Fiction
Sunyi [1]

12 May 2012

Seharusnya, kuperlihatkan Sato pada Ibu. Biar Ibu lihat, seorang anak direktur menyukaiku! Biar Ibu tahu, hanya dia yang tak menyukaiku.

Plak! Plak! Plak!

“Ampuuun, Bu.” Bibirku bergetar, menahan rasa perih di pipi.

“Anak berengsek! Pergi! Ikut bapakmu sana!”

Aku menangis, menggerung, menarik-narik baju Ibu, menyem–bahnya. Apa pun akan kulakukan, asal ia tidak mengusirku dari rumah ini. Aku takut.”

“Saya cuma mau ikut Ibu. Ampuni, Bu, ampun…!”

“Ikut bapakmu! Aku mau lihat, berapa lama kau akan berakhir di jalanan! Tak berguna seperti bapakmu!”

“Ampun, Bu, saya tidak akan membuat Ibu kesal lagi.”

Tangis Ibu meledak tiba-tiba, bagai lolongan anjing tetangga yang sering kudengar di waktu malam. Kini, ia mengangkat tangannya. Kupikir, hendak memukulku lagi. Tapi, tidak, ia mengusap kepalaku, Ibu sayang padaku. Ia tidak akan memukulku lagi. Ia hanya kesal.

Aku menunduk patuh dan merebahkan kepalaku di pangkuannya. Ibu mengangkat wajahku, memandang dengan tatapan kosong seperti biasa, mendorong kepalaku dari pangkuannya, perlahan membenturkannya ke lemari baju di sisi kiriku. Lagi… lagi… makin keras… Tak apa, Bu, sungguh tak apa….

Aku memang pantas. Seperti kata Ibu, aku memang sampah, tak berguna. Tak apa, asal Ibu jangan marah, jangan menangis. 

Benturan demi benturan membuat lingkaran cahaya indah ber pendar dalam pandangan mataku yang kian menghitam. Aku tak menangis lagi. Lihat, kini aku punya sayap. Aku jadi malaikat! Sekelilingku putih, seputih awan di cerahnya langit biru. Lalu, aku terbang tinggi, berputar, melayang jauh….

Aku tak punya banyak waktu untuk berdandan. Terlambat bangun seperti biasa. Kusapu bibirku sekali dengan lipstik. Cukup. Kartu absensiku sudah banyak dihiasi warna merah. Aku harus cepat pergi kalau tak mau mendapat petuah lagi dari Ibu Isah, manajerku. Aku tidak memberikan contoh yang baik bagi bawahanku, bila selalu datang terlambat tanpa alasan. Begitu katanya.

Kupatut sekali lagi bayangan di muka cermin.

“Kamu jelek. Untuk apa kamu berkaca? Tak akan mengubah wajahmu jadi cantik!” Ibu tertawa, senang mendengar ucapannya sendiri.

Aku meraba wajahku.

“Kaca tak pernah bohong. Kamu mirip bapakmu. Jelek. Lihat tulang-tulangmu. Lihat kakimu. Besar dan kasar.” Gelak Ibu makin membahana. “Jadi, tak ada gunanya kau buang-buang waktu berdiri di depan cermin!”

Kubuang pandangan dari cermin. Meja hiasku berantakan. Ah, aku tak sempat membereskannya. Mungkin, akhir-akhir ini aku terlalu banyak lembur dan pergi bersama Sato. Aku harus bergegas.

“Kau memang malas seperti bapakmu.”

Kucuri pandang ke arah cermin. Wajahku tampak pucat. Mung–kin, sedikit pemerah pipi akan menolong.

“Tidak. Percuma! Kosmetik itu tidak akan menolongmu!”

Aku melempar pemerah pipi yang baru kubeli minggu lalu. Lebih baik aku segera pergi. Aku benci kaca ini. Aku juga benci suara-suara di kepalaku.

“Pagi, Nin! Sudah sarapan?”

“Ah, sudah terlambat. Aku jalan duluan, ya!”

“Bareng saja. Tidur jam berapa semalam?” Susan mengamatiku.

