
Foto: Shutterstock
Studi yang dilakukan oleh pemerintah pada Maret lalu menyebutkan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia telah mengembangkan antibodi COVID-19. Seperti dikutip dari Straits Times, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada Senin (18/4/2022) menjelaskan setidaknya sekitar 99,2 persen populasi dalam studi memiliki antibodi terhadap virus corona. Antibodi ini terbentuk baik karena vaksinasi maupun infeksi yang terjadi di masa lalu.
Menurut Budi, hasil studi ini lebih tinggi dari yang sebelumnya dilakukan pada Desember 2021. Saat itu tingkat populasi yang tercatat memiliki antibodi sekitar 87 persen.
Selain itu, Pandu Riono, ahli epidemiologi Universitas Indonesia yang turut serta dalam survei bersama Kementerian Kesehatan mengatakan pada Reuters bahwa tingkat antibodi dalam survei terbaru lebih tinggi karena peluncuran booster yang lebih luas sehingga penerima memiliki perlindungan yang lebih kuat. Antibodi yang lebih kuat ini dapat menjelaskan pula mengapa tingkat penurunan infeksi varian Omicron lebih cepat di Indonesia.
Seiring dengan membaiknya COVID-19, pemerintah Indonesia mulai melonggarkan berbagai aturan seperti karantina dan juga pembatasan wilayah. Tren penurunan kasus dan membaiknya kondisi kasus COVID-19 juga disampaikan Juru Bicara Vaksinasi COVID-19, Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ketahanan kesehatan Indonesia selama pandemi berjalan dengan baik.
Kondisi perbaikan kasus COVID-19 di Indonesia ini tentunya tak lepas dari peran aktif pemerintah serta partisipasi masyarakat untuk melakukan vaksin. Data dari Satgas COVID-19 per tanggal 18 Maret 2022 menunjukkan kalau total masyarakat yang telah divaksin dosis 1 sudah mencapai 198.288.035 dosis atau 95.21% dari target vaksinasi COVID-19 sebesar 208.265.720 orang. Sedangkan total vaksinasi dosis 2 sudah mencapai 162.951.633 dosis (78.24%) dan untuk booster atau vaksinasi Dosis 3 mencapai 31,554,788 dosis (15.15%).
Sementara itu Menteri Budi juga menyarankan agar masyarakat menahan diri dulu untuk tidak bepergian ke luar negeri untuk menghindari paparan subvarian virus corona lainnya yang saat ini menyebar di negara lain. Sedangkan untuk mengantisipasi lonjakan kasus yang biasanya terjadi pasca liburan, apalagi ini menjelang libur Lebaran, mulai 29 April hingga 6 Mei 2022, pemerintah mewajibkan masyarakat yang melakukan mudik untuk melakukan vaksinasi COVID-19 lengkap dan booster sebelum melakukan perjalanan mudik ke berbagai daerah.
Pemudik juga diminta untuk mengisi eHAC atau electronic-health alert card di PeduliLindungi sebagai syarat melalukan perjalanan mudik di seluruh moda transportasi, mulai dari transportasi darat, laut, dan juga udara. Untuk pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, pemeriksaan akan dilakukan secara acak. Tapi tentu saja akan lebih baik bila eHAC ini tetap diisi sebagai bentuk tangung jawab bersama untuk menghindari lonjaku kasus COVID-19.
Ingat juga untuk selalu menerapkan protokol kesehatan meski kasus corona sudah mulai melandai. Tetap disiplin menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan sebab kita tak pernah tahu kapan tertular atau menulari virus corona ke orang lain. (f)
Baca Juga:
Efek Panjang COVID-19 Pada Pernapasan
Ayo Vaksin Booster, Beri Perlindungan Risiko Terburuk COVID19 Hingga 91 Persen
COVID-somnia, Gangguan Tidur yang Mengintai Kesehatan Mental
Topic
#covid19, #corona, #antibodi, #pandemi


