- Kadar senyum: pas!
Benar, bersikap ramah dan pasang tampang bersahabat itu perlu, tapi bukan berarti kita malah mengobral senyum selama wawancara berlangsung. Selain terlihat grogi dan kurangnya rasa pede, kebanyakan senyum juga membuat pewawancara menilai kita 'palsu'—masa, sih, tetap senyum saat lagi dipaparkan beratnya job description posisi yang kita lamar.
Intinya: senyumlah di saat yang tepat, misalnya saat pewawancara ngajak bercanda.
- Sok akrab
Di tengah-tengah wawancara, kadang suka ada jeda kosong di mana kita dan pewawancara sama-sama diam nggak bersuara, misalnya saat pewawancara lagi mengecek CV. Rasanya memang kurang nyaman—bikin salting gitu, deh. Tapi, nggak perlu merasa berkewajiban mengisi jeda itu dengan obrolan, apalagi bila topiknya nggak mutu dan terkesan basa-basi.
Jika memang nggak tahan untuk cuap-cuap, pilih topik serius dan berhubungan dengan bidang pekerjaan yang dilamar.
- Anti berkeringat
Percuma sudah dandan cantik dan berpenampilan rapi jika saat wawancara malah heboh menghapus keringat di jidat. Ingat, perusahaan mencari karyawan, bukan personal trainer—kecuali melamarnya ke fitness center, ya, he he he.
Pilih baju berbahan adem sehingga nggak bikin


