
Foto: 123RF
Endometriosis pernah disebut-sebut sebagai penyakit wanita produktif usia 30-an. Namun, dari berbagai penelitian terbaru diketahui bahwa endometriosis bisa terjadi pada wanita produktif, berapa pun usianya. Di Indonesia belum ada angka pasti, tapi diperkirakan sekitar 10%-20% wanita menderita endometriosis. Nyatanya, angka tersebut terus meningkat tiap tahun. Gawatnya, Global Study of Women’s Health (GSWH) tahun 2012 di Inggris menemukan, endometriosis rata-rata terlambat diketahui hingga 7 tahun sampai akhirnya penderita memeriksakan diri dan diobati. Dengan kemajuan pengobatan terbaru, harapannya angka keterlambatan ini bisa dikurangi.
Ditandai Sakit Menstruasi
Endometriosis pada dasarnya adalah inflamasi atau peradangan yang kemudian akan menimbulkan perlengketan pada organ tertentu, terutama pada organ reproduksi. Endometriosis juga bisa terjadi pada organ tubuh lain, seperti pada lapisan luar usus halus dan usus besar, ureter (saluran penghubung ginjal dengan kandung kemih), kandung kemih, vagina, bahkan paru-paru.
Penyebabnya bisa datang dari mana saja. Peneliti di Yale School of Medicine menemukan, dari 150 wanita usia produktif yang terkena endometriosis, sekitar 31% disebabkan oleh mutasi gen secara genetis, yaitu diwariskan oleh orang tuanya.
Selain itu, menurut dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) dari Omni Hospitals, faktor hormonal dan lingkungan juga berpengaruh. Oleh karena itu, meskipun sudah menerapkan gaya hidup sehat, seseorang bisa saja tetap terkena endometriosis.
Gejala yang paling terlihat adalah rasa nyeri yang hebat saat haid pada area perut bagian bawah. “Awal terkena endometriosis, pasien akan merasakan nyeri hanya ketika sedang menstruasi. Tetapi, ketika sudah bertambah parah, rasa nyeri akan terus timbul,” ujar dr. Caroline. Jika endometriosis terjadi pada paru-paru, jika penderita sedang datang bulan, ia bisa batuk mengeluarkan darah. Berbeda lagi ketika endometriosis menyerang otak, pasien akan mengalami kejang-kejang saat menstruasi.
Dahulu, endometriosis diduga hanya dialami oleh wanita berusia di atas 30 tahun dan belum memiliki anak. Namun, berdasarkan pengalaman, dr. Caroline menemukan, saat ini banyak juga kasus endometriosis terjadi pada remaja wanita usia antara 12-15 tahun yang belum menikah. Menurut dr. Caroline, polutan seperti bahan pengawet, boraks, dan residu pestisida dalam bahan makanan sebagai salah satu yang bisa merangsang pertumbuhan endometriosis.
Selain menimbulkan rasa sakit, endometriosis juga membuat penderitanya sulit hamil. “Endometriosis yang terjadi pada saluran indung telur membuat saluran itu jadi mampet. Akibatnya, sel telur tidak bisa bertemu dengan sel sperma. Endometriosis yang menyerang bagian ini akan menyebabkan perubahan anatomi organ reproduksi hingga menyebabkan menopause dini,” ujar dr. Caroline, yang memiliki subspesialis fertility dan hormon reproduksi.(f)
Ditandai Sakit Menstruasi
Endometriosis pada dasarnya adalah inflamasi atau peradangan yang kemudian akan menimbulkan perlengketan pada organ tertentu, terutama pada organ reproduksi. Endometriosis juga bisa terjadi pada organ tubuh lain, seperti pada lapisan luar usus halus dan usus besar, ureter (saluran penghubung ginjal dengan kandung kemih), kandung kemih, vagina, bahkan paru-paru.
Penyebabnya bisa datang dari mana saja. Peneliti di Yale School of Medicine menemukan, dari 150 wanita usia produktif yang terkena endometriosis, sekitar 31% disebabkan oleh mutasi gen secara genetis, yaitu diwariskan oleh orang tuanya.
Selain itu, menurut dr. Caroline Tirtajasa, Sp.OG (K) dari Omni Hospitals, faktor hormonal dan lingkungan juga berpengaruh. Oleh karena itu, meskipun sudah menerapkan gaya hidup sehat, seseorang bisa saja tetap terkena endometriosis.
Gejala yang paling terlihat adalah rasa nyeri yang hebat saat haid pada area perut bagian bawah. “Awal terkena endometriosis, pasien akan merasakan nyeri hanya ketika sedang menstruasi. Tetapi, ketika sudah bertambah parah, rasa nyeri akan terus timbul,” ujar dr. Caroline. Jika endometriosis terjadi pada paru-paru, jika penderita sedang datang bulan, ia bisa batuk mengeluarkan darah. Berbeda lagi ketika endometriosis menyerang otak, pasien akan mengalami kejang-kejang saat menstruasi.
Dahulu, endometriosis diduga hanya dialami oleh wanita berusia di atas 30 tahun dan belum memiliki anak. Namun, berdasarkan pengalaman, dr. Caroline menemukan, saat ini banyak juga kasus endometriosis terjadi pada remaja wanita usia antara 12-15 tahun yang belum menikah. Menurut dr. Caroline, polutan seperti bahan pengawet, boraks, dan residu pestisida dalam bahan makanan sebagai salah satu yang bisa merangsang pertumbuhan endometriosis.
Selain menimbulkan rasa sakit, endometriosis juga membuat penderitanya sulit hamil. “Endometriosis yang terjadi pada saluran indung telur membuat saluran itu jadi mampet. Akibatnya, sel telur tidak bisa bertemu dengan sel sperma. Endometriosis yang menyerang bagian ini akan menyebabkan perubahan anatomi organ reproduksi hingga menyebabkan menopause dini,” ujar dr. Caroline, yang memiliki subspesialis fertility dan hormon reproduksi.(f)
Topic
#endometriosis


