Health & Diet
Efek Samping Penggunaan Inhaler pada Pasien Asma, Tingkatkan Risiko Serangan yang Lebih Parah

15 May 2023


Foto: Dok. Shutterstock


Studi Global Burden of Disease (GBD) pada tahun 2019, diperkirakan ada 262 juta orang yang terdampak asma di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2020, asma merupakan salah satu jenis penyakit yang paling banyak diidap oleh masyarakat Indonesia. Hingga akhir tahun 2020, jumlah penderita asma di Indonesia sebanyak 4,5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia atau sebanyak 12 juta lebih. 

Asma bisa menyerang orang-orang tanpa mengenal usia dan seringkali dimulai sejak masa kanak-kanak. Bisa juga terjadi setelah seseorang dewasa karena beberapa faktor, seperti obesitas, stress yang berlebihan, pola hidup dan lingkungan yang tidak sehat.

Asma merupakan kondisi kronis alias jangka panjang dan sifatnya kambuhan. Jenis penyakit ini ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran pernapasan yang mengakibatkan sesak (sulit bernapas). Selain membuat pengidapnya sulit bernapas, asma juga bisa menimbulkan gejala lainnya seperti mengi, batuk-batuk, dan nyeri dada. Sampai saat ini, asma belum bisa disembuhkan sama sekali. 

Selama lebih dari 50 tahun, penggunaan inhaler pelega SABA telah menjadi lini pertama dalam terapi asma yang dipercaya dapat mengendalikan penyakit. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan data yang berbeda. Dimana ketika pasien asma terlalu sering menggunakan atau terlalu bergantung pada inhaler pelega SABA, mereka justru berisiko tinggi mengalami serangan asma, dirawat di rumah sakit, hingga kematian. 

Laporan strategi GINA (Global Initiative for Asthma) tahun 2019-2022 menunjukkan bahwa penggunaan inhaler pelega SABA secara rutin, bahkan hanya dalam 1-2 minggu, justru kurang efektif, dan menyebabkan lebih banyak peradangan pada saluran napas, serta dapat mendorong kebiasaan buruk penggunaan secara berlebihan. 

Sayangnya Indonesia, masi menjadi salah satu negara yang masih cukup banyak meresepkan penggunaan inhaler bagi penderita asma. Salah satunya studi SABINA (SABA Use in Asthma), menunjukkan bahwa 37% pasien asma di Indonesia diresepkan inhaler pelega short-acting beta-agonist (SABA) ≥3 kanister per tahun. Di mana jumlah resep tersebut justru dapat meningkatkan risiko serangan asma yang lebih parah.

Menurut Dr. H. Mohamad Yanuar Fajar, Sp.P, FISR, FAPSR, MARS, Dokter Spesialis Paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia pasien asma di Indonesia cenderung menggunakan inhaler pelega SABA dibandingkan dengan inhaler dengan kandungan ICS (Anti-inflamasi melalui inhaler) karena SABA dirasakan dapat memberi efek lega secara cepat, dan telah menjadi lini pertama terapi asma sejak lama. 

“Saat ini, pengobatan asma dengan hanya menggunakan inhaler pelega SABA tidak lagi direkomendasikan, karena SABA tidak mengatasi peradangan yang mendasari asma. Sebagai gantinya, pasien asma harus mendapat pengobatan yang mengandung ICS (antiradang/anti inflamasi), contohnya kombinasi ICS-Formoterol, untuk mengurangi risiko serangan asma. Pasien asma dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memastikan kondisi asma terkontrol dan mendapatkan tindakan yang tepat, bukan hanya mencari pengobatan instan saat serangan asma muncul," ungkap Dr. Mohammad Yanuar di sela-sela acara alk show bertajuk "Stop Ketergantungan: Inhaler Tepat, Redakan Asma”. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Eva Susanti, S.Kp, M.Kes, mengatakan, ”Banyak pasien asma di Indonesia yang masih mengalami serangan, yaitu sebanyak 57,5%, (Riskesdas 2018). Kami sepenuhnya mendukung inisiatif yang sejalan dengan tujuan pemerintah, yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan kebiasaan hidup masyarakat.” 

Walaupun asma sulit untuk dicegah, karena penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa upaya yang bisa dilakukan, seperti dikutip dari laman kemenkes.co.id, yaitu:  

  1. Menjalani pengobatan asma yang telah ditentukan oleh dokter, termasuk mengkonsumsi obat-obatan untuk asma secara rutin dan sesuai petunjuk dokter.
  2. Vaksinasi flu dan pneumonia secara teratur.
  3. Mengenali pemicu munculnya gejala asma dan menghindarinya.
  4. Mewaspadai timbulnya gejala asma, seperti batuk, mengi, atau sesak napas.
  5. Menangani gejala asma sedini mungkin dengan mengonsumsi obat-obatan atau menghentikan aktivitas yang dapat memicu serangan.
  6. Melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter bila pengobatan tidak juga mampu meredakan gejala.
  7. Menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga dalam intensitas ringan secara teratur, dan tidak merokok.
  8. Menurunkan berat badan bila menderita obesitas.
  9. Mengelola stres dengan baik.

Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mempromosikan kualitas hidup yang sehat bagi para penyandang asma lewat kampanye 'Stop Ketergantungan' pada inhaler pelega SABA. Salah satu langkah nyata yang dilakukan lewat kampanye ‘Stop Ketergantungan’ adalah tes ketergantungan pelega, yang dapat dibuka di www.stopketergantungan.id untuk menilai tingkat ketergantungan pasien terhadap inhaler. Dengan mengikuti tes yang telah diadaptasi dari Kuesioner Risiko SABA yang telah divalidasi ini, pasien asma akan memahami risiko dan kecenderungan ketergantungan yang berlebihan terhadap SABA, sehingga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional untuk menentukan langkah selanjutnya dalam pengobatan dan penanganan asma yang mereka butuhkan. (f) 


Baca Juga: 
Bahaya Pholcodine, Kandungan Dalam Sirup Obat Batuk yang Ditarik di Australia
Memasuki Musim Pancaroba, Perkuat Daya Tahan Tubuh Saat Berpuasa dengan Tip Sehat Ini
Rambu-rambu Swamedikasi di Rumah


Faunda Liswijayanti


Topic

#asma, #inhaler

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?