
Foto: Pexels
Salah satu yang mendorong angka lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia beberapa minggu terakhir adalah karena munculnya banyak varian baru corona. Saat ini WHO telah mengklasifikasikan varian COVID-19 sebagai Varian on concern (VOCs) dan Varian of interest (VOIs). Dimana VOCs meliputi Varian Alpha (UK), Beta (Afrika Selatan), Gamma (Brazil), dan Delta (India). Sedangkan VOIs meliputi Varian Epsilon, Iota (USA), Zeta (Brazil), Theta (Philipina), Kappa (India).
Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Pasar Kemis, dr. Wita Prominensa, MARS., SpPK mengatakan bahwa varian yang sedang menjadi perhatian saat ini adalah 2 varian yang diketahui berasal dari India yakni: B.1.617.2. (Delta) dan B.1.617.1 (Kappa).
“Awalnya varian Alpha merupakan yang terbanyak 86% dengan fatality rate 1.9%, dilanjutkan Delta 12.9%, lalu Beta 0.4% dengan fatality rate 1.4%. Walaupun fatality rate Delta menetap 0.1% dalam 28 hari, namun pada kasus traveller yang riwayat perjalanannya tidak terdeteksi ternyata lebih cepat menyebar yaitu sebesar 11.3% dibandingkan Kappa 10.8% dan Alpha 8%,” jelas dr. Wita.
Menurut dr. Wita transmisi penularan SarsCov-2 varian baru ini dapat terjadi melalui 3 jalur yaitu pertama, Inhalasi dimana droplet dan partikel aerosol yang terhirup mengandung virus (airborne). Kedua, Deposisi yaitu melalui droplet dan partikel yang dikeluarkan melalui percikan seperti batuk, bersin, dan berbicara. Ketiga, Kontak yaitu sentuhan melalui tangan yang terkontaminasi cairan respirasi yang dikeluarkan (ekshalasi).
Keempat, yang masyarakat juga perlu waspadai adalah penularan melalui mata. Karena virus masuk bisa melaui udara atau tangan yang disentuhkan ke mata (menggosok mata). Bagian luar mata yang terdiri atas sel epitel kornea dan konjungtiva berkontak langsung dengan lingkungan luar sehingga dapat terkontaminasi melalui droplet dan aerosol dari individu yang terinfeksi virus Sars Cov-2.
“Kontak jarak dekat dalam 1 meter saat bernapas maupun proses inokulasi (pemindahan media) berisiko untuk terjadinya transmisi virus melalui mulut, hidung, maupun mata,” jelas dr. Wita.
Itu sebabnya menjaga jarak menjadi salah satu langkah terbaik untuk menghindari serangan virus COVID-19 varian baru. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan jarak interaksi 1.8 meter dapat meminimalisir transmisi virus COVID-19 varian baru. (f)
Baca Juga:
5 Tip Menjaga Kesehatan Anak di Tengah Potensi Gelombang Kedua COVID-19
Menjalani Isolasi Mandiri, Perhatikan 13 Hal Ini
Efek Vaksinasi COVID-19 pada 4 Varian Baru Virus Corona di Indonesia
Faunda Liswijayanti
Topic
#corona, #covid19



