Karena kesal pada perusahaan yang 'memerah' tenaga dan otak, kita dan beberapa rekan kerja berencana untuk resign bersamaan. Apalagi kita berniat hengkang saat load pekerjaan sedang tinggi-tingginya.Niatnya, sih, jika perusahaan nggak mengizinkan, kita bakal tetap meninggalkan semua pekerjaan yang belum selesai, sehingga dengan sendirinya 'dipecat'.
Sebaiknya, sih, sebelum kita dan rekan resign lakukan dialog dengan perusahaan. Setiap perusahaan yang baik punya job description jelas, termasuk terget kerja sebagai indikator keberhasilan bagi setiap karyawannya. Indikator keberhasilan inilah yang dipegang sebagai komitmen bersama antara perusahaan dan karyawan.
Sebaiknya juga, sih, pengunduran diri bukan dilandasi keputusan emosional, seperti bertujuan 'menghukum' perusahaan. Buatlah exit strategy yang menguntungkan karier kita selanjutnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
- Jangan mengundurkan diri sebelum pasti dapat pekerjaan lain. Kalau kita melamar pekerjaan dalam status jobless, biasanya bargaining power kita lemah.
- Resign yang baik adalah mengikuti prosedur sehingga nggak ada ganjalan antara kita dan perusahaan. Jangan abaikan hal ini, karena banyak perusahaan yang menerima karyawan baru dengan rekomendasi perusahaan sebelumnya. Kalau prosedur resign diikuti, perusahaan nggak bisa mencegah kecuali membujuk kita untuk membatalkan melalu berbagai tawaran manis. CC


