Health & Diet
Ini Cara Tepat Menangani Luka Ringan dan Berat

8 Nov 2016


Foto: Fotosearch.com


 
Sebagian besar luka terjadi di lingkungan yang terkontrol, seperti di rumah. Luka yang terjadi di rumah relatif bersih dan tidak dalam, karena bukan akibat benturan keras. Sehingga, pasien dengan jenis luka seperti itu tidak perlu dibawa ke rumah sakit, karena bisa ditangani sendiri dengan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan).  

Penanganan pertama yang benar sangat krusial untuk menghindari infeksi di kemudian hari. Itu sebabnya, penting menyediakan kotak P3K di mobil, rumah, maupun lingkungan kerja dan sekolah. Kotak P3K minimal berisi plester, kasa steril, larutan antiseptik, salep antibiotik, salep luka bakar, pembalut dan plester adhesive, kompres dingin, obat penahan nyeri, gunting dan pinset, serta buku panduan penanganan cedera.

Pertolongan pertama yang bisa dilakukan di rumah bila terjadi perlukaan yaitu HCT. Ini istilah yang meliputi:  ‘hentikan perdarahan’, ‘cuci luka’, dan ‘tutup luka’. ‘Hentikan perdarahan’ bisa dilakukan dengan cara menekan luka menggunakan kain bersih (balut tekan).

Lalu, bagian yang berdarah diposisikan lebih tinggi dari jantung agar aliran darah pada luka melambat sehingga memudahkan terjadinya pembekuan darah. “Bila luka dinilai cukup dalam dan perdarahan tetap merembes, jangan tunggu perdarahan berhenti. Segera bawa ke rumah sakit setelah dilakukan balut tekan,” saran anggota Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), dr. Wishnu Pramudito D.P, Sp.B, .    

Cuci luka’ cukup dibersihkan dengan air bersih mengalir dan setelah itu dikeringkan. “Jadi, pengolesan  kecap, odol, atau minyak pada luka bakar ringan adalah mitos, penanganan luka yang salah, karena justru menyebabkan luka terkontaminasi,” cetus dr. Wishnu.

Setelah luka selesai dibersihkan, selanjutnya lakukan ‘tutup luka’ menggunakan penutup luka seperti plester. “Jangan menutup luka dengan kapas karena akan menempel pada luka dan menjadi benda asing di luka,” saran dr. Wishnu. Anda bisa menggunakan kasa. Namun, bila tidak ada kasa, gunakan kain bersih, pembalut wanita yang bersih, atau plastic cling wrap.  
Selanjutnya, dr. Wishnu menambahkan, tidak semua luka robek atau sayat membutuhkan tindakan penjahitan. Jenis luka seperti itu hanya perlu dibersihkan, lalu merapatkan bagian tepi luka menggunakan beberapa plester melintang dari garis luka sehingga luka dapat menutup rapat tanpa perlu dijahit.

Nah, untuk melihat serius tidaknya luka, Anda harus mengetahui lebih dulu  mekanisme terjadinya luka. Bila mekanisme perlukaan terjadi karena benturan akibat energi tinggi, seperti terlempar, orang dengan luka seperti itu harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh. “Cedera organ multiple yang tersembunyi bisa menjadi salah satu penyebab kematian,” kata dr. Wishnu.   

Begitu juga bila luka yang terjadi adalah luka kotor, luka tusukan oleh benda kotor, luka bakar yang luas, atau mekanisme perlukaan yang berat. Luka seperti itu memerlukan penanganan kesehatan primer ataupun lanjutan. Penanganannya bergantung pada parah tidaknya luka. Selanjutnya, akan ada tindakan penilaian maupun pemberian obat untuk mencegah munculnya komplikasi, seperti infeksi tetanus.

Komplikasi luka yang terjadi bisa ringan hingga berat. Untuk komplikasi yang ringan, biasanya berupa bentuk luka yang kurang baik saat sembuh. Komplikasi yang terberat tentu saja kematian. Komplikasi berat sering kali disebabkan oleh luka dengan infeksi  berat, luka yang disertai cedera organ multiple. Hal ini biasanya disertai perdarahan serius yang bisa mengancam jiwa. (f)
 
 


Topic

#manajemenluka

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?