluwak), dan memiliki makna sejarah yang mendalam serta dihargai karena rasa unik dan nilai gizinya.
Gabus Pucung adalah makanan dari era kolonial. Di masa itu, masyarakat Betawi yang tidak mampu membeli ikan mahal seperti ikan mas atau ikan bandeng beralih ke ikan gabus yang melimpah di rawa-rawa dan sungai-sungai sekitar Jakarta.
Kluwak yang tumbuh di daerah yang sama digunakan untuk membuat saus hitam yang khas, memberikan nama dan rasa unik pada hidangan ini.
Sayur Godog, Ayam Bakar Sampyok, Tumis Daging Serundeng, Kue Cubit dibuat dengan cita rasa autentik. Foto: Dok. Le Meridien Jakarta
Bukan cuma Gabus Pucung yang memiliki narasi sejarah. Berbagai kuliner Betawi lain memiliki narasi beragam, dan bukti akulturasi Jakarta sebagai melting pot sejak dulu. Contohnya Ayam Bakar Sampyok yang terpengaruh kuliner Tionghoa, atau Kue Cubit yang terinspirasi jajanan dari Belanda.
Berbagai hidangan khas Betawi lainnya disajikan di La Brasserie saat bufet makan siang dan makan malam, seperti Sop Tangkar, Sayur Godog, Kerak Telor, Gado Gado dan sebagainya. Bahkan, Chef Le Meridien Jakarta mempelajari cara membuat Roti Buaya untuk menghadirkan makanan Betawi yang autentik bagi para tamu.
Dari Kerak Telor yang diracik dalam versi lebih modern, Sop Tangkar yang bening segar, hingga kue-kue khas Betawi, seperti Kembang Goyang, Kue Talam, Kue Ku, dan Lupis. Foto: Dok. Le Meridien Jakarta
Le Meridien Jakarta berharap, dengan menghadirkan dekorasi dan kuliner khas Betawi ini, budaya Jakarta dapat terus dilestarikan dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Makanan khas Betawi di La Brasserie Restaurant Le Meridien Jakarta tersedia hingga akhir Juni 2025, sementara instalasi outdoor yang Instagrammable itu berlangsung hingga pertengahan Juli nanti.
Zornia Harisantoso


