Waktu 24 jam sehari rasanya nggak pernah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Eits, jangan buru-buru menyalahkan si bos atau pekerjaan yang terus menumpuk. Nggak selamanya mereka si kambing hitam. Cek perbedaan antara kebanyakan load kerja dengan nggak bisa bagi waktu:
Overloaded!
- Menyanggupi semua tugas yang diberikan. Ujung-ujungnya kewalahan meng-handle semua pekerjaan yang diberikan ‘si Bos’.
- Inbox e-mail penuh terus. Sibuk membalas semua e-mail yang masuk.
- Sibuk menelepon dan menerima telepon dari banyak klien.
- Satu hari bisa bertemu empat klien di empat tempat berbeda.
- Sejak pagi mata nggak lepas dari monitor komputer. Sarapan dan makan siang bukan hal penting, tuh.
- Boro-boro membalas pesan dari teman yang ngajak hang out pulang kantor, lihat jam saja nggak sempat.
Nggak Bisa Bagi Waktu
- Mengerjakan satu pekerjaan, tapi nggak selesai-selesai.
- Sibuk membalas e-mail panjang lebar disertai emotikon lucu dan diselingi gosip cowok keren di lantai 5.
- Sibuk menelepon untuk nanya kerjaan sambil cekikikan main tebak-tebakan.
- Bertemu klien di suatu tempat, pulangnya mampir nonton bioskop dulu—mumpung lagi di luar.
- Pagi-pagi minum teh dulu sambil sarapan roti. Makan siang setengah jam lebih awal, dan balik setengah jam terlambat.
- Segera membalas SMS/BBM yang masuk. Lihat-lihat online shop sambil nyoba kuteks baru juga bisa.
Nah, biar kita nggak ‘kewalahan’ akibat tumpukan kerja, atur waktu kerja sebaik mungkin. Caranya gampang, kok!
- Jangan menunda pekerjaan.
- Kerjakan tugas yang lebih sulit di pagi hari, saat stamina berpikir masih tinggi.
- Luangkan waktu 1,5 jam untuk fokus mengerjakan tugas-tugas berat. Hindari cek e-mail, bertelepon, membuka sosial media, dan hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi kerja. Berdasarkn riset, waktu 1,5 jam adalah waktu yang cukup bagi seseorang untuk dapat bekerja efektif. Usahakan istirahat 15-20 menit sebelum masuk ke pekerjaan lainnya.
- Pilihlah tugas dengan dengan baik, atur berdasarkan tingkat urgensi. Urutkan dalam tiga kategori. Prioritas utama: urgent dan penting (harus segera dilaksanakan). Prioritas medium: urgent, tapi kurang penting. (Pertimbangkan relevansi tugas di prioritas ini dengan kebutuhan atasan atau bagian lain, sehingga tidak mengganggu kontinuitas kerja atasan atau bagian lain. Prioritas rendah: tidak urgent dan tidak penting (kerjakan setelah prioritas utama dan medium sudah beres)
Awalnya, mungkin akan terasa sulit menerapkan manajemen waktu seperti ini. Tapi jika konsisten dijalankan akan terbiasa, kok. Bahkan, kita bisa menjadi seseorang yang mahir mengelola waktu. Bye bye lembur… (DPR/FOTOSEARCH)
Overloaded!
- Menyanggupi semua tugas yang diberikan. Ujung-ujungnya kewalahan meng-handle semua pekerjaan yang diberikan ‘si Bos’.
- Inbox e-mail penuh terus. Sibuk membalas semua e-mail yang masuk.
- Sibuk menelepon dan menerima telepon dari banyak klien.
- Satu hari bisa bertemu empat klien di empat tempat berbeda.
- Sejak pagi mata nggak lepas dari monitor komputer. Sarapan dan makan siang bukan hal penting, tuh.
- Boro-boro membalas pesan dari teman yang ngajak hang out pulang kantor, lihat jam saja nggak sempat.
Nggak Bisa Bagi Waktu
- Mengerjakan satu pekerjaan, tapi nggak selesai-selesai.
- Sibuk membalas e-mail panjang lebar disertai emotikon lucu dan diselingi gosip cowok keren di lantai 5.
- Sibuk menelepon untuk nanya kerjaan sambil cekikikan main tebak-tebakan.
- Bertemu klien di suatu tempat, pulangnya mampir nonton bioskop dulu—mumpung lagi di luar.
- Pagi-pagi minum teh dulu sambil sarapan roti. Makan siang setengah jam lebih awal, dan balik setengah jam terlambat.
- Segera membalas SMS/BBM yang masuk. Lihat-lihat online shop sambil nyoba kuteks baru juga bisa.
Nah, biar kita nggak ‘kewalahan’ akibat tumpukan kerja, atur waktu kerja sebaik mungkin. Caranya gampang, kok!
- Jangan menunda pekerjaan.
- Kerjakan tugas yang lebih sulit di pagi hari, saat stamina berpikir masih tinggi.
- Luangkan waktu 1,5 jam untuk fokus mengerjakan tugas-tugas berat. Hindari cek e-mail, bertelepon, membuka sosial media, dan hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi kerja. Berdasarkn riset, waktu 1,5 jam adalah waktu yang cukup bagi seseorang untuk dapat bekerja efektif. Usahakan istirahat 15-20 menit sebelum masuk ke pekerjaan lainnya.
- Pilihlah tugas dengan dengan baik, atur berdasarkan tingkat urgensi. Urutkan dalam tiga kategori. Prioritas utama: urgent dan penting (harus segera dilaksanakan). Prioritas medium: urgent, tapi kurang penting. (Pertimbangkan relevansi tugas di prioritas ini dengan kebutuhan atasan atau bagian lain, sehingga tidak mengganggu kontinuitas kerja atasan atau bagian lain. Prioritas rendah: tidak urgent dan tidak penting (kerjakan setelah prioritas utama dan medium sudah beres)
Awalnya, mungkin akan terasa sulit menerapkan manajemen waktu seperti ini. Tapi jika konsisten dijalankan akan terbiasa, kok. Bahkan, kita bisa menjadi seseorang yang mahir mengelola waktu. Bye bye lembur… (DPR/FOTOSEARCH)


