Dok. Reynette FaustoSalah satu penampil yang paling menyedot perhatian dalam perhelatan Java Jazz 2018 di hari pertama adalah Mateus Asato (24). Sebelum jadwal show dimulai, para penggemarnya telah berkerumun menanti dengan sabar penampilan gitaris asal Brazil keturunan Jepang yang baru pertama kali datang ke Indonesia maupun tampil di even Java Jazz 2018.
Selama 1 jam durasi show, Asato unjuk kepiawaiannya memetik dawai gitar dengan alunan powerful dan dinamis yang menghentak ala rock. Sesekali ia menyibakkan rambut gondrongnya yang seringkali menutupi wajahnya.
Istimewanya, dalam show yang digelar tepat pukul 7 malam (2/3) Asato berkolaborasi dengan drummer muda Rafi Muhammad Trio (21). “Saya sudah 13 tahun main drum dan tiap tahun ikut Java Jazz. Kebetulan saya dan Asato satu manajemen di Jepang. Jadi, rasanya senang sekali tahun ini bisa berkolaborasi dengannya di Java Jazz 2018,” tukas Rafi.

Panggung Mateus Asato menjadi salah satu panggung yang paling ramai di perhelatan Java Jazz 2018.
Menurut Rafi, kolaborasi antara pemusik Indonesia dengan pemusik luar negeri yang diusung dalam pagelaran Java Jazz 2018 amatlah membawa banyak keuntungan.
“Selain ada banyak hal baru dalam bermusik yang bisa dipelajari, kolaborasi ini juga membuka koneksi internasional bagi pemusik kita,” ujarnya yang baru saja merilis albumnya di Jepang.
Asato sendiri mengaku terkesan dengan musisi dalam negeri.
“Sebelumnya saya tidak begitu familiar dengan pemusik Indonesia. Tetapi, setelah saya datang ke sini saya lihat Indonesia banyak menyimpan bakat. Salah satunya Rafi yang sempat bermain satu panggung dengan saya malam ini,” kata Asato yang dijuluki Outstanding Guitar Player of Musician Institute (2014). Saat show, Asato menyelipkan satu lagu milik Rafi dan lagu kesukaannya Don’t Dream It’s Over milik Crowded House dari total 8 lagu yang dibawakannya.

Instrumentalia gitar Mateus Asato yang selama ini hanya bisa dinikmati dari YouTube memuaskan penggemarnya di Java Jazz 2018 yang bisa menyaksikan langsung.
Sejak tahun 2013 Asato memutuskan untuk menetap di Los Angeles. Namanya mulai dikenal penikmat musik setelah ia mengunggah rekaman permainan spektakuler instrumental gitarnya yang dinamis ke media sosial sepuluh tahun lalu. Sudah ratusan lebih demo dari lagu-lagu yang dikavernya diunggah ke YouTube dan menarik perhatian 174 ribu lebih subscribers. Setelah namanya mulai mendapat perhatian dunia, Asato kerap melakukan perjalanan show ke luar negeri sambil membuka guitar coaching clinic yang tiketnya selalu sold out. Tahun ini, giliran ia menyapa penggemarnya di Indonesia lewat Java Jazz Festival 2018.
“Saya senang bisa bermain di Indonesia, karena banyak juga yang kirim pesan pada saya dari Indonesia. Saya berharap bisa kembali lagi dan tidak tertutup kemungkinan berkolaborasi dengan pemusik di Indonesia,” ungkap Asato yang tengah bersiap meluncurkan album perdananya akhir tahun ini. Di dalam album ini, ia tengah mempertimbangkan untuk kemungkinan menggunakan singer.
Asato sendiri jatuh cinta pada gitar sejak usia 9 tahun, setelah melihat salah satu sepupunya yang bermain gitar. Asato memperdalam skill bermusiknya dengan mengambil kursus privat gitar selama 2 tahun dan mengasah apa yang telah dipelajarinya di Brazilian Baptist Church di mana ia aktif melayani sebagai tim worship selama 2 tahun. (f)
Topic
#JavaJazz2018