“Biasa....”

“Bohong! Nin, lingkaran hitam di matamu tak bisa menipu!”

Pintu lift terbuka, menyelamatkanku dari komentar tak penting.

Susan lalu berjalan ke arah mobilnya. “Nanti sore jadi ke kafe?”

Aku tersenyum, sambil melambaikan tangan. Lounge, kafe, mal, dan sejenisnya, sering membuatku merasa berada di tempat yang salah. Apa aku pantas ke sana? Mungkin, aku perlu ke salon jika menyetujui ajakan Susan.

Aku melirik ke sudut, tempat biasanya Susan dan teman-teman yang lain duduk. Tumben, kafe ini begitu sepi. Padahal, malam Sabtu biasanya penuh. Kulirik jam di pergelangan kiriku. Putus asa aku mendesah. Aku terlalu awal. Mungkin, lebih baik aku pulang. Sepertinya, pria-pria di pojok sana sedang menertawakan aku. Mungkin, karena rambutku yang aneh atau mungkin karena wajahku yang jelek, seperti kata Ibu.

Jantungku hampir loncat ketika bahuku dijawil seseorang. Dengan berdebar, aku menoleh. Yo. Hanya suaranya yang mampu membuat jiwaku porak-poranda. Wajahku terasa panas.

“Hai, apa kabar?” ucapku.

“Lama tidak bertemu. Kamu belum berubah….”

Iya, masih tetap jelek seperti dulu. Batinku menyahut. Kupaksakan bibir untuk membentuk senyum.

“Hanya, sekarang tambah manis,” lanjutnya.

Bohong! Kau pasti bohong! Batinku bergolak.

“Kamu dengan siapa?” tanyanya. 

“Aku ada janji dengan Susan dan teman-teman yang lain di sini. Tapi, mungkin mereka terjebak macet atau….”

Dia tertawa pelan. Jangan tertawakan aku seperti itu! Kau pikir aku tak bisa punya teman? Atau, apakah kau juga berpikir seperti Ibu, bahwa tak akan ada yang tertarik untuk menjadi kekasihku?

Aku benci tawanya. Aku benci segalanya tentang dia! Sambil berpamitan, Yo mengusap pipiku sekilas.

Aku terenyak, tak dapat menggerakkan setirku. Hatiku berdebar tak keruan, saat tangannya menyentuh pipiku tadi. Sesuatu yang tak pernah kurasakan saat bersama Sato. 

Kubuka pintu apartemen dengan gontai. Mereka pasti belum pulang. Malam Minggu seperti ini, Susan dan Tris, teman-teman satu apartemenku, pulang lebih larut. Kulepas sepatu, pikir–anku kacau sejak kemarin malam. Hampir saja mobilku menabrak orang yang hendak menyeberang, sebelum berbelok ke parkir bawah apartemen. Terkadang aku heran, bagaimana mungkin ia masih sanggup mengobrak-abrik taman hatiku setiap kali kami bertemu. Sudah 13 tahun berlalu dan aku tetap seperti ini. Bahkan, seorang Sato pun tak dapat membuatku melupakannya. Kupukul kening dengan kesal. Merasa bodoh setiap kali memikirkannya.

“Kamu memang bodoh! Persis seperti bapakmu!”

Aku perlu berendam. Aroma lavender dapat menenangkanku. Juga sebutir pil penenang. Kepalaku sakit sekali. Aku juga perlu obat sakit kepala. Kuambil sebutir lagi. Dan, ah, tentu saja aku juga perlu obat sesak napas. Tadi dadaku sesak rasanya. Kutelan dengan nikmat ketiga pil itu sekaligus. 

Kucabut kabel telepon. Aku tak mau terganggu.

“Tak ada seorang lelaki pun yang akan suka padamu! Anak yang tak berguna. Lagi pula, semua laki-laki itu berengsek! Ingat itu! Kau dengar? Kau bisa tumbuh besar karena aku yang menghidupimu! Tanpa laki-laki pun, aku bisa membesarkanmu! Jadi, turuti kata-kataku! Lihat muka pucatmu! Minum vitamin ini! Menyusahkan! Kau ini sedang sakit dan masih tak mau menelan obat ini? Ayo, telan! Ini juga, obat asmamu! Minum sebelum kambuh! Cepat, minum semua!”

