Health & Diet
Radang Sendi atau Artritis Rematoid Meningkatkan Risiko Anemia

18 Jul 2016


Foto: Fotosearch

 
Banyak yang bilang bahwa penyakit Artritis Rematoid (AR) adalah penyakit orang yang berusia lanjut. Padahal, penyakit ini bisa menyerang siap saja, tidak mengenal usia dan jenis kelamin. Terutama nih, perempuan tiga kali lebih rentan terkena (AR) dibanding laki – laki.
 
Dampak AR sendiri sangat besar, tidak hanya berpengaruh pada fisik, juga penurunan kualitas hidup. AR menghambat pergerakan anggota tubuh dan tidak dapat sembuh 100% sehingga aktivitas fisik kita jadi terbatas. Seramnya, dapat menimbulkan komplikasi dengan penyakit lain. Cari tahu, yuk, tentang penyakit ini…
 
Apa itu AR?
Artritis rematoid merupakan salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada persendian. Penyakit autoimun timbul akibat kekebalan yang terlalu aktif sehingga menyerang zat dan jaringan tubuh sendiri.
 
Sistem kekebalan ini salah mengidentifikasi benda asing. Sel, jaringan, atau organ tubuh justru dianggap sebagai benda asing sehingga ‘berusaha dihancurkan’ oleh antibodi. Pada AR, sistem kekebalan menyerang sinovium, yaitu lapisan membran yang mengelilingi persendian sehingga muncul peradangan.
 
Peradangan ini, menurut ahli penyakit rematik, Prof. DR. Dr. Harry Isbagio, SpPD – KR Principal Investigator ACT UP, lambat laun menyebabkan kerusakan tulang dan tulang rawan, yang menyebabkan hilangnya fungsi sendi dan berujung pada cacat secara pelan-pelan (progresif). AR juga penyakit sistemik (melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan) yang menimbulkan risiko komplikasi dengan penyakit lain seperti osteoporosis atau anemia.
 
Faktor penyebab?
Hingga saat ini, belum diketahui dengan pasti penyebab timbulnya AR. Namun, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko kita mengidap AR, antara lain:
- Keturunan. Kemungkinan kita mengidap AR semakin besar apabila ada anggota keluarga yang pernah menderitanya AR.
- Jenis kelamin. Perempuan lebih besar risikonya menderita AR dibanding laki-laki, diduga karena perbedaan hormone seksual laki dan perempuan.
- Usia. Meski dapat terjadi pada umur berapa pun, paling sering rentan pada usia 20 – 40 tahun.
- Merokok, menyebabkan kekebalan tubuh menurun sehingga rentan mengidap penyakit.
 
Gejalanya?
Harry menyebutkan juga bahwa karakteristik AR adalah meradang secara kronis yang terasa sangat nyeri pada persendian, timbul pembengkakan, muncul benjolan kecil, juga pembengkokan sendi.
 
Sendi – sendi sering terasa kaku terutama pada pagi hari. Penderita sering merasa kesulitan melakukan hal-hal sederhana seperti berjalan atau memutar gagang pintu.
 
“Beberapa gejala awalnya seringkali ditandai dengan badan yang cepat lelah, demam, nafsu makan berkurang sehingga berat badan turun drastis,” lanjut Harry.
 
Harry mengungkapkan pentingnya mengenal tanda dan gejala AR sedini mungkin. Ada lebih dari berbagai jenis penyakit rematik yang gejalanya mirip satu dengan yang lain, sehingga sering AR dianggap sebagai nyeri sendi biasa dan tidak mencari pengobatan yang tepat.
 
“Jika tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat, penderita AR dapat mengalami  kelumpuhan dan kerusakan tulang,” kata Harry.
 
Memicu penyakit lain
Artritis rematoid juga meningkatkan risiko kita menderita juga penyakit:
- Anemia, karena sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah merah baru. Penderita pun mengalami kelelahan dan fatigue.
- Osteoporosis, kondisi tulang yang melemah dan rapuh.
- Carpal Tunnel Syndrome, bila AR terjadi pada pergelangan tangan, radangnya mempengaruhi saraf pada tangan dan jari – jari.
- Jantung. AR berisiko pula menyebabkan kekakuan dan penyimbatan pada arteri (pembuluh nadi).
- Sakit tenggorokan. Pada kasus – kasus tertentu, AR bisa menyerang sendi pada pita suara (cricoarytenoid) sehingga suara menjadi serak.
 
Penanganan
Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan AR seratus persen. Pengobatan yang ada, menurut Harry, hanya untuk mengurangi nyeri dan peradangan, menghentikan kerusakan sendi, memperbaiki fungsi sendi, dan membuat pasien nyaman.
 
“Pengobatan ini dapat mencegah munculnya rasa sakit dalam jangka waktu tertentu. Artinya, AR tetap dapat muncul sewaktu-waktu,” kata Harry lagi.
 
Pengobatan AR saat ini dapat dilakukan dengan cara:
- Obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID): Obat ini untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada sendi. Misalnya, ibuprofen atau naproxen
- Obat pemodifikasi penyakit AR tradisional (DMARD): Obat untuk memperlambat kerusakan sendi. Contoh: DMARD tradisional (seperti methotrexate) atau DMARD Biologis (rituximab atau tocilizumab)
- Lakukan terapi supaya persendian kita tetap fleksibel. Tapi, konsultasikan dulu ke dokter tentang terapi yang tepat.
- Jika obat-obatan masih gagal menghalangi atau memperlambat AR, dokter bisa mempertimbangkan dilakukan operasi ‘memperbaiki kerusakan’, guna  mengurangi rasa sakit.
 
Yang penting, Harry menambahkan, jangan tunggu sampai parah bila sudah mengalami gejala – gejala AR. Segera pergi ke dokter untuk memastikan jenis penyakit yang diderita langkah – langkah pengobatan. Pengobatan AR secara dini dengan obat dapat memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah kerusakan sendi.
 

Bedakan!
Meskipun sama – sama radang sendi, Artritis Rematoid dan Osteoartritis adalah dua kondisi yang beda. AR merupakan penyakit ketika kekebalan tubuh menyerang jaringan yang masih sehat, menyebabkan peradangan kronis yang umumnya terjadi pada rentang usia produktif.
 
Sedangkan osteoartritis lebih sering terjadi pada pasien berusia lanjut berupa kerusakan dan keausan tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan pergerakan tulang.(f)


Topic

#ArtritisRematoid

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?