Hobi = ide awal
Memulai usaha dari hobi bukan isapan jempol belaka. Kita memang pasti lebih semangat jika mengerjakan yang kita sukai. Sebelum memutuskan untuk membuat workshop sepatu sendiri di rumah, Amy mengaku sudah lama jatuh cinta pada sepatu.
“Karena senang sepatu, saya mulai memesan sepatu langsung ke pembuatnya. Maksudnya, sih, biar hemat. Kebetulan ada teman saya yang bisnisnya bikin sepatu. Enaknya, saya bisa mengaplikasikan ide-ide ‘nakal’. Ternyata pas saya pakai banyak yang pesan. Jadi, saya jual saja,” cerita Amy Zein.
Clara Endah Megawati menuangkan kecintaannya pada dunia busana dengan bertahun-tahun menekuni sekolah tata busana untuk meneruskan usaha konveksi milik orangtuanya. “Sejak dua tahun terakhir, saya mengambil alih usaha orangtua. Mereka sudah tua, sulit mencari klien, jadi sayalah yang meneruskan bisnis ini,” ujarnya.
Cerdas atur strategi
Untuk menambah semangat, Amy memberi reward untuk dirinya sendiri. “Setiap berhasil menjual 10 sepatu, saya mendapat satu sepatu untuk dipakai sendiri,” katanya mengenang. Ternyata jualannya laris manis!
“Nah, saya dapat ide waktu itu, kalau memang bisnis sepatu menguntungkan banget, kenapa jalur ekonominya nggak dipotong. Daripada cuma jadi marketing, mendingan saya yang bikin.” Amy mengaku strateginya ini tepat. “Saya lebih bisa mengontrol pembuatannya. Jumlahnya pun bisa lebih banyak. Selain itu saya makin bebas berkreasi model sepatu.”
Clara pun nggak puas hanya mengurus konveksi. “Saya ingin menyalurkan bakat seni dengan membuat kebaya pengantin,” ujarnya. Clara pun mendirikan butik yang masih berlokasi di rumahnya. Beda dengan usaha konveksi, butik ini dirintis Clara dari nol. CC