Aku tak tahu, tubuhku bagian mana yang sakit, setiap kali harus kutelan pil-pil itu. Tapi, hingga detik ini aku masih dapat merasakan butir-butir pil yang menggelontor di kerongkongan kecilku.

Mr. Tanaka memandangku dengan garang. Entah dari mana ia mendengar kabar ini. Aku tahu, tak semestinya aku berkencan dengan putranya. Tapi, mau bagaimana lagi? Sato terlalu baik dan tampan untuk ditolak. Apalagi, ia menyukaiku. Tapi, apakah benar dia menyukaiku?

Harusnya kuperlihatkan Sato pada Ibu. Biar Ibu lihat, seorang anak direktur Jepang menyukaiku! Biar Ibu tahu, hanya dia yang tak menyukaiku. Biar Ibu sadar, tak percuma ia membesarkan aku selama ini.

“Kamu berjanji, tak akan pergi dengan Sato?”

“Ya, maaf, saya tak akan menerima tawaran Sato untuk pergi.”

Mr. Tanaka mengangkat tangan, menandakan ia tak ingin mendengar apa-apa lagi. Tampaknya, ia hanya ingin mendengar kata ’ya’ dari bibirku.

Aku bisa memahami posisinya. Sato adalah putranya semata wayang dan ia sudah dijodohkan dengan seorang gadis dari keluarga bangsawan. Mr. Tanaka tak ingin ribut dengan istrinya, bila ternyata kunjungan kerja Sato ke Jakarta berakhir dengan menikahi seorang gadis Indonesia seperti aku ini. Mungkin juga, ia merasa aku tak cukup baik untuk menjadi menantunya! 

Aku duduk mematung. Tak tahu bagaimana caranya memecahkan kesunyian suasana. Pria tua yang gagah di seberang meja itu tampak melamun. Sato tidak mirip ayahnya, mungkin lebih seperti ibunya. Hanya alis mata mereka saja yang serupa.

“Mr. Tanaka, maaf, bila sudah tak ada masalah lagi, bolehkah saya pulang sekarang?”

Pria beralis elang itu menatapku tajam. Seakan baru kembali dari alam lain, ia mengangguk pelan. Pelit kata-kata. Tapi, karena itu ia amat disegani. 

Pasti ada yang mengadukan kencan-kencanku dengan Sato pada Mr. Tanaka. Otakku berputar, mencari data probabilitas dari orang-orang kantor. Tapi, siapa? Tak semua orang tahu bahwa belakangan ini aku sering pergi dengan Sato. Entah mengapa, aku hanya curiga pada Ken. Ken Hitoshi. Cuma Ken yang mempunyai kemungkinan untuk itu. Aku dapat melihat pandangan jahatnya ketika proposalku diterima oleh Mr. Tanaka bulan lalu. Ken satu-satunya orang di dalam divisiku yang terlihat paling suka cari muka!

Dia tidak tahu, betapa berharganya perhatian Sato bagiku. Seumur hidupku, aku tak pernah membayangkan akan ada pria tampan yang tertarik padaku. Ini bahkan sudah di luar batas mimpiku. Sato tidak hanya tampan, tapi juga ahli waris tunggal salah satu perusahaan besar Jepang di Jakarta! Dan, ia teramat baik padaku. Susan yang secantik itu bahkan belum pernah kulihat berkencan dengan pria setampan Sato. Paling tidak, ini membuktikan pada Ibu, bahwa aku tak sejelek yang ia katakan.

Aku segera berbenah. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sudah berjanji mentraktir Susan, Tris, dan beberapa teman kantor. Teman-teman yang kusangka tak akan pernah kumiliki. 

Aku menoleh ke meja tamu. Ah, malangnya aku. Buket besar mawar merah cantik dari Sato terlihat mengenaskan di hari ini.

                                                                                         cerita selanjutnya >>

penulis: Inawati


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?