
Foto: Fotosearch
Gejala-gejala postpartum depression, menurut dr. Richard Budiman, Direktur Medik Sanatorium Dharmawangsa, sebetulnya sudah dapat terlihat sejak masa kehamilan. Ia mengingatkan, penting bagi suami untuk memahami kondisi dan riwayat kesehatan jiwa sang istri serta keluarga intinya. Lalu, ia juga harus menambah wawasan dan peka mengenali gejala-gejala depresi.
Gejala yang utama adalah penderita terlihat tertekan, kehilangan minat dan malas melakukan apa pun, serta merasa lemas tidak bertenaga. Selain itu, ada juga gejala penyerta, seperti susah tidur, susah berkonsentrasi, nafsu makan berkurang, dan libido menurun.
Biasanya, wanita hamil, terutama pada trimester ketiga, mengalami kesulitan tidur, tapi beda dengan susah tidur pada orang depresi. Pada orang depresi, susah tidur membuatnya gelisah dan ada keyakinan bahwa ia pasti akan susah tidur. Lama-kelamaan ia akan makin sulit tidur karena ada kecemasan berlebihan.
Saat seseorang mengalami dua gejala utama dan satu gejala penyerta selama dua minggu berturut-turut, kemungkinan besar ia mengalami depresi. Agar tidak sampai menjadi postpartum depression, dr. Richard menyarankan untuk segera membawa wanita hamil kepada psikolog atau psikiater. Demikian juga jika ia menunjukkan tanda-tanda itu setelah melahirkan.
Jangan anggap sepele postpartum depression, karena ini dapat memengaruhi kehidupan seluruh keluarga, terutama sang bayi. Pembiaran dapat berakibat fatal karena ada kemungkinan sang ibu memiliki dorongan untuk menyakiti dirinya sendiri dan menelantarkan bayinya. Kondisi psikologis ibu juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, baik secara mental maupun fisik.
“Jika kondisinya tidak parah, biasanya cukup dengan konseling dan terapi rutin saja. Namun, jika kondisinya parah, biasanya psikiater akan melakukan intervensi dengan memberikan obat yang harus dikonsumsi secara rutin. Memahami kondisi pasien yang hamil atau sedang menyusui, dokter biasanya akan memberikan obat yang aman bagi janin maupun bayi,” ungkapnya.
Pada postpartum depression yang sudah sangat parah, ada kemungkinan pasien perlu melakukan rawat inap. “Hal ini bertujuan agar pasien mendapat terapi yang intensif agar kondisinya dapat ditangani dengan optimal. Kalaupun harus dirawat, anaknya akan ditempatkan sekamar dengan dirinya untuk menjaga kelekatan. Ini juga bisa membantu proses pemulihannya. Tapi, tentu saja tetap harus dengan pemantauan dan pendampingan keluarga maupun perawat,” jelasnya.
Selain penanganan medis, pasangan dan keluarga juga perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan bagi penderita postpartum depression.
Beberapa hari pertama setelah melahirkan memang masa yang cukup kritis. Apalagi, orang cenderung salah mengartikan depresi dengan kelelahan. Dengarkan keluhan, isi hati, dan kegelisahan dirinya. Jangan memandangnya sebagai ibu yang buruk karena cenderung mengabaikan atau bersikap tidak suka terhadap bayinya. Jika ada permasalahan yang berat, tidak perlu disampaikan kepadanya karena ia sudah cukup tegang menghadapi perannya sebagai ibu.(f)
Gejala yang utama adalah penderita terlihat tertekan, kehilangan minat dan malas melakukan apa pun, serta merasa lemas tidak bertenaga. Selain itu, ada juga gejala penyerta, seperti susah tidur, susah berkonsentrasi, nafsu makan berkurang, dan libido menurun.
Biasanya, wanita hamil, terutama pada trimester ketiga, mengalami kesulitan tidur, tapi beda dengan susah tidur pada orang depresi. Pada orang depresi, susah tidur membuatnya gelisah dan ada keyakinan bahwa ia pasti akan susah tidur. Lama-kelamaan ia akan makin sulit tidur karena ada kecemasan berlebihan.
Saat seseorang mengalami dua gejala utama dan satu gejala penyerta selama dua minggu berturut-turut, kemungkinan besar ia mengalami depresi. Agar tidak sampai menjadi postpartum depression, dr. Richard menyarankan untuk segera membawa wanita hamil kepada psikolog atau psikiater. Demikian juga jika ia menunjukkan tanda-tanda itu setelah melahirkan.
Jangan anggap sepele postpartum depression, karena ini dapat memengaruhi kehidupan seluruh keluarga, terutama sang bayi. Pembiaran dapat berakibat fatal karena ada kemungkinan sang ibu memiliki dorongan untuk menyakiti dirinya sendiri dan menelantarkan bayinya. Kondisi psikologis ibu juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, baik secara mental maupun fisik.
“Jika kondisinya tidak parah, biasanya cukup dengan konseling dan terapi rutin saja. Namun, jika kondisinya parah, biasanya psikiater akan melakukan intervensi dengan memberikan obat yang harus dikonsumsi secara rutin. Memahami kondisi pasien yang hamil atau sedang menyusui, dokter biasanya akan memberikan obat yang aman bagi janin maupun bayi,” ungkapnya.
Pada postpartum depression yang sudah sangat parah, ada kemungkinan pasien perlu melakukan rawat inap. “Hal ini bertujuan agar pasien mendapat terapi yang intensif agar kondisinya dapat ditangani dengan optimal. Kalaupun harus dirawat, anaknya akan ditempatkan sekamar dengan dirinya untuk menjaga kelekatan. Ini juga bisa membantu proses pemulihannya. Tapi, tentu saja tetap harus dengan pemantauan dan pendampingan keluarga maupun perawat,” jelasnya.
Selain penanganan medis, pasangan dan keluarga juga perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan bagi penderita postpartum depression.
Beberapa hari pertama setelah melahirkan memang masa yang cukup kritis. Apalagi, orang cenderung salah mengartikan depresi dengan kelelahan. Dengarkan keluhan, isi hati, dan kegelisahan dirinya. Jangan memandangnya sebagai ibu yang buruk karena cenderung mengabaikan atau bersikap tidak suka terhadap bayinya. Jika ada permasalahan yang berat, tidak perlu disampaikan kepadanya karena ia sudah cukup tegang menghadapi perannya sebagai ibu.(f)
Topic
#babyblues


