
Foto: Fotosearch
Kanker tampaknya masih menjadi momok kesehatan paling ditakuti dan masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Data Kementerian Kesehatan RI mengungkap pada tahun 2012 terdapat 8,2 juta kematian yang disebabkan berbagai jenis kanker, terutama kanker paru, hati, perut, usus besar, dan payudara.
“Setidaknya 1 dari 8 wanita terdiagnosa kanker payudara,” ujar Shanti Persada, penyintas kanker dan pendiri komunitas gerakan sosial pejuang kanker Lovepink.
Baca: Inilah Penyebab Kanker Payudara
Minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pendeteksian dini kanker payudara menjadi penyebab penanganan yang terlambat. Data Rumah Sakit Kanker Dharmais mencatat bahwa 60-70% pasien kanker payudara baru melakukan tindakan pengobatan saat sudah memasuki tahap lanjut, yakni 44 persen saat sudah stadium III dan 32 persen pada stadium IV. Penanganan yang terlambat menyebabkan sel-sel abnormal kanker tersebar ke organ lain.
“Penyebaran kanker payudara biasanya sampai ke paru-paru, tulang, otak,” ujar spesialis bedah onkologi, Dr. Dradjat Ryanti Suardi, SpB(K)Onk. Sementara itu, data yang sama menunjukkan bahwa 98% pasien kanker payudara yang terdeteksi pada stadium awal dan segera mendapatkan pengobatan punya harapan hidup lebih tinggi.
“Sayangnya, masih banyak wanita yang belum menyadari pentingnya deteksi dini dan cara melakukannya,” ujar Shanti. Padahal, saat ini informasi mengenai cara periksa payudara sendiri (SADARI) mudah ditemui di berbagai kanal. Salah satunya, menggunakan aplikasi android Lovepink Breasties yang bisa Anda unduh gratis di app store. Bukan hanya memberikan informasi, aplikasi itu akan setia mengingatkan Anda untuk melakukan SADARI secara rutin.
Menurut survei lapangan yang dilakukan Lovepink, rata-rata pasien kanker harus mengantre minimal 1 bulan untuk mendapatkan penanganan dokter. Perlu kerja sama dari berbagai pihak untuk mewujudkan penanganan medis tepat waktu. Bukan hanya dari kesadaran diri pihak pasien saja, tetapi juga kesiapan pihak pemberi fasilitas kesehatan, mulai dari tingkat pertama seperti puskesmas, klinik, dokter praktek perorangan, hingga rumah sakit di tingkat lanjutan.
“Kami sedang mengusahakan sesuatu untuk memotong waktu tunggu. Salah satunya, berkoordinasi dengan pihak BPJS Kesehatan untuk menganalisis pola operasional yang selama ini membuat pasien menunggu lama,” pungkas Shanti. (f)
Baca juga: Belajar dari Pevita Pearce, Ini 10 Cara Cegah Kanker Payudara


