Sex & Relationship
7 Cara Melupakan Mantan (part 2)

4 Jan 2013

Cinta nggak hanya diuji saat kita masih bersama si dia. Setelah putus pun, kita kudu tahan banting menghadapi semua hal berbau mantan, tuh. Cek di sini semua hal yang bisa kita lakukan untuk melanjutkan hidup....

Kasus 4: We're (not) family

Saat pacaran bukannya nggak mungkin keluarga masing-masing menaruh harapan besar pada hubungan kita dan si dia. Apalagi kalau kita ternyata sukses mengambil hati keluarga si dia. Meski sudah putus (secara baik-baik) nyokap atau adiknya masih sering menghubungi kita dan mengajak belanja bareng.

Mendingan....
- Kalau kita tidak merasa terganggu kenapa harus pusing memikirkan reaksi mantan? Nikmati saja perhatian tulus dan kenyamanan yang ditawarkan oleh mereka. Lagipula tambah saudara, kan, lebih menyenangkan ketimbang menambah musuh, hi hi hi.
- Jika keluarga mantan ternyata punya misi lain untuk 'menyatukan' kita dan si dia berarti saatnya bicara. Jangan sampai keluarga orang lain yang mengatur jalan hidup kita! Tapi lakukan dengan sopan supaya nggak ada pihak yang sakit hati, ya....


Kasus 5: Kembali ke mantan

Kalau kita bisa melihat masa depan, mungkin kita akan memilih nggak perlu putus dengan si dia kalau akhirnya memutuskan jadian lagi—ehem! Biar hubungan langgeng dan bisa lanjut ke tahap lebih serius, kita bakal kerja ekstra, tuh.

Mendingan....
- Saat putus dari si dia pasti kita sibuk tebar pesona untuk mencari the perfect man. Kalau ternyata 'baliknya' ke mantan, mungkin tanpa disadari kita dan si dia sudah sama-sama berubah. Jadi nggak perlu lagi, deh, mengungkit-ungkit masa lalu kalau mau membangun masa depan.
- Bila ternyata kita mentok di masalah yang sama ketika putus dari si dia, jangan malu untuk memutuskan hubungan bila nggak ada solusi lain. Anggap saja bagian dari perjalanan dan pendewasaan diri kita—kadang kita kudu benar-benar jatuh supaya tetap ingat sakitnya.

Kasus 6: Mantan melirik sahabat
Kita bisa tertawa ketika menonton 'perputaran' pasangan di serial Gossip Girl. Begitu mantan pacar jadian dengan sahabat kita sendiri, baru, deh, panik! Jangan-jangan mereka ngomongin kita dari belakang, atau risiko paling nggak enak adalah kita bakal kehilangan sahabat gara-gara masalah cowok—hiks!

Mendingan....
- Jatuh cinta memang hak semua orang. Seandainya kita makan hati melihat kemesraan mantan dan sahabat, mending ngomong terus terang. Beri tahu sahabat soal ketidaknyamanan kita, siapa tahu sebenarnya dia juga pengen membahasnya tapi nggak berani membuka pembicaraan.
- Nggak perlu menceritakan semua kenangan kita dengan mantan kepada sahabat, dan sebaliknya. Ketika hubungan mereka bermasalah kita pun kudu berada di garis netral. Tapi sediakan kuping dan hati buat sahabat ketika dia sedang sedih maupun gembira—dan dilarang iri!

Kasus 7: Mantan 'berubah'
Kita, sih, nggak kaget kalau mantan pacar kita yang superkeren cepat dapat gandengan baru. Suatu saat kita bertemu lagi dengan si mantan dan dikenalkan dengan pacar barunya yang ternyata seorang cowok juga! Gubrak....

Mendingan....
- Mungkin kita shocked tapi nggak perlu menghakimi mantan, dong. Malah kita harus bersyukur karena si dia nggak menggunakan kita untuk menutupi orientasi seksualnya (atau kita nggak nyadar aja?). Kita juga nggak perlu menyalahkan diri sendiri lagi karena bukan hanya kita yang merasa nggak cocok menjalani hubungan yang lalu.
- Pelajarannya: banyak berdoa supaya mendapat pasangan yang bisa menerima kita apa adanya—seperti mantan kita yang terlihat lebih bahagia bersama pacar barunya. CC



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?