
Foto: Fotosearch
Saat ini, Bareskrim Polri sedang mengusut terbongkarnya jaringan kasus vaksin palsu di Tangerang Selatan. Sebanyak 15 orang sudah ditetapkan menjadi tersangka, dari mulai pengedar hingga pembuat. Vaksin palsu diduga telah beredar di lima provinsi, di antaranya Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Sebelum panik berlebihan, berikut 10 fakta yang perlu kita pelajari dari kasus ini.
1/ Di Jakarta, ditengarai ada empat rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu ini dan dua apotek yang menjualnya. Para tersangka mengaku praktik pembuatan vaksin palsu sdh berlangsung lama, yakni tahun 2003.
2/ Vaksin palsu yang telah ditemukan, antara lain: BCG, Hepatitis B, Polio, Tetanus & Campak. Semuanya adalah vaksin rutin untuk anak.
3/ Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan, bagi mereka yang sudah terlanjut mendapatkan vaksin palsu, diduga dampaknya tidak terlalu membahayakan. Menurut Nila, vaksin palsu tersebut tidak akan menyebabkan kematian lantaran dosis diberikan dalam jumlah kecil. Nila menduga vaksin palsu itu hanyalah cairan infus. Sehingga ketika vaksinasi dilakukan, cairan yang meresap hanya berada di bawah kulit. Nila mengatakan balita yang mendapatkan vaksin palsu tidak memiliki kekebalan tubuh, sehingga perlu dilakukan vaksin ulang agar memiliki kekebalan tubuh.
4/ Himbauan dari Menteri Kesehatan, para orangtua agar tetap mengikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu dan puskesmas. Jika ada bayi yang diduga disuntik dengan vaksin palsu, maka Menkes meminta agar bayi divaksin ulang agar mendapatkan kekebalan yang lengkap.
5/ Menurut pihak Kementrian Kesehatan, diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
6/ Dikabarkan vaksin palsu itu menggunakan botol bekas vaksin yang kemudian diisi campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC, lalu diberi label. Cairan lainnya yang dipakai sebagai oplosan adalah cairan infus dengan vaksin tetanus. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.
7/ Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbul infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.
8/ Kasus vaksin palsu tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal ini juga terjadi di Eropa, Amerika, Afrika dan negara-negara Asia (misalnya Tiongkok). Menurut perkiraan ahli vaksin, dr. Dirga Sakti Rambe, MSc-VPCD, kasus vaksin palsu di Indonesia ini hanya produksi rumahan, bukan industri besar.
9/ Untuk menguraikan penyebab terjadinya kasus vaksin palsu cukup rumit. Harus ditelurusi dari hulu ke hilir. Mengapa ada yang memproduksi vaksin palsu? Dokter Dirga mengatakan, karena vaksin ini demand-nya tinggi dan harganya mahal. Salah satu motifnya adalah karena harga vaksin asli yang relative mahal sehingga ada yang tergoda untuk membuatnya dan menjualnya kembali dengan harga miring. Soal harga, sebetulnya tak bisa jadi patokan. Vaksin palsu ternyata dijual dengan harga yang hampir sama dengan vaksin asli.
10/ Apa dampak dari pemberian vaksin palsu? Menurut tergantung dari zat yang digunakan pembuatnya. Menurut tersangka, mereka mencampurkan cairan infus dan antibiotika. Dengan cara yang tidak steril. Akibat terberat adalah infeksi sistemik. Infeksi sistemik ditandai dengan demam tinggi, laju nadi cepat, napas cepat, leukosit meningkat dan bisa sampai penurunan kesadaran. “Bila anak Anda terakhir kali vaksinasi 2 minggu lalu dan tidak muncul gejala tersebut, kemungkinan aman. Tidak perlu khawatir berlebihan,” jelas Dirga. Dampak keamanan jangka panjang? "Belum diketahui, tergantung hasil analisis yang dilakukan Pusat Laboratorium Forensik Polri dan BPOM." (f)




