Fiction
Alissa [3]

28 May 2012


<<<  Cerita Sebelumnya

Akhirnya terkuak juga misteri suara-suara dari lantai empat dan siapa diri Alissa sesungguhnya.

Saya tercenung di tempat saya berdiri. Seingat saya, Alissa bilang ibunya meninggal ketika remaja....

Ow,” kata saya ragu-ragu. “Senang sekali bertemu Anda, Madam. Saya Noor.”

Dorothy tersenyum.

“Sampaikan salam saya kepada Alissa, jika Anda sarapan dengan dia.”

“Ya. Ya,” kata saya tolol. Dada saya penuh tanda tanya. Ibu ini mestinya sudah tak ada, tapi ada. Anak dan ibu tinggal satu atap. Dan ibu berkirim salam kepada putrinya sendiri, yang tinggal satu lantai di atasnya. Tuhan. Siapa yang gila di sini?

Saya merasa seperti tikus kecil dalam labirin. Sesak. Bingung. Letih.

Beberapa hari setelah itu, saya tak pernah bertemu Alissa. Saya ceritakan kepada Titus, tentang segala keanehan yang ada, tapi –saya ingat kata-kata Ratri—pria jarang tertarik pada cerita wanita. Dan itu benar terjadi. Mengangkat kepalanya dari koran pun tidak. Yang saya dengar cuma, “Hmm,” atau “O ya,” beberapa kali. Lalu ketika saya tanya pendapatnya, Titus menatap saya dan bertanya, “Pendapat apa?”

Saya putus asa dan malas melanjutkan percakapan. Sedikit tidak tega juga harus membebani pikiran pria yang saya cintai dengan hal-hal yang baginya kurang penting. Tapi, saya benar-benar ingin tahu. Benar-benar ingin tahu.

“Teleponlah dia,” Titus memegang pipi saya. Saya tahu, ia sedikit kurang sabar menghadapi rasa penasaran saya. “Sekadar tanya apa kabar tak ada salahnya.”

“Hanya answering machine. Saya tinggalkan pesan, ia tak membalas.”

“Datangi lantainya.”

“Sudah. Sudah. Aku ketuk rumahnya, tapi tak ada yang keluar.”

Lalu saya ingat, ketika saya mengetuk rumah Alissa pagi itu, seorang pria tiba-tiba berdiri di anak tangga terakhir, menatap saya.

“Hai,” kata saya salah tingkah. “You must be Meldwin?” tanya saya berusaha akrab.

“Bukan,” jawabnya dingin.

Mampus, desis saya dalam hati. Dia pasti Paul Law!

“Maaf. Saya pikir Anda Meldwin....”

“Tidak ada nama Meldwin di lantai ini.”

Saya ingat, Alissa pernah bilang, sutradara dan penulis skenario itu tak pernah keluar rumahnya. Kalaupun pernah, hanya malam hari, ke studio. Saya hanya membaca namanya entah di surat kabar, kalau pementasan, atau di kartu Natal, kata Alissa dulu. Saya pun, kata Alissa lagi, lebih sering melihat dia di majalah, dibanding aslinya.

“Oh. Maaf,”kata saya merasa sedikit ketakutan. “Saya pasti salah,” kata saya bergegas turun. Saya tahu, ekor matanya mengikuti saya ke mana saya pergi. Cara menatapnya, sungguh-sungguh membuat saya menggigil.

“Hm. Mam,” panggilnya tiba-tiba.

“Ya?”

“Anda sudah coba ke bawah? Lantai satu sampai tiga?”

Saya kehilangan kata-kata.

“Belum. Terima kasih.”

Sejak kejadian itu, saya punya keengganan untuk naik ke atas mencari Alissa. Biarlah, saya mencarinya lewat telepon saja.

Dan saya tak pernah berhasil.

“Barangkali….”Titus tersenyum pada saya. “Alissa ke luar kota.”

Saya menghela napas. Berusaha percaya pada kata-kata itu, meski rasanya mustahil.

Alissa sungguh-sungguh menghilang dari saya. Seingat saya, sudah dua minggu. Saya kesepian. Saya rindu pada Alissa. Saya rindu ceritanya yang jenaka dan bola matanya yang menari-nari. Tawanya yang lepas atas segala kisah hidupnya yang begitu berwarna. Makin lama ia bercerita, makin banyak kopi-teh-kue yang kami habiskan, makin keras tawa kami. Ah. Saya ingin betul bertemu dia.

“Noor.”

Saya menengok dan tertegun.

“Dorothy. Apa kabar,” kata saya sambil mengancingkan mantel.

“Baik.”

Saya mengatur napas baik-baik sebelum saya berani bertanya.

“Lama saya tak bertemu Alissa. Apa kabar dia?” tanya saya.

Titus dulu menasihati saya untuk tidak bertanya apa-apa pada orang yang saya kurang kenal. Yang lazim bagi kita, belum tentu normal buat mereka. Jangan terlalu gampang bertanya, Noor, pesannya.

Dorothy tersenyum pada saya.

I really don’t know.”

Titus benar!

Ow,” saya berusaha membalas senyumnya. “Baiklah. Sampai ketemu.”

“Saya pikir, Anda tahu,”katanya setelah saya berlalu.

“Hm?” saya menoleh. Bersiap-siap untuk ‘kejutan’ berikutnya.

“Mm. Ini mungkin tak enak didengar, tapi saya dan Alissa memang putus hubungan. Dia yang memutuskan hubungan dengan saya.”

Anak – Ibu putus hubungan? Apa pula itu?

“Sejak….” Mata di depan saya berkaca-kaca. “Sejak saya menyuruhnya bercerai dari Paul....”

“Paul?”

“Suaminya.”

“Paul Law?”

“Ya.”

Saya menelan ludah.

“Dorothy,” saya mendekatkan wajah saya. Berusaha merekam semua gerak-gerik ‘ibu’ sahabat saya. “Meldwin nama suami Alissa. Paul tetangganya.”

Dan bahu di depan saya berguncang. Lama. Ia menangis. Isakannya cukup keras sehingga saya bingung sekali. Menyesal saya memulai percakapan tadi. Menyesal. Jika sudah begini, apa yang bisa saya perbuat? Apa?




Penulis: Susi Hutapea


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?